Cinta apa itu?

Desa kecil di atas bukit, ada seorang anak muda terpelajar namun sedikit membaca baginya sekolah tentang ijazah tidak ada kolerasinya dengan membaca, namanya Saga. Di desa Saga Tidak begitu terkenal karena pergaulannya banyak ia habiskan di kota, namun ia punya teman dekat di desa setiap kali memiliki masalah ia akan pulang dan menjumpainya, rumahnya tidak begitu jauh dari tempatnya tinggal. Kadang Saga memilih tidur di rumah sikawan ketimbang rumahnya sendiri ketika pulang ke Desa. Sebagai teman yang baik Raman akan selalu memberi saran yang bijak pada Saga ketika ia memintanya, walaupun Raman tak seberuntung Saga namun ia selalu memesan buku pada Saga untuk mengetahui dunia luar, ia melihat dan membaca dari buku- buku yang di bawa Saga.
Hari itu Saga pulang dengan muka lesu, ia tak pernah langsung ke Rumah, di Rumah lebih seperti hutan Rimba banyak orang tapi tak perah saling peduli. Saga memang tumbuh di keluarga aneh.
"aku menyatakan cinta, jawabnya tak romantis, memangnya ia makan dari romantisme, atau ia hanya mencari alasan karena saya ini pendek kulit gelap?"
"memang bagaimana caramu menyatakan cinta?"
"aku katakan saja aku suka padanya sudah tanpa hal lain,"
"tidak ada puisi atau sanjungan atau ikatan bunga?" Raman mencoba mengarahkan pembicaraan,
"kau tahu saya bukan manusia seperti itu, tapi saya rasa Evi memang tidak suka dengan fisik saya,"
Saga memang selalu mengeluh mengenai fisiknya sampai-sampai ia tak pernah dekat dengan perempuan, kali ini karena desakan usia dan tumpukan hormon akhirnya ia menyasar perempuan yang sedari dulu sering ia ajak becanda. Diantara teman lainnya Evi memang salah satu perempuan yang baik dan tidak sombong bukan hanya pada Saga bahkan pada semua orang, tidak salah kiranya Saga berpikir Evi akan suka padanya.
Sebenarnya sebelum-sebelumnya Saga tidak pernah mengeluhkan ini, ia menjalni dengan biasa saja, namun semenjak ia pergi ke kota dan bergaul dengan banyak anak muda di sana Saga jadi termotivasi untuk bisa seperti mereka terlebih lagi anak muda di kota dengan segala hura-huranya. Setiap pulang Saga selalu bercerita demikian pada Raman, namun Raman tetap santai menanggapinya.
"Bukankah ada baiknya kamu menyatakan Cinta dengan Romantis?" sambung Raman
"Ah, memang itu akan merubah semuanya,"
"asal kau tahu Saga, wanita itu senang mendengarkan ia senang keromantisan juga kepastian."
Walaupun Saga sering menanyakan solusi pada Raman namun sebenarnya ia tak pernah menjalankannya bagi Saga jalan pikirannya sudah benar, Saga tidak akan mengubah keputusannya.
Memang dalam urusan Cinta ia tidak pandai. Sebenarnya bukan tidak pandai ia Tidak memahami bagaimana memperlakukan perempuan, dan selalu merasa dirinya tidak pantas untuk perempuan, ada beberapa daftar list perempuan yang pernah ia senangi namun hanya dua yang ia yakin mereka menyukainya, ia terlalu mengarah pada inti pembicaraan tak mau bertele-tele, Saga selalu menggerutu jika sudah berbicara perempuan ia selalu bilang kalau perempuan aneh kukira ia baik dan suka padaku ternyata hanya senang berteman saja.
Waktu terus berlalu, Saga menyerah untuk urusan Cinta, akhirnya mau tak mau ia meminta ibunya untuk mencarikan perempuan yang mau jadi istrinya itupun kalau ada. Satu minggu setelah itu ibunya membawa kabar baik, ada anak perempuan di desa yang mau menikah dengannya, tanpa banyak alasan. Namun Saga tetap berprasangka dalam hatinya ia bergumam "hah paling perempuan desa dekil dan jelek," entah kenapa dia ini selalu begitu bahkan terhadap pikirannya sendiri, tapi mau bagaimana lagi ia tak punya pilihan.
Sebelum menikah, Saga ingin dipertemukan terlebih dahulu dengan perempuan tadi walaupun tak ada pilihan karena apapun yang terjadi ia harus menerima karena itu permintaannya. Ternyata di luar dugaan perempuan yang akan menjadi isterinya Cantik dan berpendidikan sesuai selera Saga. Saga sempat memastikan benarkah ia mau menikah bukan karena terpaksa atau alasan lainnya.
"tidak ada keterpaksaan, saya sudah memasrahkan ini pada orang tua saya," jawaban dari perempuan yang akan mendampingi Saga. Saga menceritakan ini semua pada sahabatnya Raman semuanya Raman ikut senang, di lain sisi ternyata Raman menyimpan rahasia, Evi perempuan yang sempat jadi incaran Saga ternyata lebih memilih Raman dan Saga belum tahu, namun karena Saga sudah menemukan tambatan hatinya maka Raman memberanikan diri memberitahukannya pada Saga.
"Saya ikut berbahagia ternyata semua perkiraanmu selama ini salah, buktinya ada perempuan yang mau denganmu," Raman memulai pembicaraan
" Haha,,ia betul,"
"Saga sebenarnya saya ingin memberitahukan ini sejak lama, tapi tolong jangan marah,"
"ada apa tiba-tiba berbicara seperti itu?"
"Begini jadi setelah kau ceritakan tentang Evi saat itu, saya coba mencari tahu kenapa Evi menolakmu dengan berkirim kabar melalui gawai, tak disangka ini menjadi pembuka pembicaraan Saya dan Evi, ia bilang nyaman dengan semua perlakuanku, kami akan menikah bulan depan,"
"Teman macam apa kau ini," raut wajah Saga berubah ia bergegas pergi membawa semua umpatan untuk Raman, ia tak mau lagi melihat seonggok daging bernama Raman. Raman melanjutkan hidupnya menikah dan berbahagia. Sagapun sama namun sedikit berbeda dua bulan setelah menikah manusia ini berulah, Wanita yang menjadi istrinya sekarang, memergoki percakapan pesan singkat yang terdapat pada gawainya sedikit mesra dengan teman kantornya. Karena sang istri tidak mengenal Saga dengan baik akhirnya diam-diam ia mencari tahu sebenarnya sikap manusia satu ini seperti apa. Dalam gawai Saga selain rekan kerjanya ada satu nomor yang sering di hubungi walaupun itu sudah lama sekali tidak lagi ada percakapan ya, siapa lagi jika bukan Raman.
Dua hari berselang, setelah itu Saga memilih untuk mengembalikan Sang Istri pada keluarganya. Tanpa penjelasan, jatuh talak. Pernikahan mereka hanya seumur jagung, Saga tidak terlihat ingin mempertahankan pernikahannya. Perempuan yang sudah rela menjadi Istri lelaki kesepian itu kini memiliki status janda muda, kita semua tahu perempuan adalah makhluk hebat yang tidak akan terpuruk hanya karena hal demikian. Sedangkan Saga menjalani hari dengan terseok-seok bahkan berkali-kali ia gagal dalam kasmaran, hingga akhirnya ia bermuara pada seorang perempuan yang tak pernah mencintainya. Saga kini berkeluarga ia memiliki anak yang lahir dari istri barunya namun sekali lagi itu bukan anaknya.
W. Hermawan
Karawang
Posting Komentar untuk "Cinta apa itu?"