AYAM GORENG PAMAN SAM

 W. Hermawan - Suara air yang menukik tajam menghatam genting kemudian membentuk nada tersendiri di telingaku, pasti kau mengira aku sedang menatap jendela sembari menunggu kopi dalam cangkir dapat ku minum, nyatanya kau salah, aku sedang menari bersama air yang kuceritakan tadi. Saat itu umurku baru sepuluh tahun sebagaimana anak desa lainnya air hujan mampu menyihir kami menjadi apa saja, pada cerukan-cerukan genting rumah, kami bertapa laksana para empu dalam kisah yang sering kami tonton di hari libur, atau pelepah pisang yang tetiba menjadi kuda mahapatih.

    Namun itu semua tak pernah berlangsung lama karena orang dewasa selalu menggap itu hal yang nantinya akan membuat kita sakit. Satu persatu dari kami pulang dijemput oleh orang tua akupun juga begitu ibu akan datang dengan membawa tujuh batang lidi yang ia kibas-kibaskan saban ia berjalan, walaupun seingatku batang lidi itu tak pernah mendarat ditubuhku. Kemudian aku pulang dan membersihkan tubuh dari lumpur serta kotoran, sebagai bonus tambahan aku diminta untuk mecuci baju yang ku kenakan tadi. Tak lama setelah itu suara perut bertabuh begitu kerasnya dapur adalah tujuan utama dengan lauk seadanya, aku menggiring piring yang berisi penuh nasi dan sedikit lauk asin ke depan televisi. Walaupun ibu selalu mengultimatum bahwa jika hujan pantang untuk menyalakan televisi, berkali-kali juga aku melanggarnya.

    Kotak plastik bergerak ini adalah dunia miliku saat itu, selanjutnya sambil menyatap tumpukan nasi dan ikan asin dipiring mataku membelalak memperhatikan setiap pergantian film. Hari itu aku melihat ayam goreng yang belum pernah kumakan, ayam itu berputar-putar di kepalaku hingga selera makanku berkurang akhirnya aku merengek pada ibu tentang ayam Paman Sam di televisi.

“bu..Bapak kapan pulang?” Tanyaku
“mungkin Minggu depan. Ada apa?”
“aku ingin dibawakan goreng ayam seperti di televisi bukanya bapak kerja di kota.”
“ bukanya ibu sudah sering menggorengkan ayam untukmu!”
“tapi itu beda bu,”
“beda apanya toh sama-sama ayam?”
“ah...ibu.” aku merengek hingga ibu akhirnya berkata ia


    Besoknya aku berangkat mencari warung telepon letaknya cukup jauh dari desaku, bahkan aku harus menaiki kendaraan umum dua kali. Ibu membekali sehelai kertas bertuliskan no kantor bapak. Hari itu aku berangkat sendiri karena ibu sedang kurang enak badan demi sebuah impian memakan ayam paman sam aku melawan segala rasa takutku termasuk gagang telepon umum. Aku selalu gemetar saat di minta menelepon bapak oleh ibu entah kenapa, sepertinya aku takut argo meter penghitung melebihi jangkauan kantongku. Setiap kali menelpon aku tak pernah langsung bisa berbicara dengan bapak paling hanya menitipkan pesan saja pada si pengangkat telepon. Bapak bekerja di lapangan sebagai tukang las jadi tidak mungkin dapat menerima telepon selain lokasinya juga cukup jauh dari kantor, begitulah bapak menceritakannya padaku.

  Seminggu kemudian aku menunggu bapak di depan pintu hari ini tiba bapak turun dari bus jurusan Rangkas-Malingping. Mataku tertuju pada kresek yang bapak bawa biasanya bapak hanya akan membawa buah-buahan dan sekantung permen, tapi kali ini ada kantung lainnya berwarna merah aku yakin itu pesananku.

     Aku berlari menuju bapak menyambut tanganya dan segera membawa lari bungkusan yang ku duga itu adalah ayam goreng pesananku. Tetapi bungkusan itu sudah tidak lagi hangat dan kurasa bapak salah membeli, bungkusan yang kulihat di televisi tidak seperti ini. Raut wajahku berubah seketika memandang bapak. Bapak tidak berbicara banyak hanya tersenyum selanjutnya aku terus membawa nasi dan mengajak bapak makan.

“pak, ayo makan ini ayamnya kan ada dua”
“itu semua untukmu, bapak nanti makan dengan ibu” ayah berbicara sambil tersenyum
“maaf bapak belum bisa membeli pesananmu dengan benar bapak tergesa-gesa ingin segera pulang bertemu kamu dan ibu jadi tidak sempat mampir.”
“tidak apa pak, ini juga enak” jawabku walaupun pada awalnya agak kesal namun pasti Bapak punya alasan dan ia tidak pernah berbohong.
“kelak jika kau besar kau bisa membeli sebanyak yang kau mau maka dari itu sekolah lah yang rajin.”

   Setelah itu bapak bergegas merapihkan barang-barangnya, mandi dan duduk kembali bersamaku menonton televisi. Bapak memang tidak pernah lama berada di rumah itu semua karena pekerjaanya yang jauh di kota jadi setiap bapak di rumah terkadang aku memilih bolos sekolah.

   Itu semua telah berlangsung begitu lama hari ini aku sedang duduk sendiri menikmati banyak ayam goreng di hadapanku. Mataku menatap langit serta berucap dalam hati bapak apa yang kau katakan benar, hari ini aku bisa membeli banyak ayam goreng. Keyakinanmu kini terbukti jika pendidikan dapat memenuhi segala yang aku mau, terima kasih telah mengajariku banyak hal semoga engkau tersenyum melihatku dari surga sana.


Oleh : Wawan Hermawan

Sandakan - Malaysia 2017
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "AYAM GORENG PAMAN SAM"