Mutiara Kebun sawit
W.Hermawan - Pagi dalam ingatan, adalah gemuruh suara kendaraan juga ratusan manusia hilir mudik disamping kamarku. Listrik jatah dari perusahaan sebentar lagi padam senada bersama teriakan bel para pekerja yang memecahkan telinga, semua orang sibuk masak nasi setelah itu memasak lauk seadanya. Aku masih pada posisiku terlentang atau sesekali duduk mengintip dari balik jendela. Beberapa menit kemudian kendaraan-kendaraan pengangkut kelapa sawit mulai bergerak mengikuti perintah. Sesekali mataku memilih untuk membuka buku berjudul Suma Oriental yang lama telah ku baca namun saking tebalnya terkadang aku muak, kemudian memilih tidur kembali. Tidak ada goreng pisang apalagi kopi hangat, adapun untuk apa.
Ruang berukuran penjara telah begitu hangat dalam keseharian. Sepertinya dunia hanya terbuat dari tembok ini, sisanya adalah khayalan yang terbuat begitu saja, semua orang sibuk dengan alasannya masing-masing. Diantara terpahan sepi, aku tak menemukan jawaban bagaimana mengatasinya. Gambar - gambar istriku sengaja ku tempel rapih jika rindu aku masih dapat melihat senyumnya walau tak bergerak. Itu adalah alasan sepele karena aku tak dapat setiap hari menghubunginya sudah listrik terbatas, signal telepon seluler juga musim-musiman. Ada juga foto murid SMP dengan gaya kesebelasan sepak bola juga baju sama percis hadiah dari kawan-kawanku di kampung untuk mereka agar semangat belajar, foto itu sengaja ku cetak ukuran poster setidaknya sebagai penanda bahwa mereka ada walau kadang batang hidungnya sulit kutemukan. Semua aktivitas aku mulai tengah hari. Dari mulai mandi juga memilih baju yang cocok untuk nanti digunakan saat mengajar.
Dalam beberapa hari ini tugasku bertambah, selain mengajari anak-anak SMP aku juga harus sibuk menyiapkan materi atau menyulap beberapa kertas warna menjadi perangkat belajar. Ini semua terjadi begitu saja setelah gossip yang menyebar dari warga sekitar mengenai guru sekolah pagi, mereka dianggap tidak bisa mengajar. Itu semua bukan tanpa alasan, patokan dari orang tua mereka adalah anak-anak yang berusia lebih dari sepuluh tahun namun membaca saja sulit. Namun setelah ku telusuri dan coba dilihat baik-baik ternyata ada beberapa anak yang kesulitan menyatukan huruf-huruf dalam ejaan inggris ke dalam kata-kata melayu. Tidak mungkin itu semua ku jelaskan pada orang tua yang sepertinya sudah muak dengan hasil belajar anak-anaknya karena tidak banyak berkembang. Aku juga tidak bisa menyalahkannya toh tugas mengajar anak-anak itu hanya bagian kecil dari tugas perusahaan yang juga tidak banyak menguntungkan bagi mereka, fungsi utama sebenarnya agar anak-anak itu tidak lari dan mengacau orang tuanya saat bekerja. Jadi ingat sejarah jaman penjajahan pendidikan hanya digunakan untuk kepentingan para tuan tanah.
Matahari sedang terik-teriknya, kulitku sudah terbakar berkali-kali jadi tak begitu ada bedanya. Jika beruntung ada pekerja baik hati kemudian mengajak aku naik kendaraannya hingga ke sekolah. Terkadang aku lebih sering naik alat berat yang di kemudikan siswaku, untuk sampai ke sekolah, roda-roda besar menggilas tanah menerbangkan ribuan debu. Tanah di sini begitu gersang, apalagi baru-baru ini pohon kelapa sawit sedang peremajaan. Generator sumber satu-satunya listrik disini tak pernah berhenti meraung, generator bisa menghabiskan berliter-liter minyak dalam setiap harinya jika generator ini berbunyi itu pertanda di sekolah masih ada listrik.
