Menemukan Rumah
Rumah menurut KBBI merupakan bangunan tempat tinggal, namun kali ini saya ingin mengekpresikan tentang rumah lebih luas lagi bukan hanya sebatas apa yang disampaikan oleh KBBI. Menemukan rumah, bukan berarti sebelumnya saya seorang tunawisma, menemukan rumah sendiri seperti peningkatan nilai yang ada dalam hidup. Jika rumah yang dimaksud adalah bangunan tentunya sejak kecil saya hidup bersama keluarga yang bahagia namun seiring tumbuh dewasa bangunan ini seperti bukan lagi tempat yang nyaman terlebih dalam mengekspresikan diri.
Akar pikiran telah membawa saya untuk berjalan keluar dari bangunan tersebut, apakah saya membencinya? lebih pada kita berbeda sehingga semenjak itu bangunan tersebut jarang sekali saya kunjungi bapak nampaknya sudah paham jika anak bujangnya sudah punya konsep tentang kehidupan walaupun pasti itu masih dalam bentuk delusi bapak hanya memberi kalimat "kemanapun kamu pergi ingat pada siapa kau kembali" kalimat ini seperti bekal. Bagaimana dengan mama, perempuan pemilik rahim yang kutinggali selama 9 bulan, ia tidak mau terlalu pusing dengan itu karena anaknya bukan hanya saya, tetapi ia tetap menaruh khawatir walaupun kekhawatiran itu menjadi seperti benalu dalam laju anak laki-laki.
Semenjak kuliah, saya sendiri berusaha membangun gubuk-gubuk di dalam naluri dan pikiran sekedar untuk berteduh atau berbaring melepas penat namun lebih sering roboh karena ketidak tahuan juga tidak kuat menopang. Gubuk-gubuk itu seperti pertemanan, percintaan, jalanan, kemabukan tetapi sekali lagi itu hanya beberapa saat saja toh langkah ini masih ingin pergi.
2012 tahun dimana desas-desus kiamat dunia akan muncul saya mencoba berjalan dan membangun kembali gubuk. Aceh timur memberikan banyak pelajaran dari sinilah saya menemukan bahan untuk rumah yang lebih kuat. Kuat karena telah saya coba berkali-kali dan tetap tegak, saya coba dengan ego, coba dengan muslihat, coba dengan romansa, namun ia tetap ia. Sampai suatu hari saya menjadikannya rumah dengan cara menikahinya.
Rumah itu adalah istri saya saat ini, tempat ternyaman tempat yang tidak pernah mencela tempat yang selalu peduli tempat yang membuat saya selalu ingin disana dan menggantungkan rindu. Suatu hari ada seorang teman bertanya tentang masa depan yang ingin saya lalui, kemudian saya jawab saya ingin di rumah menyiram bunga menanam padi memetik sayuran dan bersenandung di pagi hari sambil menunggu angin ia hanya tersenyum dan menutup kalimat tadi dengan "kau sudah memilih tua walau waktu mu masih panjang". Begitulah memang cara saya menikmati hidup dan membangun rumah, sampai istri saya sendiri bingung saat ia bertanya tentang alasannya menikahi dia. Hari ini jika kau membaca ini inilah satu dari banyak alasan kau adalah rumah, rumah yang selalu ingin ku tanami bunga ku hiasi rerumputan serta kuwarnai dengan penuh corak.
Teruntuk istriku terima kasih telah menyediakan tempat untuk berteduh, menyediakan lahan yang luas kata-kata yang rindang, pelukan yang hangat dan bunga-bunga yang harum.

Posting Komentar untuk "Menemukan Rumah"