SUAMI KARDUS 4

Berubah

W.Hermawan - Masalah istirahat untuk tiga minggu belum terpecahkan, akhirnya saya siasati karena kami berdua mengampu mata pelajaran yang sama, untuk tiga minggu ke dapan saya yang mengajar, di bantu beberapa teman yang dengan senang hati karena di bayar menggantikan.

Tiga minggu berjalan dengn baik di tempat kerja, selanjutnya istri tinggal bersama ibu dan ayahnya. Tapi skema ini hanya berjalan beberapa hari saja ia mengeluh ingin pulang ke rumah. Sudah ku bilang jika di rumah tak ada yang mengurusi tapi ia tetap bersikukuh, padahal sebelum hamil ia tidak pernah merengek begini. Tiga minggu beralu dengan penuh perjuangan, ya perjuangan menanyakan makan bubur atau makan nasi kalau bubur mau tukang bubur yang mana, kalau nasi lauknya mau apa, ini semua tak pernah ia minta sebelum hamil.

Memasuki bulan ke dua. Mendadak istri minta mengontrak di dekat sekolah tentu alasannya demi keamanan si jabang bayi. Tiga  bulan pertam sama sekali istri tak diijinkan menyentuh pekerjaannya semua ku urus alakadarnya ia hanya perlu berangkat ke sekolah dan mengajar untungnya murid murid istri baik dan pengertian, istri tak pernah mereka ijinkan naik tangga, saat jadwal istri mengajar anak anak akan faham dan pindah ke perpus, ini untuk kelas di lantai dua atau tiga.

Semua sudah di urus namun masih ada setiap harinya yang kurang. Hal yang menjadi penting saat ini adalah bagaimana saya memastikan istri makan. Bulan ke dua masih saja sulit makan, pernah satu hari ia meminta lontong di pedagang tahu susu itu pagi sekali, sumpah rasanya senang sekali akhirnya tak perlu ku tanya ia meminta, segera ku starter kuda besi berna ma Okto, di jalan baru  teringat pedagang tahukan biasanya buka jam tujuh lebih, sedangkan ini baru jam enam, pantang pulang sebelum lontong di tangan. 

Akhirnya saya menemukan pedangang yang sedang membuka tokonya saya tunggu sampai lontong tersuguh, tatapan pedagng seperti bingung melihat ada manusia sepagi ini sudah berdiri mentereng di depan toko dan yang di tanyakan lontong bukan tahu. Jadi memang di daerah Kuningan Jawa Barat terkenal dengan tahu susu nah menikmatinya biasanya dengan lontong, tapikan ini toko tahu buan toko lontong. Lontong sudah di genggaman dibeli agak banyak siapa tahu makannya lahap. Sampaliah di kontrakan segera saya sodorkan kepalan tangan berisi lontong yang tadi ia pesan, wajahnya gembira sekali namun itu hanya dua menit pada gigitan ketiga mukanya sudah pucat menahan mual, ok yang lahap dan musti bertanggung jawab saya sebagai suaminya "sepertinya kau yang hamil aku yang bengkak." walaupun hal demikian tidak terjadi setiap pagi namun dalam setiap paginya ada permintaan yang sedikit aneh seperti minta tukang bubur yang jauh dari kontrakan atau minta di carikan peda merah tapi sekali lagi kita tertawa.

Drama itu kini bertambah waktu, yang awalnya hanya pagi hari kini jadi ada bagian malam. saya tak menyangka ternyata Ngidam bisa semenarik ini bisa seromantis ini, bisa secape ini para suami di luar sana pasti pernah merasakannya, untuk yang baru berencana persiapkan sematang mungkin. Hal-hal seperti ini tidak pernah saya duga sebelumnya, saya juga tidak menyalahkan istri saya,mungkin saya kurang membaca. Malam itu istri minta di belikan Cap cay, makanan dari kumpulan sayuran yang di masak oleh tukang masak biasanya di tawarkan juga di tukang nasi goreng kaki lima, jadi tak perlu bingung, namun nyatanya hari itu lima tukang nasi goreng yang kudatangi sudah tak menjual Cap cay, setelah kurang lebih dua puluh kilo meter mengendarai sepedah motor akhirnya jumpa dengan abang Nasgor yang menjual Cap cay. Cap cay di bungkus, sampai di rumah seperti tadi hanya dua sendok makan hem kesal itu pasti tapi pejuang tak pernah meminta tercatat sebagi pahlawan biar waktu yang membuktikan.

Satu hari sebelum besok tanggal satu di bulan ke dua kami mengontrak, segera saya menemui bapak pemilik kontrakan untuk membayar kontrakan satu bulan ke depan. Malam berganti pagi saya melihat istri menangis tersendu sendu di pagi hari saya bingung,

"ada apa sayang?"

"aku tak bisa tidur semalaman ini, kau enak mendengkur," glek saya menelan ludah sepertinya saya kembali salah

"lantas apa yang kakanda dapat perbuat?" saya biasa bertingkah seperti ini jika istri sudah mencucu memonyongkan bibirnya sambil menggerutu sebenarnya ini pertanda jika saya kesal, ketimbang ikut terbawa emosi, mulut ingin juga teriak, aku lagi yang salah terus salah, tapi tak enak nanti di dengar jabang bayi di kira bapaknya baperan.

"aku mau pulang saja ke Rumah," 

"waduh, ini kosan baru di bayar rugi kita,"

" oh jadi tega istrinya tidak tidur lagi semalaman?"

"ok baik siang nanti kita pindah sekarang ke kantor dulu ya." puuh.. ini godaan macam apa lagi.

Siang harinya kami pulang ke rumah di antar ayah mertua, sampai di rumah ia senyam senyum sendiri seperti sudah lama tak jumpa, padahal baru satu bulan. Tidak ada begitu rasa rugi uang melayang begitu saja. Sekali lagi terkadang kita hanya perlu tersenyum.

Bersambung Cerbung 5

Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "SUAMI KARDUS 4"