Kurap Sang Juru Tulis

Oleh: Wawan Hermawan

Tempat ini adalah tempat dimana Max Hevelar menulis, banyak hal yang ia tulis hingga akhirnya negeri Belanda tahu akan penderitaan rakyat Banten. Ratusan tahun berlalu semenjak itu, aku terlahir dan besar disini tidak banyak berubah semenjak tulisan Max kubaca. Sistem pertanian masih seperti era kolonial, namun tidak dipungkiri manusia tumbuh dengan cepat begitu juga kebudayaan. Kini era kolonial telah berganti menjadi era pabrik, manusia di sini sedang asik menjadi bagian dari semua itu hingga rupiah datang menggunung. Masa berlibur telah tiba setelah sekian lama aku merantau menjadi manusia, akupun ingin pulang, di semua kenangan tertinggal.

Sepanjang perjalanaan menuju kampung, aku di suguhi jalan penuh lubang dan teriakan kenek mobil Ps ( Minibus) saling tawar harga dengan penumpang, aku tak mau ikut pusing sebelumnya aku telah mengosongkan isi dompet agar kenek sialan itu sadar tidak setiap orang pulang bawa uang. Tidak setiap orang liburan itu kaya. Panas didalam mobil bercampur keringat, raungan mesin tenaga solar membuat telingaku pengang. Aku masih mengukur jarak dan membayangkan meraka teman-temanku. Bagaimana kabar si kurap?. Aku punya kenangan teramat membekas dengan manusia ini, dulu sekali ketika pohon karet perkebunan baru-baru ditanam dan aku masih menggunakan seragam putih biru. Setiap pagi kami akan berkumpul di jembatan baru. Setiap pagi juga aku harus mendengarkan si kurap ini mengeluh atas panu yang ada di mukanya.

Sejak kecil aku telah mengenal ia dengan nama Jaya. Namun semenjak dia memasuki akil balig namanya berubah menjadi kurap. Sebutan yang kurang mengenakan sebenarnya tapi mau apalagi, waktu seusia itu memberikan julukan pada teman sebaya sepertinya biasa saja. Aku sendiri dapat julukan Magrib dengan arti kulitku yang lebih legam hitam diantara kawanku lainnya. Biasanya julukan itu mengarah pada kekurangan fisik seseorang dan kami tidak pernah merasa terhina biasa saja walaupun sesekali sakit juga. Dari atas jembatan biasanya aku menunggu semua temanku untuk berangkat sekolah, pagi sekali adzan subuh saja baru selesai, tapi tetap saja selalu kesiangan sampai sekolah bukan hanya jauh namun mobil di sini seperti tak kenal setoran, kalau pagi biasanya mereka sibuk balapan, apa peduli mereka dengan anak sekolah yang hanya bayar gopek.

Biasanya pembicaraan pagi kami mengenai PR dari sekolah, kemudian masalah surat cinta. Diantara kami si Kurap pemilik tulisan paling rapih dan indah alhasil kami selalu menyuruhnya menulis lembaran surat cinta. Jika selesai tepat waktu biasanya ia akan bebas ongkos pergi ke sekolah atau makan nasi uduk bi Ipah dengan telur lebih banyak. Entah kenapa dengan si Kurap ini, perubahan hormone yang di alami pemuda seusia kami biasanya tumbuh jerawat, dan selalu diakaitkan dengan rindu. Tapi mukanya malah dipenuhi panu sepertinya itu juga bagian dari sebuah pertanda pertumbuhan. Lalu panu harus kami kaitakan dengan apa?. Ia pun selalu mengeluh padaku seandainya yang tumbuh ini adalah jerawat mungkin aku akan terlihat lebih gagah, kenapa harus panu. Walaupun mukanya penuh dengan panu tapi ia selalu berusaha sama dengan kawan lainya, seperti masalah rambut ia selalu kelimis dan dahinya selalu menyala.

