SUAMI KARDUS 5
Liburan Di Hotel Putih
W-Hermawan - Sekarang kita sudah berada di rumah lagi. Jarak tempuh sekolah dan rumah memang cukup jauh, yang sekarang harus menjadi perhatian adalah bagaimana istri tetap sehat selama perjalanan. Udara akhir akhir ini terasa lebih dingin dari biasanya. Angin gunung Ciremai di malam hari sangat dingin. Malam ini aku ingin minum kopi sambil mengobrol dengan istri dan si jabang bayi yang ada di dalam perut. Kopi yang ku buat sedikit lebih pahit agar tidak mudah habis.
"Say," aku memulai percakapan "ya?" "Ingat tidak dulu kita pernah berencana menginap di hotel, ya sebagai pengganti bulan madu kita he..he," "ia aku ingat itu kita sudah survei hampir semua hotel di Kuningan, tapi ujung-ujungnya itu hanya cerita karena dompet kita tidak menginjinkan," "haha." Aku tertawa mengingat itu semua. "Sudah sekarang tidak usah lagi berharap bermesraan di Hotel, sudah ada bayi dalam perut yang perlu kita prioritaskan." Sergah istriku dengan segera.
Pagi itu cuaca benar-benar benar dingin, Istri mendapat kabar gembira dari gawainya tentang tunjangan yang akan cair. Karena istri sudah lama mengajar sebagai honorer ia berhak mendapatkan tunjangan fungsional. Beriringan dengan tunjangan tersebut beberpa berkas perlu di kumpulkan. ada beberapa berkas yang harus di urus segera salah satunya adalah buku tabungan, buku tabungan tersebut harus di buat di Kuningan. kami bergegas berangkat menuju Kuningan jarak tempuh kali ini cukup jauh berbeda seperti biasanya, saya perlu memutar mencari jalan yang lebih halus serta kecepatan yang sangat pelan.
Sampai juga di kota Kuningan, cuaca di sini lebih dingin ketimbang Cirebon, dua atau empat derajat lebih rendah. Jam menunjukan pukul 09.00 wib, kami rasa ini masih pagi, ternyata ratusan orang sudah berkumpul dan mengantri sejak pukul 07.00 wib pagi. Kami mendapat urutan 114, sedangkan urutan baru berjalan di angka puluhan. Karena tidak mau terlewat istri selalu terjaga akupun sama, untuk istri yang memiliki penyakit asma di sini sesak sekali sesekali istri keluar ruangan dan bergantian berjaga untuk sekedar menghirup udara segar, alih-alih mendapat udara segar ternyata di luar penuh dengan ahli hisap yang sedang asik bergerumul.
Waktu Istirahat tiba, kami belum juga mendapat giliran. Loket di buka kembali pukul satu semua orang terlihat sibuk. masalah mulai timbul saya melihat raut wajah istri yang mulai melemah, seperti gawai yang mulai kehabisan baterai. Sebisa mungkin kami makan dengan terus terjaga. Jam sudah menunjukan pukul tiga security bank sudah membalikan papan bertuliskan tutup, transaksi di dalam bank belum menunjukan selesai.
"say, masih kuat?" ia hanya menjawab dengan anggukan sambil bersandar pada bahu ku, orang-orang di sekelilingku sudah kasak kusuk melihat kami, seperti sedang melihat pasangan muda mudi sedang mesum di khalayak ramai.
Proses pembuatan rekening sudah selesai sambil tertatih-tatih istriku berusaha kuat, akhirnya dengan nada lirih ia berbisik pada telingaku "say aku tak sanggup jika harus naik motor pulang dari sini, boleh minta bantuan ayah untuk menjemput?" "Tentu boleh," jawab ku.
Kami kembali menunggu, istri sudah begitu susah payah saat bernapas satu jam berlalu akhirnya ayah dan ibu mertua datang terlihat mereka begitu khawatir melihat anaknya yang terlihat begitu lemas. Saat itu istriku masih berusaha kuat sehingga tak langsung di bawa ke rumah sakit, sementara istriku pulang ke rumah ayah dan ibunya, saya diminta untuk membereskan berkas di rumah agar semuanya cepat selesai, begitulah istri jika berbicara mengenai tugas dan tanggung jawab, selalu harus tepat waktu. Dulu saat saya masih di Mengajar di Malaysia saya memintanya untuk ikut beberapa waktu dan memintanya cuti, namun jawaban yang terima adalah proses retoris tentang bagaimana tugasnya sebagai pengajar dan tugas-tugas yang masih belum selesai, saya hanya bisa tersenyum karena jika posisi itu dibalik jawaban yang akan ia dapat tidak jauh berbeda seperti itu, terkadang saya merasa seperti sedang bercermin ketika mengetahui sifat-sifat istrik begitupun ia, katanya jodoh memang seperti itu seperti botol bertemu tutupnya.
