SUAMI KARDUS 3

Tentang Hari Indah

W.Hermawan - Tinggalkan dulu istri yang berubah mendadak, saya ingin bernostalgia dengan pernikahan. Setiap orang pasti memiliki gambaran mengenai bagaimana kelak ia akan menikah bagitupun saya karena saya juga masih manusia sebelum nantinya memutuskan untuk menjadi gelebeg. Menikah adalah merangkai keindahan untuk terus dijalani, hem. Pesta megah kemudian tamu undangan hilir mudik, menghitung amplop masuk, menulis siapa saja yang memberi amlop atau tertawa karena amplop tersebut isinya kondom dan pakaian sexy, atau memikirkan bagaimana proses ini menjadi untung.

Bagaimana dengan konsep yang saya miliki, sumpah saya tidak mau terlalu pusing dengan semua itu. Cita-cita saya setelah ijab pakai sarung masuk kamar selesai. Saya tidak ingin mencederai konsep indah ini, karena bagi saya menikah bukan tentang hari itu saja tapi bagaimana hari-hari berikutnya, itu lebih pusing lagi.

Ketika saya memaparkan konsep ini pada beberpa teman, mereka bilang saya gila mana ada perempuan yang mau. "Nih menikah itu bukan cuma tentang malam pertama, tapi juga gengsi keluarga, kamu bisa berpikir seperti itu bagaimana keluargamu, bagaimana jika kamu di tuduh gapleh (Gapleh ini istilah untuk menghamili perempuan sebelum nikah)," begitu celotehnya. Saya hanya tersenyum, biarkan saja ini urusan saya. Kemudian saya melanjutkan cerita, kali ini tentang mas kawin, saya ingin meberikan hal yang sangat berharga dan sebait puisi. Sampai hari itu saya belum menentukan apa hal yang berharga yang akan saya berikan. Tentang sebait puisi ingin terdengar keren saja, "Gila memang kawan kita ini mau kasih makan istrinya pakai kata-kata, Haha," mereka tertawa bahagia, saya hanya membelasnya dengan tawa lebih keras.

Pasti pertanyaannya mana ada perempuan yang mau? yang mau ada tapi apa mungkinkah itu terjadi. Pencarian dimulai, bertemulah saya dengan yang kini jadi istri, bagian ini nanti saya jelaskan. Kemudian saya mempresentasikan bagimana jika menikah dengan saya, ia mengangguk tanda setuju. Hey akhirnya ada yang setuju dengan konsep tadi dan ia pun memiliki cita-cita sederhana, kini bagian terberat meyakinkan keluarga. Presentasi kembali di mulai gaya marketing sedang meyakinkan pelanggannya, segala bantahan sudah saya siapkan jawabannya. Proses ini agak alot, karena melebar pada ranah-ranah keluarga besar tapi sekali lagi saya berhasil.

Selanjutnya kami tinggal meyakinkan KUA, kami bertiga pergi ke KUA. Kenapa bertiga, satu lagi pak lebe Perangkat desa yang mengantar segala persiapan pernikahan. Duduklah kami di kursi  kami berhadapan  dengan juru ketik, ia mengetik segala urusan kami untuk nanti di catat di buku nikah. Sesekali ia menghisap rokok, ada pertanyaan yang kemudian mengganjal, "mas kawin?" tanya juru ketik itu pada saya "Sebatang rokok, dan sebait Puisi kemudaian uang lima Ratus Ribu," ia berhenti mengetik terus mengeryitkan dahi, "Sebentar-sebentar kenapa sebatang rokok dan sebait puisi," pertanyaan-pertanyaan yang keluar setelah ini seperti Intograsi polisi pada maling.
"Jadi begini Rokok bagi saya adalah benda yang sangat berharga, sebatang rokok bagian dari simbol kelak setelah ijabkabul semua kegiatan merokok akan saya hentikan,"
"dari mana letak berharganya? Pak sini ini ada yang aneh," ia memanggil kawannya sepertinya atasannya,

"Bapak perokok, saya minta bapak berhenti merokok hari ini dan seterusnya bisa? saya rasa bapak akan menolak dengan alasan macam-macam karena itu kegiatan asik dan kebiasaan bergaul dan banyak hal lainnya, itulah kenapa saya memilih sebatang rokok," saya mencoba mengacak-acak otak si bapak dan menggiringnya pada sisi otak yang saya miliki,
"Tidak...tidak bisa seperti itu, kamu mau nanti anakmu maskawinnya dua batang rokok? kalau tidak di rubah saya tidak mau melanjutkan,pulang sana apa-apaan!!"
saya mulai goyah, bajigur skak mat, saya terdiam sambil menelan ludah, bakal gak jadi nikah kalau begini caranya, serius ini menegangkan. Juru ketik tadi mengulang-ngulang kata tidak akan menikahkan kami dan ucapannya ini di dukung oleh atasannya, bahkan adalagi yang lebih atas ikut keluar dari ruangan dan ikut setuju, asem.

Kemudian saya melirik calon istri, ia tertunduk seperti mengisyaratkan sudah mengalah saja. akhirnya saya mengalah sebait puisi dan sebatang rokok tertolak di KUA. "tidak apa, apapun yang kamu berikan akan saya terima." kata-kata itu membuat saya tenang otak saya merespon baik saya ihklas. Janji tetaplah janji, pantang di tarik kembali, setelah ijab kabul tidak ada lagi rokok, saya berhenti dan hari-hari istri saya banjiri dengan puisi dan kata-kata romantis.

Kami menikah, sederhana saja. Tamu undangan hanya tetangga sekitar, dan teman-teman dekat. babak baru di mulai setelah itu kemi memutuskan mengontrak dekat tempat kerja istri. Hari-hari teramat berat tapi kami bahagia, saya nganggur beberapa bulan.

bersambung...Suami Kardus 4
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "SUAMI KARDUS 3"