SI GILA
W.HERMAWAN
Beberapa hari terakhir
sebelum istriku semakin aneh, ia selalu membawa lelaki lengkap dengan pakaian
adat kemudian berbisik bisik. Aku tak pernah lagi di ajaknya berbicara mereka
sepertinya memiliki rahasia, tak lama dari itu rumah bau kemenyan. Ada apa ini.
Hatiku kembali mengajak berbicara, sejak kapan istriku tidak berpikir logis dan
lebih memilih percaya takhayul.
SI
GILA
Pertengahan musim
kemarau panjang aku harus pulang dan istirahat dari rutinitas. Setelah dua
tahun lamanya waktu berlalu begitu saja. Tempat di mana aku tinggal saat ini
adalah hutan tropis yang tak pernah berhawa panas semuamya lembab, bahkan jamur
dapat tumbuh sepanjang tahun. Namun aku harus kembali ke kampung halaman dimana
kedua orang tuaku tinggal, sekedar untuk melihat bagaimana alam lain selain
hutan. Kembalinya aku karena harus menyampaikan sesuatu seperti pesan Dewi
untuk orang tua mereka.
***
Kawanan langkah kaki
bocah-bocah membuat aku semangat senyum mereka seperti candu dalam hidupku. Mungkin
jika mimpi terlalu tinggi untuk anak-anak di sini biarlah mata yang mengukur
sejauh mana mereka akan pergi dan bercita-cita. Sebagian dari mereka tak pernah
bermimpi menjadi siapapun. Mereka hanya ingin menjadi bapak atau ibu mereka,
menjaga hutan dan juga menjadi orang tua untuk anak mereka kelak. Sapaan pak
guru tak pernah ku dapat di tengah kota besar yang selalu sibuk mengurusi diri
mereka masing-masing, di sini setiap menit dalam setiap langkahku ada suara
merdu memanggil dengan sebutan terhormat tadi. Setiap pagi burung-burung
bernyayi pada dahan pohon besar begitu gemilau warna mereka. Hutan dari
perpaduan warna kuning dan biru kemudian mengikat dalam otak menjadi sisi warna
lain yang selanjutnya kuterima dalam sepersekian detik cahaya, menjadi
kenikmatan yang tertangkap oleh bola mata.
Betapa berpikir luas sebagai
manusia itu adalah sebuah keharusan. Namun mengukur kenyataan juga harus dilakukan,
itulah saat ini yang aku rasakan, puluhan kilometer laut kusembrangi demi satu
nama kebaikan bagi sesama. Rinduku bertambah kala otak mengikat memori tentang
keluarga nun jauh di sana, orang tua melepasku seperti ini agar langkah kaki
menjadi berguna bukan langkah kaki pembawa petaka. Suara itu amat membekas
dalam pikiranku,
Akupun manusia seperti
mereka lainya. Memimpikan gadis idaman adalah kebiasaan normal bagi manusia, di
tempat ini aku bertemu wanita cantik yang kini telah menjadi istriku. Perempuan
yang juga berangkat bersamaku beberapa bulan lalu. Dalam kantung matanya aku
melihat perdunya bumi dan teduhnya hati sosok sederhana dan gigih, kehidupan terasa
begitu indah sesuai mimpi juga cita-cita orangtua. Dulu sebelum aku berada di
sini banyak buku yang kubaca, hingga isi otaku mendekati sempurna itu kata
teman-teman akupun tak habis pikir mengapa mereka berkata demikian. Kini aku
lebih sering membaca alam kemudian menjadikan hujan sebagai rayuan mengasyikan.
Aku hanya membawa buku beberapa saja dari kampung halaman, selain untuk
menunjang pekerjaanku juga sesekali mengasah otak mengingatkanku pada kehidupan
lainnya.