Setibanya di sekolah aku disambut dengan teriakan histeris juga kaki-kaki kecil berlari menyambutku. Mereka berebut dari mulai tas sepatu, atau apa saja yang bisa mereka bawa untuk membantu meringankan beban gurunya. Tapi bukan hanya itu terkadang aku digelayuti bocah bocah kecil dari tangan sampai kaki, hingga kaki harus di seret agar bisa jalan. Ya..begitulah anak-anak di otaknya dipenuhi gairah bermain. Keadaanya di sini sedikit berbeda mereka tidak akan duduk rapih jika guru datang hingga benar-benar aku datang menghampiri mereka. Tidak ada guru lainya di sini hanya ada aku, aku seorang diri dengan kewarganegaraan sama seperti para muri-murid jagoan ku..
Melihat mereka berlarian terkadang aku tersenyum sendiri, seperti bercermi melihat diriku saat kecil. Mereka akan terdiam ketika aku mulai menuliskan satu huruf atau menggambar sesuau di papan tulis. Percuma kalian berteriak di sini, membentak apa lagi memukul, mereka telah kuat dengan semua itu, hal tadi telah menjadi keseharian mereka walaupun tak semuanya. Jangan pernah sekali-kali bertanya mengenai cita-cita karerna mereka akan menjawab cita-cita itu apa? Berupa makanan atau pakaian.
“pak…ada murid baru!!” teriak mereka bersama-sama mulut mereka seperti anak burung pipit saat diberi makan ramai sekali. Aku masih belum begitu focus pada murid baruku hingga mereka berteriak. Perempuan dengan rambut kelimis dan bau rambut terbakar matahari. Satu-satunya murid yang memilih tak banyak bicara.
“namamu siapa?”
“Ece..pak!!” teriak murid lainya, gadis ini masih belum menjawab pertanyaanku ia hanya menundukan kepala malu. Hingga aku harus bertanya untuk kedua kalinya.
“namamu siapa?”
“Ece..pak.” dia hanya menjawab seperlunya saja. Aku pikir tak mungkin nama aslinya Ece, kebiasaan di sini adalah, mereka tak pernah tahu nama asli mereka karena sehari-hari lingkungan sekitar memanggil mereka dengan nama panggilan, begitupun dengan nama orang tua mereka, jika bertanya ada saja jawaban yang aneh, seperti ketika itu aku bertanya pada seorang anak tentang nama ayahnya untuk mendata mereka. Siapa nama bapakmu? Tanyaku, ia menjawab Wak Janggut. Kemudian aku coba memastikan pada teman lainya mereka menjawab sama seperti itu Wak Janggut katanya. Sampai akhirnya aku datangi rumah mereka satu persatu untuk memastikan nama orang tua dan juga nama sebenarnya anak mereka, ternyata masalah ini bukan hanya ada dianak, sebagian orang tua terkadang seenaknya merubah nama anak mereka, bagaimana enaknya. Bagaimana dengan catatan kelahiran, jangan harap mereka punya. Surat nikah saja mereka tidak tahu bentuknya. Kesinambungan antara orang tua dan murid untuk mencapai pendidikan yang baik itu masih sebatas omong kosong untuk beberapa orang tua di sini. Pendidikan ya.. apa yang di hasilkan setelahnya, semakin tinggi harus semakin banyak.
Aku masih mencoba mengintrogasi si anak baru tadi, banyak jawaban yang mengejutkan darinya, ia belum pernah sekolah sama sekali padahal umurnya menginjak delapan tahun. Saat itu ia masih belum punya buku, baru kertas saja satu lembar dengan pensil, pensil itu panjangnya tidak mencapai lima senti. Matanya coklat, butiran air mengelayut pada bibir bagian atas sepertinya ia gerogi dengan semua itu. Sesekali aku melirik keluar jendela ada siapa bersama Ece. Sesosok lelaki mengintip dari balik jendela. Setelah ku tanyakan pada anak-anak yang lainya ternyata itu kaka Ece, sepertinya umur mereka tak terpaut jauh satu atau dua tahun saja. Aku coba menyapanya dengan berjalan keluar tapi apa yang ku dapat ia berlari mejauh keluar sekolah.
