Menjaga Nasionalisme dengan Sejarah


 W.Hermawan - Sejarah adalah guru kehidupan, ungkapan filsuf Romawi Cicero, (106-43 SM) bukan hanya sekedar selogan penyemangat namun ungkapan yang harus kita praktikan dalam keseharian agar kita dapat lebih bijak menyikapi sesuatu yang terjadi saat ini, berbicara sejarah tentunya tidak lepas dari manusia sebagai topic utama. Jika manusia adalah topic utama dalam sejarah, maka tidak akan lepas dari pristiwa-pritiwa yang pernah dilakukannya, pristiwa ini hanya berlangsung sekali dalam perhelatan waktu namun dapat dijadikan sebagai pedoman untuk masa depan dalam mengambil langkah dalam setiap kehidupan. Lalu apa kaitanya dengan Nasionalisme bangsa ini, Nasionalisme sendiri menurut kamus besar bahasa Indonesia kesadaran keanggotaan suatu bangsa secara potensial atau actual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan semangat kebangsaan. Berbicara mengenai Nasionalisme tentunya harus dibarengi dengan unsure-unsur yang ada di dalamnya.
            Jika kita sadar sejarah, tentunya banyak manfaat yang dapat kita ambil karena sejarah banyak mengajrkan gejala dari suatu pristiwa yang memungkinkan pristiwa serupa dapat terjadi dilain waktu. Menyadarkan setiap orang mengenai pentingnya menganalisa suatu pristiwa tidaklah mudah, namun dengan peranan sejarah tugas itu sedikitnya dapat menambah kewaspadaan kita terhadap situasi-situasi yang sedang terjadi, jangan sampai kita terjebak pada gelombang arus kemudian membawa kita pada kekecewaan.
            Kita tidak bisa bermain santai mengenai hal ini. Jika kita berikrar Nasionalisme adalah harga mati kita juga harus banyak belajar mengenai cara mempertahankan keutuhan Negara. Pelajaran teramat penting tadi dapat kita peroleh dari pristiwa-pritiwa sejarah. Sebagai Negara multikultur juga kepulauan tentunya tidak mudah untuk mempersatukan tekat dengan kebiasaan berbeda, namun sejarah telah membuktikan kita bisa merdeka dan lepas dari penjajahan penjajahan bangsa lain. Tetapi akhir-akhir ini negara kita sedang mengalami pergolakan penting yang juga menyinggung Nasionalisme, dan orang-orang di dalamnya. Isu-isu itu muncul tentunya bukan secara kebetulan, bisa saja memang dibuat untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Hal-hal yang terkadang kita anggap sepele bisa saja menjadi bom waktu kemudian meledak dan memporak-porandakan setiap isinya,
            Bangsa Indonesia adalah salah satu Negara potensial dalam sumber daya alam, tidak heran sejak dulu kita selalu di rongrong oleh penjajah. Hal ini tentunya harus sering kita pelajari agar penjajahan dengan gaya modern tidak memecah belah kita menjadi bagian-bagian rapuh yang dapat dikuasai oleh para penjajah. Sejarah telah banyak membuktikan mengenai kehancuran dari sutu Negara, akibat proses kesewenang-wenangan pemimpin ataupun juga ketidak pedulian manusia-manusia didalamnya. Kehancuran-kehancuran tersebut tentunya selalu dibarengi oleh perang yang merugikan kedua belah pihak. Hal-hal tersebut tentunya tidak ingin terjadi pada Negara kita, kemerdekaan yang telah direbut dengan darah para pejuang harus dipertahan sekuat tenaga.
            Sejarah telah menyodorkan gejala-gejala dari setiap pristiwa hingga kita belajar dari hal-hal tersebut. Isu-isu yang biasanya dihadirkan untuk memecah belah suatu bangsa selalu berkaitan dengan Agama, Ras, dan Kebudayaan.
            Menghadapi pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung baik itu kepala daerah maupun Pusat tentunya politik akan sedikit memanas. Setiap pasangan akan memngeluarkan strategi dalam merebut masa untuk kemanangan itu sendiri. Namun tidak sedikit juga pihak tidak berkepentingan dalam pemilu ikut campur membuat isu-isu politik kemudian menyambar hal-hal lain selain pemilu. Masyarakat harus waspada dalam kondisi seperti ini biasanya para penebar isu selalu menyerang hal-hal krusial yang di miliki bangsa kita. Sejarah telah mengajarkan pada kita bagaimana Uni Soviet akhirnya pecah salah satu penyebab perpecahan yang terjadi pada Uni Soviet terjadi kerusuhan antara Azerbajian dengan mayoritas penduduk muslim dan Republik Soviet Armenia dengan myoritas kristennya. Gejala-gejala seperti tadi harus kita pahami betul agar bangsa Indonesia tidak bernasib sama dengan Uni Soviet, Agama memang selalu dijadikan komoditi politik yang empuk, selain atas dasar kefanatikan para pengikutnya juga banyaknya jumlah mereka, kemudia sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang dengan kepentingan tertentu.