Kami nongkrong menunggu mobil, setiap pagi sebelum berangkat sekolah, angkutan pada masa itu belum begitu banyak pilihan. Kendaraan roda dua masih sangat jarang yang punya. Diantara kawanku hanya aku dan si kurap yang tidak meroko alasannya sederhana masih dekat dengan rumah perkara lain kalau nanti di sekolah. Pagi merupakan hal mendebarkan yang kami lalui sepanjang kami masih sekolah, bagaimana tidak kami ditempatkan di atap mobil paling atas berjubel dengan barang penumpang, walaupun sebenarnya didalam mobil masih kosong melompong tapi itu diperuntukan bagi para kaum hawa. Setelah itu kami masih harus jalan kaki kurang lebih satu kilo meter untuk sampai ke sekolah yang punya uang naik ojek, yang tidak ya,, ngisep debu ojek. Sekolah kami berada di jalur penambangan pasir jadi sebaik apapun jalan ini tetap saja akan berlubang. Aku masih mengingat dibelakang kelasku ada dua pohon kelapa sawit yang sudah cukup tua, kemudian pagar besi yang hampir ompong karena setiap hari berusaha dibuat lentur oleh kami jika tak tahan ingin pulang lebih cepat. 

Bel menjerit-jerit, bagiku itu bukan hal penting bukanya sama saja ada bel ataupun tidak kami akan tetap istirahat. Jika istirahat tiba aku akan melihat aksi sikurap mengirimi surat pada perempuan-perempuan yang sebelumnya telah ia komunikasikan dengan pemilik surat itu, sudah menjadi tugasnya bahkan hampir setiap hari, maklum manusia jika sedang kasmaran lupa kalau dia masih menginjak tanah. Tujuan utama kami adalah kantin bi Ipah ada nasi uduk dan telor rebus yang dibelah jadi dua, biasanya kami bergerombol, hanya Jaya yang tidak ikut biasanya ia menyusul karena tugasnya cukup banyak.

Kantin yang selalu sibuk apa lagi jam Istirahat, bagian belakang biasanya sibuk dengan para ahli hisap peroko pemula maksudku. Aku biasanya ikut sebagai perokok setelah habis makan uduk, jika sengaja membeli rasanya terlalu berat, biasanya aku hanya meminta satu atau dua isap dari rokok kawanku yang lainnya dari pada Cuma kena penyakitnya. 

“Brak,,Buk..buk mati kau Kurap sialan!!” suara gaduh itu tiba-tiba datang di ikuti kerumunan orang, ternyata itu Jaya ia sedang gelut dengan temannya sendiri, sebagai teman sekampung tentunya aku berada di pihak Jaya entah apa masalah anak ini. Kami saling melerai satu sama lain tanganku sibuk memegangi Jaya, emosinya seperti banteng bertemu kain merah menyala sejadi-jadinya.

“Dasar Kurap sialan tak tahu terima kasih!” umpat lawan dari Jaya

“jaga ucapanmu, Bangsat.” Jaya mengimbangi, aku heran padahal sebelumnya mereka baik-baik saja tak pernah ada masalah.

“Jangan salahkan aku kenapa si Mirna lebih memilih aku, kau sendiri pengecut mana mau dia dengan pria sepertimu aku di bayar olehmu bukan mauku, si Mirna lebih memilih aku juga bukan mauku dia lebih tahu siapa sebenarnya yang menulis surat itu, ia sudah mengenal tulisanku lebih lama dari mu, dan ia tak mungkin percaya itu tulisanmu jadi dimana salahku.”

“Ah sini kau, banyak omong.”

Pertikaian itu masih berlalu hingga akhirnya seseorang harus memanggil guru, untuk melerainya belakangan aku tahu tentang masalah ini ternyata ini semua karena Cinta. Tidak ada yang tahu pasti kenapa Mirna memilih Jaya lelaki penuh kurap itu. 

Semenjak pertengkaran itu Jaya memilih mengalah toh masih banyak perempuan lain yang masih menuggunya. Puisi-puisi miliknya selalu menghiasi mading sekolah dengan nama pena Kelana. Manusia itu memang hebat berkata-kata entah dari mana ia mendapat wasilah. Ia tahu apa yang diinginkan oleh wanita pada masa itu, wanita adalah pendengar dan lelaki adalah perayu, puisi-puisinya telah banayk menelurkan Cinta seperti bait-bait sakti yang sengaja ia buat. Aku masih mengingat itu. Sekarang apa yang ia lakukan. Tujuanku hampir sampai dan besok aku ingin bertemu dengan Jaya yang kini sudah tak Kurap lagi.


Lebak 2007 
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "Kurap Sang Juru Tulis"