Ramadhan Kenangan : Bersama para patriot Cilik



Ramadhan Kenangan : Bersama para patriot Cilik
Oleh : W.Hermawan
                Hari ini aku sedang asik duduk sahur ditemani Istri, ini adalah hari ketiga bulan puasa 1439 Hijriah, 2018 tahun Masehi. Memasuki tahun ketiga pernikahan kami, baru kali ini puasa hari pertama ditemani istri, jika berbicara special, hal demikian kita yang menciptakan dan istri saya menciptakan itu dengan caranya. Setelah dua tahun terakhir puasa bertama di Negeri orang. Tugas tetaplah tugas, kini kenangan itu menjadi bahan cerita untuk kusimpan atau di baca banyak orang.
            Puasa bagi sebagian orang merupakan hal yang identik dengan berkumpul bersama keluarga, dan aku adalah sebagian dari orang dengan pikiran seperti itu. Dua tahun lalu awal-awal ramadhan, ku habiskan biasa saja terkadang hanya air bening sebelum tidur dan bangun ketika subuh. Tapi semua itu tak seberat yang terbayang, hari ini ku katakan demikian karena telah kulalui jika waktu masih di tahun itu mungkin aku berpikir lain. Lantas siapa keluarga ku di sana? Untuk mengobati rindu aku menciptakan keluarga baru lebih tepatnya dipertemukan dengan keluarga baru. Selain para patriot cilik muridku, aku memiliki seorang sahabat karib ia sering ku panggil Haji, panggilan lumrah bagi mereka yang telah Haji di sini Nama Aslinya Basso.
            Satu minggu pertama biasanya aku habiskan bersama anak-anak dengan kegiatan pesantren kilat, kegiatan rutin diagendakan setiap bulan ramandhan. Biasanya kami bersama menghapal surat-surat pendek dan setor di ujung minggu. Karena hanya aku guru muslim di situ jadi semua ku kerjakan sendiri, lebih tepatnya hanya ada dua guru dan satunya nasrani. Hari- hari yang tak kusangka akan menyenangkan walaupun setiap sore harus melibas terik matahari di padang sepak bola. Aku sengaja menerapkan buku ramadhan, buku itu ku cetak dengan mesin priter sekolah setengah mati berpikir agar mirip buku. Mungkin bagi anak-anak SMP di Indonesia sudah menjadi hal biasa, di sini itu menjadi hal baru. Ada hal menarik ketika aku membawa buku tersebut, anak-anak ribut meminta bagian, mereka kira itu buku tulis gratis. Setelah membuka helai demi helai mereka kebingungan dan bertanya “pak ini buku apa kenapa banyak sekali isiannya?” perlahan aku menjelaskanya dengan sedetail mungkin. Jawaban yang ku dapat “ah tahu begitu tidak perlu tadi berebut.” Mereka memang begitu kalau berkaitan dengan hal gratis.
            Hari-hari selanjutnya aku isi dengan menjawab pertanyaan bagaimana mengisi tabel-tabel yang ada di buku Ramadhan. Ada yang menbuatku terharu terkait buku sederhana itu, setiap tarawih dan shalat jumat anak-anak itu berebut saf paling depan agar tahu isi dari khotbah tersebut walaupun kadang tidak nyambung antara apa yang di dengar dengan isi tulisan namun semangat mereka begitu beratus banyaknya seperti ketika mereka bercerita mengenai tulisan mereka di buku itu, ada sebagian dari mereka menulis isi dari khotbah yang ada di telepisi karena mereka tidak sempat pergi ke surau saking kenyangnya saat berbuka.
Sore itu aku duduk di pintu depan, sambil melayang-layangkan tangan berharap ada signal telepon, suara decit sepeda motor terdengar tepat di hadapanku, ternyata itu haji. Manusia dengan segala kesederhanaannya, sore itu datang menjemput untuk berbuka puasa di surau, Itu adalah kali pertama aku berbuka di surau terlintas dipikiranku ada qurma dan sirup, makanan andalan yang telah lama tak ku temukan di sini. Terlihat dari luar surau nampak lebih ramai dari hari biasanya aku mengikuti barisan bersama warga lainnya.
            Kali ini prediksiku salah aku tidak menemukan kurma, tetapi semua diluar dugaan isinya makanan berat dan enak-enak semua. Pantas saja anak-anak jarang mau ku ajak buka di rumah tenyata di surau lebih menjajikan, ada kolak pisang hijau, nasi sayap ayam, dan banyak jenis lainnya.
            Libur tiba, kalender sekolah telah menetapkan libur ramadhan saatnya aku pulang, dua hari sebelumnya aku menitipkan rumah pada anak-anak dengan tujuan semoga mereka sadar jikalau kamar gurunya itu sudah lebih mirip gudang perkakas sekolah. Keyataan yang kuterima anak-anak datang berbondong-bondong membawakanku milo juga jajanan warung. Aku sempat bingung apa arti dari semua ini bahkan ada yang mengirimiku minyak juga gula, ada juga beberapa mereka tak ku kenal. Sempat ku jelaskan bahwa aku akan kembali lagi ke sini seusai lebaran, mereka tahu itu, ternyata memang kebiasaan di sini begitu jika ada kabar tetangga atau orang ladang yang akan mudik mereka dengan senang hati berbagi bahan pokok, selain symbol kerinduan mereka terhadap kampung halaman, hal itu mereka jadikan sebagai ajang titip salam untuk keluarga mereka di kampung. Tapi pertanyaannya siapa saudara mereka yang sekampung denganku? Tidak ada. Aku anggap ini sebagai bentuk perhatian mereka pada aku siperantau.
            Malam sebelum aku bertolak ke Kampung anak-anak berkumpul di rumah hal itu tanpa komando dariku. Mereka telah merencanakan ini semua tanpa aku tahu, di luar kurang dari sepuluh motor sudang siap, dalam hati lumayan dapat tumpangan gratis sampai depan gate kebun. Bergaya arak-arakan pengantin mereka rapih berjajar dibelakang walaupun sesekali mereka mengeluh karena debu jalanan, kemudian memperingatkan agar motor yang membawaku tak perlu terlalu laju.  Ternyata ada dua orang yang bertugas mengantarkanku hingga simpang sapi (nama jalan) selebihnya menunggu di gate, jarak antara gate dan simpang sapi cukup jaur ± 10 km. jadi hanya anak-anak yang memiliki keberanian lebih dan juga lessen (surat ijin mengemudi) yang kemudian mengantarku kesana. Aku terkejut ketika beberapa anak putri menyalamiku dengan isakan tangis. Sempat aku tanyakan perihal mengapa mereka menagis toh aku hanya berlibur beberapa minggu saja. Ternyata bagi mereka kepulanganku yang beberapa minggu itu lama sekali, mungkin itu karena kehidupan mereka lebih sering berkumpul ketimbang berpisah.
            Saat itulah air mataku rembes cengeng memang tapi terharu, masih rupanya aku berguna walaupun hanya untuk segelintir manusia. Mereka masih berisak tangis hingga lambaian tangan mereka tak terlihat lagi oleh mataku.

Terusan 1 Sabah-Malaysia
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "Ramadhan Kenangan : Bersama para patriot Cilik"