PERPINDAHAN KARESIDENAN CIREBON KE DESA CIWARU KUNINGAN


Tugu Peringatan Perpindahan Karesidenan Cirebon
PERPINDAHAN KARESIDENAN CIREBON KE DESA CIWARU KUNINGAN
Oleh : Wawan Hermawan

Pada masa akhir perang dunia II pihak yang menang berkeliling wilayah Asia untuk melucuti senjata pihak yang kalah dan melepaskan para tawanan perang. Indonesia merupakan salah satu negara tujuan pelucutan senjata karena pada waktu itu Indonesia di duduki oleh Jepang sebagai pihak yang kalah dalam perang dunia II. Namun dalam kenyataanya pihak Inggris yang saat itu datang memiliki banyak agenda lain, diantaranya membonceng tentara Belanda masuk Ke Indonesia. Masuknya tentara Inggris yang kemudian ternyata terbukti membonceng NICA membuat kewaspadaan pemerintah Indonesia ditingkatkan. Belanda yang hingga saat itu belum mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat ternyata memiliki misi untuk menguasai kembali Indonesia.

Wilayah-wilayah strategis menjadi incaran Belanda dalam melancarkan taktik kolonialisasinya, wilayah-wilayah seperti pelabuhan dan Bandar-bandar besar dibuatnya seolah itu milik mereka sendiri. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya pertempuran yang terjadi pada kurun waktu awal kemerdekaan yang terpusat di wilayah strategis seperti pelabuhan dan pusat-pusat bandar. Pemerintah masih tetap berunding dengan Belanda mengenai wilayah kedaulatan Indonesia perundingan tersebut awalnya akan dilangsungkan di Cirebon seperti yang di kabarkan dalam surat kabar Republik tahun 1947, namun dikarenakan keamanan di Cirebon tidak begitu kondusif maka perundingan di alihkan ke Kuningan.


Hasil dari perundingan pertama kurang memuaskan pihak Indonesia, sehingga tidak sedikit korban berjatuhan akibat putusan ini. Begitupun karesidenan Cirebon yang sejak awal telah menjadi incaran Belanda karena letaknya yang strategis sebagai jalur perdagangan. Serangan demi serangan dilancarkan Belanda, tetapi selalu mendapatkan perlawanan yang cukup sengit dari rakyat Cirebon baik sipil maupun militer hingga pada akirnya Belanda mengerahkan seluruh kemampaunnya untuk menduduki Cirebon. Merasa terdesak serta demi mempertahankan kedaulatan karesidenan Cirebon, maka perpindahan karesidenan dirasa perlu. Pada tahun 1947 karesidenan Cirebon dipindahkan ke desa Ciwaru Kuningan.

Secara geografis desa Ciwaru cukup strategis menjadi wilayah sementara karesidenan Cirebon karena dilingkupi hutan yang lebat dan jauh dari kota Cirebon. Selain dijadikan Karesidenan desa Ciwaru dan sekitarnya menjadika desa mereka sebagai benteng-benteng pertahanan untuk menanggulangi serangan dadakan jika kelak Belanda mampu menembus dan datang secara tiba-tiba. Pertahanan-pertahanan yang dilakukan tidak hanya dari pihak militer, semangat kemerdekaan telah mendorong para lascar secara sukarela berjuang dan ikut andil dalam mempertahankan Ciwaru yang ketika itu menjadi karesidenan Cirebon.

Perpindahan karesidenan ini dilakukan agar Cirebon tetap dapat melakukan tugasnya secara administrativ sehingga Karesidenan Cirebon tidak jatuh ke tangan Belanda. Pada masa perpindahan karesidenan dibentuk pula beberapa jawatan agar fungsi administrativ karesidenan Cirebon tetap berjalan beberapa diantaranya adalah jawatan Militer dan jawatan perhubungan. Namun untuk mengelabui musuh karesidenan Cirebon membagi kekuasaannya pada desa-desa sekitar salah satunya desa Citundun, selain untuk mengelabui Belanda hal ini dilakukan agar residen tetap aman dari sergapan Belanda.

Dalam situasi seperti ini Karesidenan Cirebon tetap melakukan koordinasi dengan pusat, yang saat itu dipindahkan ke Yogyakarta. Untuk tetap mendapatkan informasi dan melaporkan infomasi pada ibu kota maka informan dari Karesidenan Cirebon menempuh ratusan kilometer ke Yogyakarta dengan berjalan kaki. Ketika Komando presiden RI tentang pelucutan senjata dan segera bergerak ke Yogjakarta maka semua kantong-kantong pertahanan Karesidenan Cirebon turun kemudian pergi menuju Jogjakarta melalui pintu Ciwaru. Perjungan TNI dan para lascar saat itu  didukung oleh para masyarakat sekitar yang dengan sukarela memberikan kudanya kepada para geriliyawan agar dapat tiba ke Jogjakarta dengan lebih cepat. Ketika komando hijrah menuju jogja, tidak semua elemen pergi ada beberapa lascar yang tetap bertahan mempertahankan karesidenan Cirebon hingga kembalinya para tentara.

Pada masa mempertahankan kekuasaan Karesidenan Cirebon yang berada di Ciwaru, tidak hanya dilakukan oleh warga sekitar namun banyak dari beberapa anggota lascar yang datang dari berbagai penjuru wilayah Cirebon bahkan ada yang datang dari luar pulau jawa. Hingga penghujung tahun 1949 desa Ciwaru menjadi benteng pertahanan Karesidenan Cirebon dari gempuran pihak musuh.

Sumber :
Wawancara dengan H.Sadikin Penerus pejung 45. Tanggal 11 Juli 2018
Koran Republik tahun 1947
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "PERPINDAHAN KARESIDENAN CIREBON KE DESA CIWARU KUNINGAN"