NEGERI TUKANG SUAP
CERPEN: NEGERI TUKANG SUAP
Oleh: Wawan Hermawan
| Sumber Koleksi Pribadi |
Hari
minggu biasanya aku habiskan di kedai kopi, bersama Umar dan Lanang. Kedua
sahabatku selalu ada dalam setiap libur. Bukan karena kami tak memiliki teman
lain, tapi itu disebabkan oleh tidak adanya lawan seimbang saat main catur,
hanya mereka lawan yang cukup membuat aku kesulitan dalam melindungi raja dari
kepungan para bidak lainnya. Pagi itu cuaca begitu menarik, awan tercipta dari
bongkahan gula-gula berwarna putih manis seperti sirup rasa leci. Aku sengaja
datang lebih awal, agar mendapatkan tempat minum kopi lebih nyaman setelah itu
di susul oleh kedua kawanku. Sepagi apapun menurut ku, tetap saja orang-orang
tua itu datang lebih pagi lagi. Sepertinya mereka tak kehabisan tenaga untuk
minum kopi dan menggigit ketupat sayur, mungkin keras bagi mereka, karena gigi
yang mereka miliki tak sekokoh dulu saat mereka seusiaku.
Tidak
lama kemudian lambaian tangan kedua kawanku terlihat, dengan sigap mereka akan
menuju tempat duduk yang telah ku pilih sejak tadi. Lanang bertugas membawa
papan catur kebanggaan keluarganya, dengan bidak-bidak yang mulai digantikan
oleh apa saja yang menurut kami pantas, karena sebagian telah hilang. Biasanya
kedai menyediakan juga papan catur tapi kami memilih papan catur milik Lanang,
semua itu bertujuan agar tidak perlu mengganti jika papan catur rusak ataupun
bidak-bidak catur ada yang hilang.
“Bang,,kopi
tiga.” Teriak Umar, memang tugasnya memesan kopi dan cemilan lainnya ia sudah
hafal betul tipe kopi yang kami minum.
Tak lama berselang
kopi pesanan kami datang, lengkap dengan goreng pisang enam biji. Pemilik kedai
akhirnya menyalakan telepisi dua puluh satu inci milik mereka, berita pagi
masih sama dengan berita malam tadi. Isinya semua tentang Najar Gedor, semua
berita sedang menyiarkan tentang dirinya katanya ia menyuap para petinggi untuk
memuluskan agenda tuannya yang anggota partai,
hingga hari ini kasus itu belum selesai Najar Gedor masih ditetapkan sebagai
saksi entah besok atau lusa.
“aku heran, mengapa
orang-orang begitu serius melihat berita si Najar Gedor. Padahal bukanya meberi
untuk melancarkan sesuatu sudah menjadi biasa?” tanya Lanang sambari
memindahkan bidak catur miliknya umar tak mau kalah merasa di geretak oleh
Lanang ia terus memajukan bidak yang memang menurutnya perlu, “ah, biar saja
paling orang itu sengaja jadi umpan, atau lagi apes aja.” Jawab Umar ngawur ia
masih berusaha fokus pada papan caturnya. Mataku membagi pandang, pada telepisi
dan memperhatikan mereka berdua karena yang menang nantinya akan menjadi
lawanku.
Bagiku tertangkap
tidaknya si Najar Gedor sama saja tidak akan banyak merubah keadaan, apalagi ia
dibungkam oleh aturan juga pagar atasan. Walaupun begitu tetap saja semua
menaruh perhatian lebih mengenai berita ini, karena sebagian besar orang di
sini banyak menaruh harapan pada setiap aparat keadilan. Pertandingan catur antara Umar dan Lanang cukup alot rupanya,
mereka telah saling melindungi dengan strategi bertahan.
“menurut kalian,
kenapa ia bisa di tangkap,” tanyaku pada mereka, sekedar menggangu konsentari
salah satu dari mereka agar segera ada yang kalah. “ya… karena dia salah ngasih
uang suap gimana sih, coba bilangnya jatah atau amplop terima kasih, pasti
lumrah.” Lanang menjawab dengan begitu serius tanganya tergerak beberapa kali
untuk menjalankan salah satu bidak catur namun tidak kunjung ia lakukan.
“namanya juga manusia, selalu kurang. Macam si Najar itu jabatan punya, istri
cantik, masih saja nyuap.” Jawaban Umar ada benarnya juga tapi, apa aku juga
seperti itu rasa-rasanya ada yang mengganjal dari jawaban Umar.
“maksudmu manusia seperti apa jelaskan lebih
detail?” aku sekedar ingin tahu lebih jauh maksud dari jawaban umar tadi
“sudah nanti saja aku
sedang serius.”
Ah dasar, bigitu lagaknya si Umar kalau mau kalah.
Tapi jika berbicara mengenai suap menyuap sepertinya itu banyak pelakunya, tak
hanya di kalangan atas toh kalangan bawahpun seperti itu juga. Aku sampai
bingung mana tugas mana jasa. Bukanya bertugas itu sudah diberi jasa atau
imbalan tapi kenapa setiap tugas selalu ada istilah uang jasa. Ah pasti itu
juga suap tapi kecil-kecilan kan nanti dibagi rata.
Hari itu warung kopi cukup ramai, kami bertiga masih
bersantai main catur. Pemilik kedai sudah terlampau biasa melihat wajah kami.