            Tentunya kita tidak ingin berakhir seperti Uni Soviet dan Indonesia tinggal Sejarah, pada akhirnya hanya mampu dapat diceritakan. Keterlibatasn setiap orang dalam dunia perpolitikan tentunya harus juga di dasari akan kesadaranya bernegara dengan baik apabila tidak maka ia akan mengekor pada ke fanatikan belaka. Isu yang sering dilemparkan pada maysarakat umum Indonesia selain tiga isu tadi adalah mengeni Komusis dengan golongan Agama.  Komunis salah satu isu yang selalu menggairahkan terutama dalam memecah konsentrasi public, demam komunis ini telah sangat akut dinegara Indonesia, bukan berarti kita harus terbuai dengan ajaran yang memang tidak dapat menunjukan taringnya di dunia ini. Namun kita juga tidak dapat dengan semena-mena menuduh setiap orang komunis hanya karena ia tidak menjalankan perintah agama, berbeda cara pandang dengan kelompok lainnya atau sedang berdiskusi mengenai pemikiran komunis, memahami pemikiran komunis tidak lantas menjadikan pembaca komunis seutuhnya karena pada setiap pristiwa selalu ada pelajaran yang berarti untuk dapat kita terapkan.
            Hal-hal demikian tadi selalu mudah berkembang terutama pada era modern seperti ini dimana semua orang dapat menyebarkan konten berbau hasutan dan menyebarkanya begitu saja. Selain menjaga Nasionalisme dengan tidak mudah terbawa oleh isu-isu politik saat pemilu berlangsung kita juga harus mampu berkaca pada sejarah pengenai bagaimana pola pemimpin jika nantinya ia menjabat sebagai kepala daerah maupun kepala Negara. Jika kita berbicara mengenai pemimpin saat ini kita akan melihat munculnya kekuatan-kekuatan lama naik  ke kepangung politik, namun tidak dipungkiri dalam setiap perhelatan pesta Demokrasi tentunya selalu muncul sosok baru sebagai tandingan bagi kekuatan-keuatan lama. Akan tetapi kita tidak dapat mengatakan hal baru itu juga sebagai hal pasti menuju kearah lebih baik. Dalam pesta demokrasi terkadang rakyat menjadi sasaran empuk para calon, terkadang ada juga pemilih terbuai janji para calon, walaupun tidak realistis berdasarkan kebutuhan. Namun disini saya tidak akan membahas jauh mengenai kepemimpinan hanya mengajak pada setiap pembaca mendalami karakter calon pemimpin dari sejarah-sejarah yang sudah ada. Saya kemudian membagi kepemimpinan tadi dalam tiga bagian, Tokoh Militer, Tokoh Agama dan Intelektual. Hampir semua bagian ini telah hadir menjadi pemimpin Negara kita dengan gejolak-gejolak yang terjadi tentunya kita tidak ingin gejolak itu terjadi kembali walaupun tidak akan sama persis tapi kita telah harus memahami bahwa manusia akan selalu terikat dengan pola sosialnya.   
Pagar Betis Nasionalisme
            Dalam menjaga Nasionalisme tentunya kita perlu manusia-manusia yang mampu menyadarkan betapa pentinga kesatuan dalam bernegara. Atau kita sebut gerakan-gereakan perlawanan. Hal-hal ini biasanya dipelopori oleh para pemuda juga kaum terpelajar bangsa. Sejarah telah membuktikan betapa ampuhnya gerakan pemuda dalam membangun Nasionalisme dalam kurun waktu perjuangan kemerdekaan kita mengenal oraganisasi-organisasi pemuda yang berjuang atas nama Nasionalisme. Lantas bagaimana dengan masa-masa sekarang ini, peranan pemuda masih sangat perlu untuk membentuk pemikiran-pemikiran Masyarakat umum dalam bentuk yang sempurna.
            Benteng-benteng yang di bangun oleh para pemuda merupakan bentuk dari perlawanan kemunafikan pemegang tampuk kekuasaan. Gerakan-gerakan ini harus menyeluruh agar setiap golongan masyarakat baik desa maupun kota dapat memahami tentang perubahan politik yang sedang berlangsung. Gerakan-gerakan tersebut telah banyak dicontohkan dalam sejarah. Sehingga kita hanya tinggal menggali cara-cara tertentu agar lebih terlihat baru.
            Semangat idealisme para pemuda adalah aset suatu bangsa agar bangsa tersebut terpelihara dengan baik. Dalam setiap catatan sejarah dunia, pemuda tercatat sebagai pasukan paling depan yang menyadarkan banyak pihak agar berpikir dan bertindak berdasarkan azas kebenaran berpikir. Memberikan opsi-opsi lain dalam usaha mempertahankan Nasionalisme bangsa dapat dibangun dengan menyadarkan masyarakat arti pentingnya perjuangan namun dalam hal ini jangan sampai terjebak pada penyudutan satu pihak.
            Hingga saat ini gerakan pemuda selalu menjadi yang terampuh dalam menyadarkan masyarakat. Sutuasi politik ketika menghadapi pemilu seperti ini harus sudah dipikirkan agar masyarakat tidak lagi-lagi menjadi korban kebijakan dan janji-janji kampanye yang sulit di tunttut ketika terpilih menjadi penguasa. Tugas berat ini di emban oleh semua elemen pemuda. Jangan sampai para pemuda juga kaum terpelajar terjebak dalam erotisme politik kemudian karya-karya yang dihasilkanya menjadi pendukung pihak-pihak zalim. Menelurkan bacaan-bacan bersumber merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menolak hoax pada era modern seperti sekarang ini. Hal tersebut bisa menjadi pagar betis menyeretan opini public. Semoga dalam setiap perjuangan muda-mudi Indonesia selalu tertanam rasa tidak lagi ingin menjadi Negara terjajah.

Sumber Bacaan:
M.C Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.
           

Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "Menjaga Nasionalisme dengan Sejarah"