PENOMENA 75 DI KALANGAN GURU


Mungkin untuk para guru angka 75 tidak begitu asing apalagi dalam penilaian siswa, 75 sering dikaitkan dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Tidak sedikit yang skeptis terhadap angka tersebut dikarenakan terlalu tinggi untuk dicapai oleh peserta didik. Dalam Kurikulum 2013 para Guru dituntut untuk memberikan penilaian dengan KKM sesuai bidang biasanya banyak yang menggunakan KKM tunggal dan menetapkan angka 75 sebagai angka terendah. 

Namun banyak yang tidak mengetahui bagaimana proses KKM ini terjadi, tidak sedikit guru yang hanya melakukan penilaian yang bersifat kognitif saja, dan hanya melihat dari kertas-kertas ulangan atau kemampuan peserta didik dalam satu bidang. Kurikulum 2013 menuntut guru melakukan banyak sekali penilaian, baik ranah kognitif afektif maupun psikomotorik bahkan para peserta didik di tuntut mampu menilai diri mereka sendiri beserta teman sejawatnya. Penilaian ini memang cukup sulit dilakukan dilapangan dengan bentuk kelas padat karena setiap Kompetensi dasar diperlukan banyak kertas penilaian yang terukur. Penilaian ini juga disebut dengan Penilaian autentik (authentic assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

Kurikulum 2013 tidak main-main dalam hal penilaian dalam belajar, sehingga setiap peserta didik dapat mengembangkan potensi dalam diri masing-masing. Namun bagaimana yang terjadi dilapangan? pada beberapa kasus yang saya alami selama menjadi pengajar banyak guru yang belum siap dengan ini, hal ini bisa jadi dikarenakan lingkungan ia mengajar, ataupun pribadi yang tidak mau belajar. Sebenarnya sistem penilaian ini sudah di atur dalam permendikbud no .66 tahun 2013, hanya saja masih banyak sekolah yang belum menjalankannya, baik itu terkait SDM ataupun sistem yang belum dipahami secara penuh. 

Masih banyak yang percaya Jika Model penilaian seperti ini memanjakan para peserta didik karena bisa ataupun tidak mereka, akan tetap lulus dalam setiap mata pelajaran. Sebenarnya penilaian dalam Kurikulum 2013 sifatnya berjalan terus menerus dan berkesinambungan. Hal ini dimaksudkan agar guru terus mengarahkan potensi peserta didik, hingga ia menyadari tentang potensi dirinya. Penilaian Kurikulum 2013 jika di telaah lebih mendalam mengharapkan peserta didik belajar tidak hanya untuk dirinya sendiri dan menjadikan peserta didik pribadi yang mampu berkompetisi dilingkungan kelak.

Memang beban menjadi guru dalam setiap tahun itu banyak tidak hanya mengajar dan menilai belum lagi administrasi yang harus dipenuhi mendekati akreditasi sekolah. Bahkan masih banyak guru atau tenaga pengajar dengan entengnya menganggap peserta didik tidak berbakat dalam pelajarannya karena nilai dalam ranah Kognitif dalam pelajaran tersebut terus terseok-seok. Tugas guru sebenarnya sama juga seperti dokter yang harus melihat gejala peserta didik dan memberikan formula yang tepat untuk kesembuhan masa depan mereka, dunia pengajaran lebih komplek lagi karena berkaitan dengan bangsa dan negara kedepannya. Didunia ini tidak ada manusia yang bodoh lebih tepatnya mereka terlambat belajar.

Jika Ada yang ingin membaca mengenai penilaian boleh download1 download2 download3 

Kuningan
Oleh : Wawan Hermawan


Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "PENOMENA 75 DI KALANGAN GURU"