Jika kuliah kosong kami memilih kesini dan minum kopi. Walaupun hanya satu gelas
yang kami minum tapi kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Memperhatikan
orang-orang di sini sepertinya tak ada beban. Kini giliranku main. Lanang
menjadi lawanku Umar sibuk merapihkan bidak juga menerima ejekan-ejekan tak
manusiawi ala kami.
“ah seandainya, dulu Inggris yang menjajah kita,
mungkin aku lebih hebat dari sekarang.” Ujar Umar tiba-tiba entah apa
maksudnya.
“tak ada yang beruntung di jajah, semuanya sama saja
dijajah ko milih-milih. Kalo kalah kamu jadi ngawur mar.” Umar sepertinya membuat
tameng agar ia tak terus menjadi bulan-bulanan candaan kami.
“coba saja kalian pikir, Negara-negara yang di jajah
inggris mereka lebih maju dari sekarang.”
“itu bukan juga karena Inggris, memang manusianya
saja lebih segera bangkit,” jawabku
“Si Najar buktinya, dia manusia peninggalan VOC,
peninggalan kebiasaan. Kebiasaan menyuap. Hahaha…!!” senang betul Umar mengolok-ngolok manusia di
telepisi yang sedang menjadi bahan para media.
“Tidak ada yang harus di banggakan dari penjajah Mar,
kalo terus-terusan di hantui oleh model seperti itu, berarti kita belum
merdeka. Karena masih senang bergantung pada Negara lainnya.” Lanang berkata
bijak menanggapi Umar. Aku tahu betapa Umar ingin menggangu konsetrasi Lanang
karena ia kalah tadi dan berharap kali ini Lanang kalah oleh ku terus Mar
ganggu konsentarinya biar sisanya aku urus.
“kejadian si Najar itu juga, karena kita masih
menganut system feodal. Hanya saja model nya berbeda lebih modern, toh masih
banyak orang yang mengangap bangsawan itu satria lantas mereka akan gila
hormat. Terkadang aku bingung dengan model manusia sekarang. Mengkritik orang
lebih tua disebutnya tidak sopan apalagi mengkritik atasan bisa mampus
dibicarakan. Padahalkan mengkritik serta sopan santun memiliki caranya
masing-masing. Ah feodalisme itu tidak terlihat tapi terasa. Betul tidak Nang”
entah kerasukan apa Umar hari ini gara-gara berita Najar ia sibuk ngurusi
politik padahal biasanya juga milih minum kopi kalo di ajak demo.
“kau ini bicara apa. Ngawur, itu bukan peninggalan
penjajah memang manusia kita masih begitu sudah lah ganggu saja.” Lanang mulai
merasa terganggu oleh ocehan Umar, berarti ini menjadi sebuah langkah seruis ku
dalam memindahkan bidak catur.
Bidak-bidak catur terus berpindah tempat, Lanang
sudah terpojok oleh setiap langkahku dan ia mengaku kalah. Diluar sepertinya
mendung. Cuaca akhir-akhir ini memang tak menentu, hujan biasanya akan menambah
deretan kopi di meja kami. Cuaca seperti ini memang enak untuk dinikmati dengan
secangkir kopi, kemudian goreng pisang yang menyusul, karena aku menang
semuanya gratis urusan mereka berdua soal membayar semuanya.
Hujan telah menggembalakan pikiran kami
masing-masing. Terlihat dari raut mereka yang semakin serius. Mata Umar masih
menembus telepisi, melihat iklan-iklan yang bergantian datang, ia masih
menunggu berita tentang Najar. Aku sesekali membalikan Koran usang di bawah
kursi. Mungkin ini telah puluhan kali aku baca, memang begitu Koran baru hanya
satu dan itu selalu menjadi santapan orang-orang tua pagi hari. Kedai Kopi bagi
kami bukan hanya sekedar tempat biasa, ini seperti markas para politisi atau
kritikus gagal, karena kritikannya tak sampai akhirnya setiap orang hanya akan
kembali dengan terkaan-terkaanya setelah itu hari berganti dengan tema baru dan
setiap orang akan membawa cerita baru. Hari ini tentang Najar Gedor dan uang
suapnya. Sepertinya suap menjadi dikotomi di Negara ini entah aku pada bagian
mana karena belum merasakan duduk seperti Najar. Bagi setiap orang berpikir
realistis itu perlu. Pemikiran realistis berarti tentang membaca kebiasaan juga
kebudayaan. Apakan suap sudah menjadi kebiasaan bagi negara ini. Akupun sama
seperti mahluk lain penghuni kedai kopi di sini.
Diluar kedai sepertinya hujan telah reda. Kopi yang
kami minum telah di bayar, sisa-sisa hujan masih wangi bergelayut pada
hidungku. Candaan-candaan kecil telah kami siapkan agar perjalanan kami tak
begitu sepi. Sandal japit dari berbagai merk segera kami sambar. Kedai ini
selalu begitu seperti tadi aku melihat banyak orang mengomentari tantang
telepisi, setelah itu pulang dan tidur. Mengambil bagian dalam kehidupan ini
adalah pilihan. Besok ataupun lusa aku mungkin akan datang lagi ke sini dengan
papan catur kebanggaan Lanang, tentunya dengan tema berbeda. Kami masih
sama-sama menerka tentang masa depan. Besok tak ada yang tahu.
Aceh
Timur.
Posting Komentar untuk "NEGERI TUKANG SUAP"