Selepas magrib, gawaiku berbunyi ayah mertua mengabarkan jika istriku harus dilarikan ke UGD karena sudah terlihat sangat payah. Panik pasti namun selalu berusaha tenang walaupun tetap terlihat panik. RS Gunung malam hari, sebenarnya saya dan istri sempat membahas ini terlebih bagaimana dengan bayi dalam perut apakah ia akan kuat menerima obat? ternyata apa yang kami pikirkan terjadi saya baru sadar jika kondisi tubuh istri sebenarnya sudah tidak kuat namun ia berusaha memikirkan si bayi dalam perutnya. Sembari menunggu dokter tiba saya mencoba menenangkan istri, nafas sudah terengah-engah dadanya seperti terhimpit batu, mataku menangkap suster yang coba menghubungi dokter spesialis untuk mememutuskan tindakan tercepat yang perlu dilakukan karena dokter jaga saat itu tidak mau ambil resiko.
Suster membawa baki berisi alat nebu dengan cekatan ia memasangkan alat itu ke hidung istri, alat ini mengubah obat cair menjadi uap kemudian di hisap untuk meringankan Asma si penderita. Tindakan ini sudah yang terbaik menurut dokter, beberapa menit kemudian istri terlihat lebih mudah dalam bernafas, pikiran kalut berubah sedikit lega. Hari itu keputusannya harus di rawat inap untuk melihat perkembangannya beberapa hari ke depan tak mau ambil resiko saya terus menganggukan kepala pertanda setuju. berbekal BPJS kelas dua yang saya miliki akhirnya berguna setelah sekian lama di kantong, saya diminta menuju meja pendaftaran untuk mengurus semua itu.
"Maaf bapak untuk kamar kelas dua sudah penuh," deg mulai tidak enak, "lalu bagaimana?" tanyaku "untuk saat ini ruangan kosong hanya kelas VVIP," dengan cekatan ia segera menyodorkan layar bergambar fasilitas kamar VVIP tersebut, mak jang ini apa lagi fasilitas mewah dengan tv dan kamar mandi pribadi percis seperti di film-film, saya hanya menghela nafas melihat nol di bawah gambar tadi. "Tenang saja bapak, bapak tidak akan membayar full semua yang tertera pada hanya beberapa fasilitas saja yang tidak tercover BPJS," sepertinya ia menangkap keraguanku, "baik kalau begitu," sebenarnya saya sudah tahu tentang itu tetap saja ada khawatir semoga saja tidak terlalu mahal. Selain peawat yang terus menatap mertua pun ikut menodong dengan tatapannya mungkin dalam pikirannya sudah ia kan saja.
Istriku sudah di pindahkan ke ruangan VVIP, ia terbaring lemas matanya tertidur, karena ini VVIP penunggu hanya diperbolehkan satu orang saja, ayah dan ibu mertua pamit untuk pulang. Saya tertidur di sofa empuk menghadap tv dengan layanan penuh, kamar mandi dilengkapi air hangat, sebenarnya saya memiliki ketakutan tersendiri terhadap rumah sakit semenjak bapak meninggal, dulu keluarga kami hanya sanggup di kelas tiga tetapi bukan di rumah sakit ini, pemandangan yang mengerikan satu ruangan ada delapan orang dengan satu penunggu pasien setiap malam saya mendengar erangan orang sakit begitupun dengan bapak ruangan itu hanya ada satu pendingin, membayangkannya selalu membuat saya takut dan sedih tidak dapat memberikan hal terbaik untuk bapak.
Pagi hari, istriku terlihat lebih bugar pramusaji mengantarkan makanan. saya terkejut baru kali ini penunggu mendapatkan sarapan benar-benar VVIP, istri saya berbisik "makanannya enak," kemudian tersenyum, saya mencoba mencicipinya serius itu enak sekali, makanan pasien biasanya identik dengan rasa hambar, tidak untuk ruangan VVIP. Istri saya tersenyum, "ada apa?" tanya saya "tidak apaklah rencana yang kita tunda untuk menginap di hotel di ganti dengan menginap di RS yang seperti hotel," "hehe, mungkin," "sini tidur di sebelahku, supaya lebih berasa di Hotel." saya tersenyum sambil menuruti apa yang ia mau. "Sekarang dari mana kita mendapatkan uang untuk mebayar semua ini?" saya berbisik pelan pada daun telinga istri, "ah..baru saja mau romantis-romantisan sudah diingatkan untuk bayar," kami tertawa lepas selepas lepasnya, untuk mengurai bingung hanya tertawa obat paling gratis.

Posting Komentar untuk "SUAMI KARDUS 5"