Satu Hari Sebelum Tua

Satu Hari Sebelum Tua


Lelaki paruh baya duduk di teras rumahnya, setiap pagi rutinitas itu yang ia lakukan sebelum berangkat pergi ke Ladang, sepertinya hari ini ia tidak memilih berangkat mungkin ingin berlibur, tapi bukannya setiap hari libur untuknya?.  Istrinya yang cantik keluar membawakan pisang goreng dan tembakau iris yang baru saja ia beli dari pasar. Kertas pahpir kemudian ia gulung dengan baik dan di nikmati setiap isapnya. Hari itu ia menatap awan yang indah Seperti permen gula yang digulung.
Selanjutnya ia mendengarkan Radio, jaman sudah lebih maju tapi ia masih menikmati Radio. Entah apa yang sedang ia pikirkan. 

" Bu mari temani bapak!"
"Sebentar aku melanjutkan menggoreng pisang,"
"Sudah tinggalkan saja,"
"Baik." Istrinya memang penurut ia tahu betul jika suami adalah jalannya menuju keringanan dalam segala hal. Kini mereka sudah duduk berdua sambil menikmati goreng pisang yang tersuguh.

"Ibu dengar berita hari ini?"
" tentang apa?"
"Biasa, pemerintah sedang berbual tentang kesejahteraan rakyatnya,"
"haha, sudah biasa bukannya bapak sudah muak dengan semua itu,"
"ya,,sesekali mendengarkan kan tak ada salahnya, kau ingat kenapa dulu kau jatuh cinta padaku, bukannya karena hal-hal seperti itu juga"
"ia Bapak dulu gagah kalo sedang di podium apa lagi mengenakan almamater kampus, sebelum bapak memilih hidup di kampung dan mengurus kebun."

Mereka kemudian mengingat masa-masa indah itu, ya dulu lelaki paruh baya itu tekenal sebagai singa podium saat masih di kampus idealisnya dia. Sebelum kejadian itu terjadi ia masih bermimpi untuk menjadi politisi atau terus memiliki jiwa muda menerjang tirani dan hirarki. Ada hal penting yang merubah sudut pandangnya, betapa tidak suatu ketika setelah ia terpilih sebagai orang nomer 1 di kampus ia mulai tahu ternyata banyak kepentingan yang dibawa untuk kelompok masing-masing.

"Sudah begini saja selagi kau menjabat, cari semua link yang kau tahu agar hidupmu tak susah,"
"apa,? aku tak salah dengar,"
"Huss, asal kau tahu setelah kau keluar dari kampus ini, kau akan kembali pada politisi tadi, kau akan membutuhkan mereka, jangan terlalu keras,"
"apa yang sedang kakak bicarakan, bukannya dulu kepentingan rakyat lebih utama, dan semua perjuangan ini lebih utama?"
"sudah lupakan kata-kataku yang itu, saat itu aku sedang mabuk idealisme, hari ini kenyataan di luar sana lebih pahit."

saat itu juga ia berdiri dan meninggalkan seniornya tadi sambil terus tak habis pikir, dan pergi dengan ribuan tanda tanya. Lelaki yang berdiri tadi adalah si paruh baya. Setelah hari itu ia tetap dengan semua cita-citanya rakyat harus berdaulat. Layaknya Singa di tengah gelombang Hyena ia tak dapat berkutik sedangkan pada akhirnya ia harus bertanggung jawab atas ulah hyena tersebut. Tak ada akses pribadi, tak ada lompatan tinggi setelah itu. Pada akhirnya setelah ia lulus jatuhlah pilihan untuk pergi jauh serta meninggalkan semua hirukpikuk tadi, yang menurutnya semua hanya omong kosong.

"Bu selama kaum terpelajar belum menang, dan masih sibuk dengan isi perutnya masing-masing keadaan Negara kita akan tetap seperti ini,"
"ia aku tahu itu, bapak pernah bilang untuk melihat suatu negara hanya butuh contoh dan contoh itu adalah anak muda terpelajar,"
"Apakita sudah terlalu tua untuk memikirkan hal-hal itu?"
"bukannya kita yang memilih dan itu pilihan kita."

Selanjutnya mereka sama-sama melepas pandangan dan membiarkannya terbang menembus banyak hal, terutama masa lalu, serta masa depan dengan penuh kesederhanaan.


Garut 2020
Oleh Wawan Hermawan



Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

2 komentar untuk "Satu Hari Sebelum Tua"