Anak-anak ini tak pernah meminta berada di ladang ini terasing dari banyak hal, namun kedua orang tua mereka seperti tidak memiliki pilihan lain. Di kampung halaman tidak banyak sanak saudara karena hampir semuanya di sini. Jadi ini telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tidak ada yang bisa memilih akan lahir dari rahim siapa, dan tinggal dimana hingga akhirnya kita sadar semua itu adalah proses menjadi manusia.
Kehidupan mereka terbuat dari petak-petak ruangan yang sengaja dihiasi agar mereka serasa di rumah sendiri. Berbeda kenegaraan tak pernah menjadi pertanyaan berarti dalam kehidupan mereka, perut yang hanya sekepal tak cukup membatasi nafsu manusia hingga samudra juga pentungan polis tidak mudah menjadikan mereka takut dan bergeming untuk pulang. Aku tak pernah melihat kecanggungan mereka pada setiap pembicaraan mengenai perbedaan kenegaraan. Nasionalisme menjadi gurauan semata jika ada kesempatan berpindah warga Negara mengapa tidak, namun itu cukup sulit. Keluguan anak-anak telah menjadi penawar tersendiri bagi orang tua mereka, walau terkadang anak kecil cukup sulit dimengerti. Bahasa anak-anak sangatlah lembut dan manis mereka hanya butuh perhatian lalu tersenyum tapi orang tua mereka terlalu sibuk mengurusi masa depan yang tak pernah kunjung terselesaikan.
Mataku semangat ketika melihat Ece datang ia adalah manusia yang tak mengenal hujan dan terik matahari, semangatnya sekolah terkadang membuat aku malu jika harus terlambat. Tas kresek yang ia tenteng menjadi kebanggaannya, hingga kelak ayahnya membelikan tas kecil berwarna merah jambu. Kakaknya masih setia mengantar, walaupun tak pernah menggandeng adiknya itu, aku tak pernah memaksa kakanya belajar biarkan saja nanti ada waktunya ia masuk dan belajar bersama kami karena di usia mereka guru terbaik adalah orang tua.
Hidup di sini tentunya sarat dengan masalah, tendensius penduduk lokal tentunya selalu terasa saat para pendatang menjadi primadona di perkebunan, walaupun posisi pendatang tak pernah lebih tinggi dari pemilik tanah bangsa. Seperti saat itu aku pernah terkena imbasnya, saat atasan kebun datang dan mamintaku untuk tidak mengajar anak-anak kecil karena sudah ada sekolah pagi. Hingga aku harus mempropokasi anak-anak agar mereka memilih bersekolah dengan siapa, pagi hari atau bersamaku siang hari. Dalam beberapa minggu sekolah pagi menjadi sepi dan sekolah siang semakin banyak. Hatiku melambung menang di atas awan aku tak peduli nanti si Tuan menjadi seperti apa.
Permasalahan ini berlangsung cukup alot, aku dipanggil kembali oleh si Tuan hingga akhirnya aku menantang beliau untuk membubarkan sekolah siang. Tantanganku ternyata telah membuatnya sedikit kendur. Karena jika ia harus membubarkan sekolah siang berarti ia telah mengurangi pekerjanya. Pekerja semakin dewasa mereka memilih ladang yang mau memberikan pelajaran bagi anak-anaknya terutama anak-anak usia sekolah dasar. Jadi jika ia membubarkan sekolah berarti aku akan mempropokasi lagi dan itu berarti perusahaan akan kekurangan pekerja. Tak lama dari pristiwa itu si Tuan diberhentikan dari perusahaan bukan karena kasus yang ku alami namun karena ia mencuri banyak kayu untuk di jual. Sekolah kembali normal anak-anak tidak perlu memilih pagi atau siang mereka akan sesuka hati mereka sekolah pagi atau siang. Bagaimana dengan Ece. Perempuan manis ini bercerita dengan bangganya jika ia sudah boleh bersekolah pagi oleh ayahnya, aku mengikuti senyumnya. Semangatnya selalu menggebu jika membicarakan berbagai hal mengenai belajar.
