SUAMI KARDUS 2
Berubah
W.Hermawan - Pagi ini kami berdua tersenyum pada apapun yang kami jumpai, bahagia tak terkira setelah hampir tiga tahun menanti, ini baru awal masih panjang perjuangan. kami segera berkabar pada keluarga masing masing, mereka turut senang.
Babak baru dalam hidup kami di mulai, ke esokan harinya kami berangkat seperti biasa, karena lokasi kerja kami sama setiap hari sepedah motor menjadi kuda tunggangan. Jarak tempuh hampur 35km atau bahkan lebih. Hari-hari biasa saya mengemudi dalam kecepatan rata-rata 60km/jam namun setelah ini 20km/jam bahkan bisa lebih lambat lagi. Saya tak mau janin di dalam perut istri keluar hanya karena Ruh Valentino Rossi bersemayam dalam diri alah apalah itu.
Setiap orang yang kami jumpai pasti melihat kami sedikit aneh senyam senyum, tingkat keramahan menajdi naik drastis. Saya adalah suami dari istri saya, begitu kiranya senyuman itu saya bagikan. Tepat pukul 14.30 kami pulang, tapi istri menekuk mukanya, walaupun kami satu tempat pekerjaan tapi kantor kami terpisah jauh, jadi tidak setiap saat kami dapat berjumpa.
"kenapa di tekuk begitu? perlu kusetrika dengan bibirku?" ia tersenyum
"bukan begitu say, sepertinya aku mengalami flek ada bercak mereh seperti haid yang cukup banyak,"
"itu pertanda baik atau buruk?" sumpah saya bingung tak tahu apa-apa soal begitu.
"kurang baik, kita periksa ke dokter spesialis di kota ya,"mak jang, dokter spesialis dalam hati berbisik dopet bisa jebol ini tapi tak mungkin di ungkapkan pada istri, nantinya malah semakin ditekuk ia punya muka.
Selanjutnya kami meneruskan pergi menjumpai spesialis, tak ada asuransi kesehatan yang ada hanya BPJS kelas 2 itupun berbelit mengurusnya. Akhirnya kami memutuskan untuk daftar jalur umum, pelayanan super cepat dan super nyaman. Kami masuk meminta masukan di jawab dengan perbandingan ah, ya begitu kembali kecewa sisi kejiwaan saya malah makin sakit. Sacarik kertas resep kami terima kemudian menuju apotek dan kasir, sudah kuduga kali ini dompetku yang menekuk cemberut mengeluarkan uang tujuh ratus ribu. "obatnya mahal," Seloroh istri yang menangkap raut muka saya. Mencoba tenang dan tersenyum.
Kami pulang ke Rumah, yang kami beri nama BUMI, entah kenapa kami berdua punya kebiasaan menamai benda yang kami miliki, ada Gunung Untuk sendal, Octo untuk motor kami, pohon untuk motor juga (tapi pohon bernasib tragis harus ditebang dan jual, menyesal menamainya Pohon sama nasibnya seperti pohon di bumi ini ah sudah).
Hari ini sedikit berbeda istri mulai menunjukan gelagat aneh, penciumannya menajam, tatapnya meruncing dan bibirnya menggulung seperti ombak. Mungkin ini di alami oleh sebagian suami di muka bumi, saatnya berubah menjadi baja ringan agar tak mudah patah.
Untuk menghindari hal yang tidak-tidak mulai saya ajak diskusi mengenai apa yang harus saya lakukan.
1. tidak ada minyak rambut
2. tidak ada sabut mandi
3. tidak ada farfum
4. tidak ada pewangi pakaian, ada lagi hal aneh yang istri munculkan ia selalu meminta tidur di bawah ketiak, hah merepotkan sepertinya ia lebih memilih bau asam ketimbang wangi bunga.
Masih banyak hal aneh lainnya tapi sudah cukup nanti yang baca menggambarkan istri saya macam-macam.
Beberapa hari kemudian Istri masih menekuk mukannya Flek tak kunjung reda, setelah berselancar di Internet ada beberapa solusi dan solusi yang sangat memungkinkan adalah istirahat total kurang lebih tiga minggu, solusi itu memunculkan keterikatan pada hal lainnya, coba pikir tempat kerja mana yang memberikan cuti lebih dari 3 hari, ada tapi sedikit apalagi ini tiga minggu paling diminta berhenti, sedangkan istri sangat mencitai profesinya.
bersambung----Klik Suami Kaardus 3

Posting Komentar untuk "SUAMI KARDUS 2"