Negara Omong Kosong
BAB 1
W.Hermawan - Negara ini terlahir dari rahim para peramal, sehingga takhayul lebih di minati ketimbang teori dan analisis. Berada di wilayah jalur sutra, sejak ribuan tahun lalu telah lalu lalang manusia berdagang dan berwisata ke Negeri ini, manusianya terkenal ramah saking ramahnya ratusan tahun berlalu baru sadar ternyata mereka terjajah dan di manfaatkan, kesadaran itu hanya muncul pada segelintir orang yag teriak ilmu. Mereka yang percaya takhayul tetap tak bergeming mendengar itu.
Masyarakat negara ini mengenal orang sakti bernama Ronggowarsono ramalannya selalu di tunggu sebagai mimpi masa depan, seperti ramalannya tentang Matahari dari timur yang akan membebaskan penjajahan. Ternyata maksudnya lain, negara tidak terbebas dari penjajahan namun digantikan oleh yang baru, namun sekali lagi masyarakat di Negara ini kelawat ramah kedatangan mereka di sambut dengan arak arakan. Kita tinggalkan bagaimana negara ini terbentuk.
Negara ini tumbuh dan berkembang alakadarnya, tidak terlalu pesat tidak juga terlalu lambat, hanya tambal sulam agar terlihat tetap hidup. Namun banyak masyarakat menyangsikan tentang perkembangan Negara ini, pada akhirnya para petua sakti kembali mencoba menerawang pesan dari Ranggawarsono tentang akan muncul kehadiran Jaka Penungsang yang akan menyelamatkan Negara dari Kemelaratan. Namun semenjak merdeka para petua sakti bermuculan dan melahirkan banyak manhaj berbeda, ada yang menamai aliran Putih, hijau, merah, kuning kesemuanya merasa ingin benar, Seperti aliran putih dan hijau yang meyakini negara ini akan dipimpin oleh pemimpin dari timur, dan lebih exstrim lagi mereka bilang negara ini bentukan setan dan harus di sucikan, atau bagaimana aliran merah melihat negara ini sebagai bagian dari benda sehingga harus terbentuk dan digerakan oleh aliran mereka. Di sini Demokrasi laris manis, namun hanya sebagai kata-kata mutiara yang termaktub dalam kitab negara.
Banyak ramalan lainnya yang bergentayangan namun sekali lagi pohon yang besar dan beranting tentu bermula dari biji atau tunas, nah ramalan Ronggowarsono ini selalu di elu elukan oleh sebagian besar masyarakat Negara ini. Ramalan ini pun telah di baca oleh partai merah kepala Naga. Nyai Awan mendung setelah beberapa kali bersemedi kemudian meminta para punggawanya untuk mencari sosok yang menjadi buah bibir ramalan ki Ronggowarsono. Pencarian di mulai ada satu sosok yang sedang memimpin sebuah wilayah kabar menyiarkan tentang sosok tersebut mampu memimpin wilayah yang sedari awal carut marut, nama depan depan pemimpin tersebut sama persis seperti ramalan ki Rongowarsono ia adalah Jaka Wisama. Jaka Wisama di panggil oleh nyai ke padepoakan kepala naga merah.
Percakapan antara nyai dengan Jaka tertutup tidak banyak anggota partai yang ikut hanya kader lama dan para bangsawan.
"Jaka, tahun depan kau akan menjadi kandidat presiden dari partai kepala Naga,"
"Kenapa aku? bukankah masih banyak kader lain yang sudah lama bersama nyai?" kata-kata ini terlontar agar mereka tetua tidak kecewa,
"mereka semua tahu jika keputusanku mutlak, politik ini adalah pasar besar, selayaknya pasar kita harus paham target pasar, kau mungkin sudah tahu bagaimana sejarah bangsa ini terbentuk, dan kau tahu ramalan Ki Ronggowarsono?"
"ya tentunya aku tahu, itu bagian dari warisan nenek moyang yang terus terngiang di telingaku, apakah Zaman modern seperti ini masih banyak orang yang percaya pada itu?"
"hahaha," Seisi ruangan tertawa sinis
"Kebiayasaan kita adalah takhayul, orang sakti lebih laku ketimbang orang pintar," teriak manusia paruh baya yang berada di pojok, ia adalah pengusaha batu bara, sebenarnya ia ke sini melihat peluang usaha besar dari partai kepala naga, karena konsep bisnis menjual takhayul pada rakyat lebih menjanjikan tetimbang janji pesawat terbang.
Jaka mengangguk ,rapat berakhir satu minggu setelahnya di umumkan kandidat Presiden dari partai naga merah. Jalan jalan tetiba riuh sorak sorai menyambut hal ini, semuanya percaya jika Jaka adalah jawaban dari ke bimbangan Negara.
Bersambung...
Posting Komentar untuk "Negara Omong Kosong"