SUAMI KARDUS 1

Cita-Cita



W. Hermawan - Menjadi suami adalah salah satu cita-cita saya sejak kecil, namun suami model apa saya juga belum tahu. Hormon testosteron semakin tinggi, agar tak terjadi yang tidak-tidak jalan yang saya ambil adalah menikah. 2015 adalah tahun yang menjadi pilihan, saya tidak perlu menjelaskan bagaimana prosesnya. Nanti di kemudian hari akan saya bagikan sabar saja.

Menjadi suami ternyata tak mudah apalagi menganggur? ya setelah menikah saya menganggur Eit... tenang ada alasan mengapa saya menganggur. Saat itu saya sudah di terima mengajar di sekolah luar Negeri, tapi setelah pengumuman dan saya dinyatakan lulus terdapat tenggang waktu yang cukup lama kurang lebih 4 bulan. Dari sinilah saya menamai diri saya suami Kardus. Empat bulan yang cukup menyiksa tanpa penghasilan, empat bulan dengan pertanyaan mertua kapan berangkat. Empat bulan saya terkurung di kosan 2 X 3 meter. Dari mana saya bertahan hidup? ada Istri tercinta yang tak pernah menuntut apapun, ada istri yang baik yang setiap hari tersenyum, ada istri hebat yang setiap hari memberi motivasi, ya Istri saya yang saat itu bekerja sebagai guru di sekolah dalam negeri dengan gajih 1,5 jt. Wah cukup besar? ya tapi ini rinciannya 1. Kosan 400rb 2. Pengeluaran Wajib Untuk Orang tua 500rb 3. listrik + air 250rb sisanya untuk makan kami berdua kalian yang memutuskan. Tapi kami tetap tertawa.

Empat bulan berlalu, saya terbang ke Negeri Jiran sebagai pengajar. Kehidupan kami berubah angka pemasukan pun berubah, perubahannya tak terlalu signifikan sih, hanya menghilangkan koma pada penghasilan istri sebelumnya 😀.  Permasalahan kali ini adalah Rindu? selama 6 bulan saya hanya bisa melepas rindu melalui gawai. Jatah pulang mengikuti waktu libur sekolah.

Hidup ini memang tak bisa sesunyi dalam goa, telinga kita terpasang untuk mendengarkan banyak orang. Setelah hampir 2 tahun menikah kami belum di karuniai anak, sudah ramai betul tetangga berkata dan memberikan saran. Hey bukan tanpa usaha tapi selama dua tahun setiap enam bulan sekali saya hanya bertemu dengan istri selama 2 minggu, belum terpotong dengan silaturahmi sana-sini.

Ok, Keputusan harus diambil. Setelah dua tahun di negeri jiran saya memilih untuk tidak memperpanjang kontrak sebagai pengajar. Semua pikiran kami fokuskan untuk Momongan, sampai uang tabungan selama di sana terkuras habis untuk itu. 

Mengisi kekosongan waktu sebelum kembali lagi mengajar saya memutuskan untuk menjadi ojek online. Hari kedua mengojek, saya bertemu dengan penumpang yang kemudian memberikan informasi sangat penting bagi hidup saya. Dalam perjalanan ia bercerita tentang bagaimana ia ingin memiliki momongan, seperti telah ditakdirkan akhirnya kami berbagi. Kemudian saya menyebutkan nama Ahli yang menangani kami, ternyata ia juga pernah konsultasi kepada Ahli tersebut, kemudian ia memberikan informasi, ternyata Ahli yang memberikan wejangan kepada saya saat ini sedang menjalani konsultasi dengan tema yang sama yaitu momongan kepada Ahli di kota Jakarta. Saya bengong setengah tak percaya. Ia sarankan untuk Pindah. 

Saya tak lantas percaya begitu saja. Saya coba ketik nama ahli tersebut dan berselancar di dunia maya. alhasil ternyata ia sudah lima tahun menikah dan belum memiliki momongan. Bagaimana?  ini seperti kamu sedang mencari jalan pada orang yang juga mencari jalan itu, ah kusut pikiran. Tabungan sudah habis benar-benar habis. 

Selama konsultasi beberapa kali istri telat haid, dan bersamaan dengan itu tespack terbuang. Raut wajah istri selalu berusaha tegar, tetapi kesedihan tak terbendung bahuku sangat berguna saat itu, jangan tanya berapa taspack yang terbuang.

Kami memutuskan berhenti konsultasi, mengapa tak pindah? lagi-lagi saya menjadi suami kardus yang tak dapat memberi jawaban terbaik, saya tadi sudah bercerita tabungan kami ludes...des. Satu satunya usaha yang tak putus dan murah adalah doa.  Dalam setiap doa Saya ingin menjadi suami yang dapat menemani istri dalam kondisi apapun.

Beberapa bulan berlalu, langkah awal menemani istri terwujud saya di terima menjadi pengajar di tempat istri mengajar. Agak aneh memang bagi kami sendiri tapi mungkin itu memang jalan.

Waktu itu akhirnya tiba. Selepas istri Shalat subuh istri bercerita tentang siklus haid yang aneh, saya hanya bisa membalasnya dengan senyum, kemudian ia merengek ingin tespack, di atas meja ada tespack terakhir dari banyaknya yang terbuang. 

"Janji jangan sedih jika hasilnya Negatif." ia menjawab dengan anggukan.

Sekarang giliran saya Shalat, selama shalat sumpah air mata tak dapat saya bendung takut istri kecewa. doa  saat sujud, apapun hasilnya akan saya temani sampai akhir. Ini adalah titik kepasrahan yang dirasakan paling tinggi. Di tahiat akhir istri duduk disamping sambil memegangi alat tes kehamilan kepalanya tertunduk, setelah uluk salam aku memeluknya tanpa banyak tanya. 

"Sudah sabar," Hanya itu yang keluar dari mulutsaya, kemudian istri memeluk balik dengan eratnya, pada alat tes terdapat garis dua yang berarti istri saya hamil. Kami berdua menangis, selanjutnya sujud syukur. ah..momen terbaik.

bersambung----Klik Suami Kardus 2





Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "SUAMI KARDUS 1"