Mewariskan kesenangan : Jalan-Jalan Melihat Kereta Api
Bagi banyak orang terutama mereka yang menempati pulau sumatera dan jawa sudah tidak asing lagi dengan layanan kereta API, begitupun dengan saya, sejak kecil dikota banjar patroman bagian dari hiburan yang sering keluarga kami lakukan adalah melihat kereta api dari atas jembatan layang kota banjar. Tahun-tahun itu perkreta apian belum serapih hari ini saya masih ingat sekitar tahun 1999an masih ada kereta jarak dekat yang tidak jauh dari rumah kami, ini menjadi salah satu transportasi menyenangkan dalam ingatan saya pribadi kami sekeluarga pernah berwisata dari desa kami ke kroya, kereta yang penuh padat menjadi cerita tersendiri, tidak ada no kursi dan bayarpun diatas kereta.
Momen ini begitu menempel di ingatan saya, bukan karena padatnya gerbong tapi lebih pada keceriaan banyak orang yang tergambar sederhana disekitar gerbong dan stasiun kereta api. Kegiatan ini juga ingin saya wariskan pada anak-anak saya. Tapi saya tidak lagi tinggal di kota banjar dan perubahan transportasi kereta api sudah jauh lebih baik dari tahun saya mengenang kereta api. Di tahun 2019 saya perpindah ke kota baru Garut ditempat saya tinggal saat ini jalur kereta api cukup jauh sehingga rencana itu belum bisa tersegerakan di tahun-tahun tersebut.
Tidak berselang lama, saya mendengar kabar baik, Garut membuka rute baru ke Bandung dan Jakarta. Yang lebih menarik, rel kereta apinya dibangun tidak jauh dari tempat tinggal saya sekarang. Suara kereta api kini jadi penanda pagi keluarga kecil kami, jika suara telah terdengan itu tandanya kami harus segera bergegas untuk berangkat kerja ataupun sekolah, dan biasanya suasana rumah semakin sibuk.
Kereta Pertama Untuk kaka dan teteh rute kota garut-purwakarta saya dan istri sepekat saat bulan puasa supaya gerbong tidak padat. Saat itu, usia kakak dua tahun dan teteh baru menginjak satu tahun. Kami sengaja memilih kereta api (KA) lokal agar perjalanan terasa lebih panjang. Tujuannya adalah untuk menikmati proses kereta langsir dan mengamati interaksi orang-orang yang naik turun di setiap stasiun."
Hari itu juga kami kembali ke Garut, ada peristiwa yang tidak akan saya lupakan bersama istri, kereta datang malam saya lupa tepatnya jam berapa. tapi energi kakak belum habis saya sudah sangat lelah mengejar kakak yang terus berlari di lorong gerbong kereta memang tidak sedang padat di satu gerbong hanya kami penumpang yang menuju garut. Saya dan istri sampai bingung harus bagaimana tiba-tiba lewat polsuska kami memutuskan meminta tolong untuk mengamankan kakak akhirnya kakak mereda dan tak lama terlelap tidur. Sejak hari itu kami sepakat untuk tidak dulu bepergian menggunakan kereta api sampai kakak berusia 6 atau 7 tahun.
Perjalanan kereta api tidak berhenti sampai situ, kini kakak dan teteh punya agenda baru liburan yaitu melihat kereta api melintas, ternyata kesenangan melihat kereta api tak hanya milik keluarga kami. hari minggu penyebrangan kereta api berubah menjadi pasar tumpah banyak orang datang hanya untuk melihat kereta api. Dari melihat kereta api berubah menjadi wisata keluarga rel kereta api, hari ini saya abadikan agar kelak saat kakak besar kaka ingat dan mewariskan ini juga pada ingatan selanjutnya.
Posting Komentar untuk "Mewariskan kesenangan : Jalan-Jalan Melihat Kereta Api"