Sebenarnya aku tak
ingin pulang sudah terlanjur cinta pada tempat ini namum akhir-akhir ini
manusia-manusia yang kukenal sudah lain kurasakan. Mereka memaksaku pulang. Semenjak
kelahiran si jagoan kecil istriku selalu bertanya mengenai masa depannya. Bagaimana
jika ia besar nanti mau disekolahkan di mana pendidikan macam apa yang akan ia
peroleh, belum lagi persoalan gizi dan imunisasi terus saja menjadi bahan
pembicaraan. Tidak mungkin aku berdiam diri tidak memikirkannya tapi memang
sudah begini kondisi alam tidak dapat kita rubah semaunya. Murid-murid yang
dulu manis kini semakin lain ku lihat tak ada lagi keluguan di mata mereka
mereka semua telah menjadi manusia seperti kukenal kebanyakan manusia. Berebut kekayaan
juga harta benda. Akhir-akhir ini aku mendapatkan tatapan sinis dari setiap
orang yang dulu memanggilku dengan panggilan pak guru entah kenapa mereka semua
berubah seperti baru saja makan racun dari buah simalakama. Mereka masih
memanggilku begitu namun sepertinya setelah itu mereka sibuk menghujatku di
belakang aku tak terima ku tendangi batu kerikil dihadapan kemudian aku berlari
bersembunyi.
Untuk apa aku mengajari
semua ini jika mereka semakin tidak peduli. Sudah lagi para pemuda semakin tak
karuan minum-minum saban hari jika ku tegur, ini sudah biasa katanya. Mataku membelalak
mereka malah sibuk menertawaiku. Dulu ketika awal ku datang semuanya biasa saja
tak ada yang aneh namun setelah beberapa bulan mereka menunjukan wajah asli
mereka aku dirundung rasa takut.
Aku sudah tidak percaya
pada siapapun begitupun dengan istriku, dia juga ikut-ikutan seperti mereka. Setiap
kerumah aku selalu diberendeli pertanyaan entah kenapa akhir-akhir ini istriku
lebih cerewet dari biasanya. Padahal dia sangat baik ketika masih merajut
asmara dulu, apa karena ia juga sudah seperti manusia lainya. Sibuk mengurusi
perut tapi kepalanya kosong. Semua manusia di sini seperti kerasukan hantu tak
dapat mengerti pikiranku, padahal dulu mereka begitu baik ada apa ini aku
memilih lari dan bersembunyi.
Beberapa hari terakhir
sebelum istriku semakin aneh, ia selalu membawa lelaki lengkap dengan pakaian
adat kemudian berbisik bisik. Aku tak pernah lagi di ajaknya berbicara mereka
sepertinya memiliki rahasia, tak lama dari itu rumah bau kemenyan. Ada apa ini.
Hatiku kembali mengajak berbicara, sejak kapan istriku tidak berpikir logis dan
lebih memilih percaya takhayul.
“yah,, ayah kenapa? Kok
jadi aneh begini?”
Pertanyaan macam apa
itu, jelas-jelas dia yang aneh ah malas aku meladeninya. Bukannya membawa
laki-laki lain masuk rumah tanpa seijin suami itu dilarang. Istri macam apa
itu. Malah balik bertanya ada apa denganku apa kau sudah gila.
Ketika aku membuka
mata, rumah menjadi ramai siapa mereka semua, kenapa melihatku seperti itu aku
bukan tontonan. Ingin rasanya meronta namun badanku sudah lelah, lelah menjawab
semua ini. Jijik aku melihat mereka semua pura-pura baik padahal sama saja
seperti manusia lainnya harata-harta-harta saja yang ada dalam otaknya.
“ibu, lebih baik bapak
guru dibawa saja ke kota sepertinya sudah lain-lain.”
Kalian sok tahu. Aku tidak
apa-apa, tapi berat rasanya mulutku mengatakan itu semua pikiranku diliputi
banyak pertanyaan-pertanyaan yang sempat kujawab sendiri dan terkadang
kubiyarkan. Kenapa kaki terasa berat, apa yang mereka perbuat padaku. Saat ini
aku rindu dengan ayah dan ibu. Setiap malam aku hanya dapat memandangi rembulan
dari sela-sela jendela, istriku sudah tak mau menemaniku tidur anaku terus
menjerit apalagi ketika melihatku. Malam tiba tanpa ku tahu begitupun dengan
siang kini bagiku sama saja. Aku ingin berbaring melihat seisi ruangan semakin sempit, aku
terhimpit oleh pertanyaan-pertanyan, mereka semua datang tanpa ku tahu dari
mana asalnya telingaku penuh dengan apa saja. Aku yakin semua itu adalah
kewarasan yang terus menuntunku namun semua tak ada yang percaya.
