MENGENANG HARI BURUH 1 MEI
MURIDKU BURUH ASING
Oleh : Wawan Hermawan
Tanggal
satu mei merupakan hari buruh dunia, aku selalu mengambil bagian dalam
peringatan ini, karena memang bapak adalah seorang buruh pabrik, tanggal ini
adalah tangalnya dia. Setelah reformasi yang terjadi pada tahun 1998 masyarakat
mulai berani menyampaikan pendapat di ruang publik. Setelah puluhan tahun
terbungkam oleh model kepemimpinan yang berlaku, akhirnya rakyat memimiliki
kebebasan sendiri untuk menyampaikan keluh kesahnya kepada pemerintah. Tahun
2013 tanggal satu mei menjadi momentum bagi seluruh bangsa Indonesia karena di
tetapkan sebagai hari libur Nasional. Tahun-tahun berikutnya satu mei menjadi
ajang para buruh dalam menyampaikan pendapat dihadapan pemerintah
oraganisasi para buruh semakin kuat, namun belum kuat untuk merubah model
kapitalisme yang telah mengakar.
Bersamaan
dengan bergeraknya para buruh dalam melawan segala bentuk kesewenang-wenangan,
akupun beranjak besar namun aku tidak ada pada sudut pandang sebagai buruh. Setelah
selesai dari perguruan tinggi aku memutuskan menjadi seorang guru. Perjalanan
hidupku berbada dari bapak namun bapak selalu mengingatkanku tentang kejujuran
dalam setiap tindakan. Kemudian aku memulai menjadi seorang guru dari daerah
daerah terpencil dan melihat banyak hal baru serta pola masyarakat berbeda dari
kehidupan masa kecilku. Hingga pada akhirnya aku mengajar anak-anak buruh di
negeri asing, sebagai salah satu program pemerintah dalam penyamarataan
pendidikan untuk seluruh rakyat Indonesia.
Dua
tahun mengajar ditengah perkebunan kelapa sawit, banyak hal baru yang aku temui
terutama manusia di sana. Siapa yang aku ajar? Mereka adalah anak-anak buruh
dan sebagian mereka juga adalah buruh. Orang-orang Indonesia yang menjadi buruh
di sana hanya ditingkat dasar saja seperti penombak, jabatan tertinggi mereka
sebagai Mandor perusahaan. Aku tidak ingin membahas bagaimana mereka masuk
karena itu bagian dari sejarah panjang. Perkebunan-perkebunan di sini sangat
tunduk pada aturan pemerintah karena jika sedikit saja mereka melenceng dari
aturan, maka pemerintah tak segan-segan mencabut ijin perusahaan. Model
perkebunan yang sangat rapih aku berharap negerikupun sama menempatkan aturan
dengan pengawasan yang ketat. Disini aku melihat bagaimana warga Negara Malaysia begitu
di lindungi, jika ada warga negara Malaysia meminta pekerjaan pada perusahaan kemudian
mereka menolaknya secara sepihak padahal diperusahaan itu terdapat pekerja
asing maka warga Negara Malaysia bisa langsung melaporkanya kepemerintahan. Kemudian
tidak lama pemerintah akan segera menindak lanjutinya. Dari mana tahu semua
itu, waktu itu ada seorang teman datang dan berbincang mengenai aturan di sini.
Namun
ada yang aku sayangkan sebagian dari pekerja yang berasal dari Indonesia tidak
memiliki copy-an dari kontrak kerja mereka, sehingga terkadang mereka tidak
tahu hak dan kewajiban mereka sebagai pekerja. Sebagian dari mereka tidak
banyak peduli, pernah sekali aku tanyakan pada temanku ia hanya menjawab sudah
sukur ada yang mau kasih kerja. Dalam hati betapa sulitnya bekerja di Negara
sendiri hingga nyawapun mereka korbankan. Aliansi buruh disini tidak seperti di
Indonesia, karena mereka memang masuk dengan cara berbeda-beda ada yang melalui agensi, ada
juga yang dengan sendiri bermodal keberanian. Jika ditanya apa peranan
pemerintah Indonesia untuk pekerjanya di sana, ya sama saja seperti kita di
sini Indonesia.
Seperti
Negara Indonesia, Sabah Malaysiapun merayakan hari buruh, anak-anak sekolah tentunya
libur, bedanya di sini satu bulan menuju hari buruh biasanya para pekerja
disibukan dengan kegiatan-kegiatan olahraga. Suatu hari anak muridku yang
kebetulan juga sebagai buruh bertanya mengenai peringatan hari buruh ia
membandingkan antara Indonesia dan Malaysia dalam merayakan hari buruh, ia seperti memeliki pandangan
mengerikan tentang hari buruh di Indonesia yang selalu demo besar-besaran. Aku
tidak dapat banyak menjelaskan kenapa, tetapi hanya memberikan gambaran
bagaimana pendidikan telah berhasil banyak membuka mata pekerja
Indonesia. Nampaknya muridku kebingungan tentang makna dari hari buruh,
bukankah hari buruh seharusnya dirayakan dengan Euphoria bukan dengan turun kejalan panas-panasan.
Karena
memang hari buruh di Sabah-Malaysia tempat muridku bekerja disetting seperti itu buruh
asing dengan dengan buruh tempatan jumlahnya lebih banyak buruh asing karena
masyarakat asli di sini lebih memilih bekerja sendiri ketimbang bekerja kasar,
dan populasi manusianya juga sedikit.
Aku
sudahi dulu tanggapan siswaku tentang hari buruh di Indonesia, bagaimana dengan
buruh di negeri Sendiri. Akhir-akhir ini pemerintah mengeluarkan Perpres no 20
tentang mempermudah pekerja asing masuk ke Indonesia. Besok adalah hari buruh
aku rasa kali ini perubahan ada di tangan buruh. Setelah banyak kasus TKA asing
yang melanggar aturan dan bekerja pada tingkat-tingkat dasar yang biasanya
dilakukan orang-orang Indonesia sendiri. Aturan ini telah melukai hati para
buruh. Tidak sedikit para buruh di Negara Asing ingin pulang dan bekerja di
Negaranya sendiri namun terkadang kemampuan mereka lebih berguna di negeri
orang lain dan di anggap tidak ada, terlebih upah yang sangat murah bagi para
pekerja Indonesia dinegerinya sendiri ketimbang di Negeri orang.
Entah apa yang terlintas dipikiran pemerintah
tentang aturan ini. Apakah mereka kurang riset atau ada kongkalikong dengan
Negara lain yang dibebankan pada rakyat. Ah mungkin itu hanya prasangka
pribadi.
Cirebon-dan Kemudahan Buruh Asing

Posting Komentar untuk "MENGENANG HARI BURUH 1 MEI"