MENYAMBUNG AMANAT PEJUANG
![]() |
| Gedung Juang Cirebon |
MENYAMBUNG AMANAT PEJUANG
Cirebon 05 Juli 2018
Matahari
mulai menyongsong, aku dan juga istriku telah siap berangkat menuju gedung
juang tempatnya para veteran Cirebon. Atas arahan dari mertua, kami datang
untuk mencari nama seseorang sebagai salah seorang sumber lisan dalam projek
penulisan sejarah yang sedang dilakukan Istri. Satu hari sebelumnya kami telah
menghubungi beliau melalui telepon seluler, setelah menentukan hari dan waktu
yang disepakati akhirnya kami berangkat. Kami sepakat untuk bertemu pukul 10.00
WIB tepatnya di gedung juang, satu jam sebelumnya kami sudah datang tidak baik
jika kami terlambat terlebih lagi kami harus bertemu pejuang yang pastinya
memiliki disiplin tinggi dalam hidupnya.
Dihalaman kantor terdapat dua pohon
mangga rindang juga beberapa motor terparkir rapih, suasana Cirebon yang
biasanya terik hari itu begitu teduh dan asri, tidak ada penjagaan ketat hanya
beberapa orang tua yang lalu lalang di kantor. Istriku segera mencari orang
yang bisa ia tanyai kemudian menyodorkan nama nara sumber yang akan kami
jumpai. Karena memang kami telah membuat janji pukul sepuluh akhirnya kami
dipersilahkan untuk menunggu di sebuah ruangan, gaya ruangan itu cukup tua
dengan meja serta kursi pada posisi sidang, taplak meja berwarna hijau menambah
kesan militer yang begitu lekat. Diseberang pandang saya ada beberapa tentara
berseragam rapih yang juga sedang menunggu, mereka datang lebih awal dari kami perjumpaan
kami hanya sebatas pandang saja. Dalam kurun waktu kurang lebih satu jam aku
beserta istri saling menerka mengenai waktu lampau, berimajinasi tentang gedung
ini, dihadapan kami ada koreo berbentuk gambar yang timbul menggambarkan
perjuangan para pahlawan semuanya terlihat begitu epic meja sidang mengingatkan
kami pada sidang-sidang penting perjuangan bangsa Indonesia saat merebut
kemerdekaannya.
Satu jam telah berlalu terdenganr
suara motor masuk pekarangan, itu adalah orang yang kami tunggu, ternyata bukan
hanya kami yang sedang menunggu keberadaannya para tentara tadipun sama sedang
menunggu kedatangan beliau karena kami datang setelah mereka maka kami harus
bersabar menunggu kembali hingga perbincangan mereka selesai. Ruangan tunggu
menyuguhkan pemandangan segar dimana beberpa veteran lainya saling lalu lalang
walaupun fisik mereka terlihat renta namun disiplin serta semangat mereka tetap
muda, itu terbukti dari cara mereka menepati waktu serta berpakaian rapih dan
tetap mencerminkan kesatria.
Tiga puluh menit berlalu sekarang
giliran kami berbincang dan mendapatkan informasi terkait yang kami butuhkan.
Kami saling memperkenalkan diri dan mulai menyampaikan tujuan kami. Dihadapan
kami telah duduk seorang nara sumber purnawirawan Didi Supriadi veteran dengan
pangkat terakhir sebagai Serma (Sersan Mayor), beliau juga pernah bertugas di
Lanal Cirebon bagian penerangan, itu kenapa kami diarahkan kepada beliau.
Informasi yang ingin kami gali dari beliau adalah tentang pertempuran laut
Cirebon, dengan KRI gajahmadanya dan juga kapten Samadikun. Walaupun pak Didi bukan
sumber sejarah primer karena beliau merupakan pejuang pada Era Dwi Kora,
sedangkan kami sedang menggali perjuangan Angkatan Laut pada kurun waktu 1945-1949 namun
jabatanya Sebagai kepala Penerangan Lanal Cirebon cukup banyak memberikan
informasi terkait apa yang kami cari. Usianya yang telah masuk dekade ketujuh
tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap terus melanjutkan perjuangan,
perjuangan yang ia lakukan tidak lagi banyak melibatkan fisik kini ia berjuang
dengan segala sisa-sisa ingatan yang dimilikinya. Perjumpaan kami ini sebagai
salah satu bentuk merekam apa yang masih tersisa dari beliau. Kesibukan beliau
saat ini selain memberikan informasi bagi orang-orang yang mambutuhkan seperti
kami ini, beliau juga masih menerima undangan dari orang-orang yang ingin
mendengarkan kisahnya, itu terbukti dari beberapa undangan yang berdatangan
selama kami melakukan wawancara.
Pada sela-sela wawancara ia
menekankan pada kami tentang keutuhan NKRI yang harus terus dijaga ia tidak
ingin NKRI hilang sedikit demi sedikit dan rakyatnya hidup dalam ruang
penjajahan Neo Kolonialisme. Bukan hanya berbicara tentang keutuhan ia juga
menyampaikan tentang bagaimana kita harus berdaulat dan menjalankan amanah UUD
45, semurni-murninya bukan terus membuatnya fleksibel dengan penguasa, sehingga
menjadikan UUD 45 alat penguasa bukan pelindung rakyat. Beliau berbicara
mengenai bagaimana mereka berjuang untuk kepentingan rakyat Pribumi dari
kungkungan penjajah Belanda saat itu, hingga tidak ridho jika saat ini
perjuangannya itu di hianati oleh kepentingan-kepentingan segelitir orang dan
menjadikan Indonesia bahan dagangan penguasa.
Semangatnya tentang begaimana Negara
Indonesia ini harus tetap utuh dari masa kemasa, jangan mau tercerai berai
hanya karena politik adu domba. Beliau juga menganjurkan kami untuk terus ikut
andil dalam setiap perubahan jangan malu untuk berpolitik agar kalangan muda
memiliki jam terbang yang cukup dan matang pada waktunya bukan matang karena
karbitan. Beliau menitipkan pesan itu bukan hanya untuk kami namun juga untuk
para peserta didik yang di beri ajaran oleh kami.
Dari apa yang ia sampaikan aku menarik
kesimpulan betapa berharganya pelajaran dari masa lalu agar kita tidak lagi
mengulang kesalahan yang sama. Tugas mempertahankan keutuhan NKRI bukan hanya
milik pak Didi dan rekan-rekanya namun tugas segenap rakyat Indonesia dengan
caranya masing-masing, jangan mudah di adu domba apa lagi terhasut dengan
urusan penguasa. Tulisan ini hanya ingin mengejawantahkan apa yang telah saya
rekam dari pak Didi untuk kepentingan bersama, semoga kekhawatiran pak Didi
sebagai pejuang tidak terjadi dan rakyat Indonesia berdaulat penuh atas
negaranya. Hari itu kami tutup dengean ketergesa-gesaan beliau karena harus
menghadiri undangan lainya ia tersenyum kemudian menyalami kami seraya berkata
aku titipkan bangsa ini pada kalian anak muda.
Nara Sumber
Purnawirawan Didi
Supriadi

Posting Komentar untuk "MENYAMBUNG AMANAT PEJUANG"