Aku telah asik bertemu
dengan apa yang kucari semuanya indah seperti jawaban-jawaban dari pertanyaan
yang entah datang dari mana. Apa aku kesepian? Mungkin tapi kurasa tidak. Kenapa
aku sudah tak boleh pergi kesekolah bertemu para jagoanku. Ah mereka sudah
bukan jagoanku mereka sudah menjadi manusia seperti yang lainnya sibuk bergaya
tanpa jelas siapa yang ditiru. Mereka semua sudah gila, gila dengan dunia. Aku
sudah tidak ingin peduli lagi, kemana istriku kenapa belum ada makanan aku
lapar. Mulutku sudah tak memiliki bahasa aku lebih memilih teriak percuma
setiap kata yang ku ucapkan tak pernah mereka pahami dengan benar.
Hari ini aku ingin
berjalan-jalan keluar rumah, apa kabar hutan yang indah, pintu yang terbuat
dari kayu tipis kenapa berantakan begini, bunga serta dedaunan begitu indah
rasanya sudah lama tak merasa begini. Brengsek kenapa pohon-pohon semakin
berkurang kenapa sepanjang jalan banyak foto-foto yang dipaku ke pohon. Itu
semua tak benar biar aku cabuti saja dasar manusia gila tak tahu sopan santun
pada bumi. Aku semakin menangkap keanehan pada sorot manusia disini mereka tak
lagi memanggilku pak guru langkahku seperti aneh di mata mereka. Padahal mereka
tak tahu apa-apa tentangku Kenapa mereka seperti itu sudah jelas semuanya pasti
mereka dibayar cukong kayu untuk membuatku seperti ini.
Kenapa
mereka ini. Kenapa tanganku di ikat mau dibawa kemana, aku meronta sekuat
tenaga namun mereka lebih banyak dan lebih kuat, sial.
Tempat
ini lagi, padahal aku ingin jalan-jalan kenapa aku di bawa kembali, mana
istriku yang cantik itu, kenapa dia menagis seharin ini menangis. Ah, dia manis
seperti dulu tapi kenapa dia begitu jauh, kenapa kerumunan orang di luar rumah
banyak sekali. Mau di bawa kemana kenapa kakiku tanganku terikat mana istriku mana
jagoanku kemana semua orang.
Ini
di mana kenapa mereka membawaku kesini, ruangan ini lebih harum dari kamar
biasaku yang bau pesing. Tapi ini di mana? Kenapa aku dibawa ke sini, hey
istriku kenapa kau hanya menatapku, kemari temani aku mana si jagoan kenapa
menangis. Jangan lupa beri ia asi, agar otaknya waras seperti aku, karena
darahku mengalir pada dirinya.
Kenapa
banyak orang di sini, kenapa mereka tak masuk saja menemuiku hanya melongok
dari jendela apa aku sejijik itu. Padahal mereka lebih jijik buatku sudahlah di
sana saja aku tak peduli. Kenapa setiap hari aku bertemu dengan wanita yang
bukan istriku kemana istriku. Jarum sialan kenapa saban hari aku harus di tusuk
jarum. Aku ingin bicara kenapa semua terdiam kenapa menangis aku lelah sepertinya
aku harus beristrirahat tapi aku masih ingin memandang jagoanku, istriku juga, bukan
perempuan sialan yang saban hari menusukan jarum sakit tau.
“ yah, ayah kenapa apa
perlu kita pulang kembali ke Medan?” pertanyaan macam apa itu aku ingin di sini
kenapa aku harus pulang aku tahu semakin aku menjauh kalian akan membiarkan
hutan ini gundul dasar sama saja, cuih.
Aku
yakin pada dasarnya mereka mahluk waras, namun racun tanpa pertimbangan logika telah
menggilakan mereka. Jagoanku kelak jika kau besar jangan kau tukar petak-petak
sawah dengan beton-beton bangunan yang hanya untuk dirimu sendiri, jangan kau
tebang kayu tanpa tahu menanam, jangan melihat uang dengan mata kepala kosong,
lebih sulit mana banyak uang tapi tak ada beras. Coba lebih sulit mana banyak
uang tapi susah bernafas. Aku ingin tidur istriku.
Cirebon.
Posting Komentar untuk "SI GILA"