Siang itu seperti biasa aku akan menerjang panas juga debu untuk menuju sekolah. Sebelum sampai di pintu kelas mataku menangkap sesuatu yang terpantul dari jendela kaca, sesosok pria dengan rambut klimis dan duduk paling rapih di kursi belakang. Kelas kala itu belum begitu ramai biasanya menghadapi hari gajih memang begitu anak-anak lebih memilih pergi bersama orangtuanya ketimbang datang ke sekolah hanya ada beberapa saja. Sesampainya di kelas aku segera munuju kursi tempat dimana biasa aku duduk. Lelaki itu masin menundukan kepalanya aku belum begitu jelas melihat wajahnya, tiba-tiba Ece datang manghampiriku.
“pak itu kaka ku Acok dia ingin ikut sekolah.” Aku menjawabnya dengan senyum oh manisnya hari ini.
Mungkin ini sudah saatnya menurut Acok untuk duduk dan belajar bersama adiknya, aku berdiri dari kursi kemudian menuju lelaki dengan perangai mirip Ece. Ia masih nampak malu pertanyaanku tidak jauh berbeda ketika Ece datang, namun sepertinya ia datang dengan motifasi lebih tinggi dari adiknya.
“aku ingin belajar pak, adiku sudah pandai membaca sedangkan aku sedikitpun tak tahu.” Mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata walaupun hanya sedikit. “Ece selalu memintaku untuk membantunya membaca, padahal ia tahu jika aku tak bisa membaca selebihnya ia mengoloku hingga aku ingin sepertinya bisa juga membaca.” Perkataan yang cukup sederhana namun membuat jantungku seperti berhenti beberapa detik dari biasanya. Ini sudah saatnya hatiku merayu.
Hari-hari menjadi lebih menyenangkan karena ada Ece dan Acok kakak beradik dengan tekad dan semangat pantang kendur. Mereka adalah perwujudan dari banyak manusia, mereka cerdas juga santun. Hingga waktu terasa begitu cepat aku sempat meneteskan airmata melihat perkembangan Ece begitu cepat ia menyalip kawan-kawan lainya dalam hal membaca dan Acok melahap semua bagian pada perkara menghitung. Seperti ini rasanya melihat mutiara yang ditemukan jauh didasar tanah, bahagia rupanya.
Hingga hari itupun tiba aku tak pernah berjumpa dengan kedua orang tua mereka secara benar-benar dan berbicara mengenai perkembangan mereka, itu karena jam terbang manusia di sini teramat sibuk. Ece datang dengan baju begitu rapih dan wangi, begitupun Acok aku mencium rambut mereka satu persatu hingga tak sadar air mataku menetes mengalir lembut melewati pipi. Hari itu aku datang membawa sebuah kamera untuk mengabadikan mereka, tidak pernah ada komando sebelumnya, namun kakak beradik itu seperti mendapat bisikan untuk berbaju rapih pada hari ini.
Satu persatu aku panggil para jagoanku menuju kain merah yang sudah kupersiapkan. Ece dan Acok ada dalam antrian berikutnya senyum mereka teramat manis hari itu diantara kegaduhan anak-anak yang lainya Ece dan Acok masih tetap tenang. Aku tak bisa membawa kalian dan ini adalah kepingan sejarah yang harus ku bawa, hatiku bergumam. Setelah hari itu aku pulang untuk bertugas di tempat lain tak ada kabar perpisahan sebelumnya karena memang sengaja aku tak ingin mereka melihat aku menangis.
Sabah-Malaysia
Posting Komentar untuk "Mutiara Kebun sawit"