SRI?



            Matahari lembut mulai turun dari peraduan garis pantai yang mendesirkan ombak membentuk gelombang-gelombang lucu yang berlarian, semua orang yang melihatnnya pasti akan rindu pada apa saja yang ia rindukan langit mulai berwarna merah yang bercampung dengan warna kuning menyala mataku coba menembus tiap depa laut yang tidak terukur jauh. Telingaku sudah siap mendengarkan bagaimana Topan menceritakan kisahnnya karena selalu begitu jika kami berada di bibir pantai sepertinnya hidup itu terlalu luas hingga baid-baid kata tidak sampai menerjemahkannya masalalu memang selalu begitu timpal Topan.
“win apa yang kau rindukan hari ini?” Topan memalingkanku dari titik pandang tak berujung
“ah tidak ada sepertinnya aku ingin menikmati bagaimana matahari terbenam saja pan,” kami memang pemuda tanggung yang biasannya selalu memiliki  topic pembicaraan,  tema perempuan bagi kami selalu sangat menarik, bukan sekedar liuk tubuh namunjuga terjarnya pikiran mereka.
            Aku mencoba melambaikan tanganku pada nelayan yang baru saja akan pergi mencari ikan dan menukarkannya dengan berlembar-lembar uang, hidup memang keras tetapi akan melunak jika kita memiliki teman bercerita. Daun telingaku mulai kupasang rapih mendengarkan topan yang bersungut-sungut menceritakan kisahnnya, ia semakin meluap-luap jika itu bercerita tentang Ningsih perempuan Jawa yang baru saja pindah menerobos batas tatar Pasundan. Topan mahluk yang senantiasa mengagumi ningsih dari awal ia jumpa Ningsing gadis yang cukup manis diantara gadis-gadis lain di jurusan tetapi sedikitpun aku tidak tertarik padannya mungkin karena keyakinanku bahwa aku tidak pantas atau tidak sepadan, terkadang perasaan memiliki logikannya sendiri, biarlah Topan yang terus mengaguminnya, walaupun orang tuannya begitu keras menentang pernikahan beda suku  tetapi Kekaguman Topan pada Ningsih akan terus begitu sampai sekirannya waktu mengijinkan mereka bersatu ataupun berpisah.
“ayo win giliranmu bercerita aku sudah selesai?”
“heeem sepertinnya hari ini tidak ada pan,” ketika topan mengatakan selesai dan aku mengatakan tidak, ada cerita Bab kedua mulai di buka. Topan akan memulainnya dengan cerita lain sekarang siapa lagi biarlah yang penting aku menikmati lamunanku yang terus menerobos jauh.
            Topan dan Ningsih memang manusia modern tetapi tidak dengan orang tua mereka yang masih menjung-jung tinggi akar budaya, walaupun agama sudah memisahkan mana klenik mana mitos mana haram mana halal tetap saja ketidak mampuan manusia menolak leluhur tetap ada. Kisah ini dimulai lama sekali penghormatan pada seorang putri yang terus di junjung tinggi oleh para wargannya namun semakin waktu berputar unsur mitos menjadi kekuatan yang melebihi kesetiaan.
            Tiba-tiba berkelebat nama seorang di pikiranku nama dengan makna yang begitu indah cukup tiga huruf namun mampu ku gambarkan dalam berlembar-lembar kertas Sri namannya perempuan yang menjadi pacarku beberapa tahun lalu lekuk tubuhnnya yang begitu indah, rambutnnya yang sedikit ikal kedua bola matannya yang sempurna, di tambah bibir manis merah gelap ah sedang apa kau di sana Sayang rasannya sudah lama tidak berjumpa. Tiga tahun sudah tidak berjumpa perempuan yang senantiasa menungguku berpanas-panas saat aku sibuk mengurus perut orang-orang, dengan berteriak-teriak diatas mobil pembangunan,pengangguran, penggusuran tetapi Sri tidak pernah bergeming memandangku aku hafal betul saat dia katakan sudah istirahat dulu kulitmu hampir terbakar matahari, kotak hijau berisi nasi dengan ceker ayam selalu bersamannya menemaniku.
***
            “sayang sudah sore lebih baik kau pulang?”
            “Tidak… sampai ku pastikan kau pun pulang.” timpal Sri jika kusuruh pulang mukannya nampak begitu lelah namun ia tidak pernah meninggalkanku, Sri tidak pernah ikut dalam barisan ia perempuan yang bisa dikatakan sama dengan perempuan lain Mall, pakaian, wangi, entah kenapa semenjak kenal denganku ia selalu mengekor dibelakang, ketika kutanyakan ia hanya menjawab seperluannya perempuan memang rumit. Pernah ku tanyakan kau tidak berniat ikut dalam barisan dengan bengis ia hanya mengatakan aku tidak tertarik, semakin membuatku bingung. Cantik, aku hafal betul wangimu rambutmu kecupan saat kau melepas ku bersama barisan aksi.
            Aku coba mengingat bagaimana Sri mulai berada disampingku, ketika itu aku tertarik pada perempuan lain yang sebenarnnya kawan dekatnnya Sri hanya aku bingung harus berbicara pada siapa yang ku kenal di situ hanya Sri, karena Sri adik temanku berapa kali sudah aku bertemu dengannya ia selalu menghidangkan teh manis yang amat lembut jika aku berkunjung kerumahnya untuk bermain, bukan Sri tujuan utamaku saat itu, tidak pernah terbersit Sri mau menjadi kekasihku tidak sopan jika aku harus mencintai adik dari seorang teman karib. Tetapi waktu mengulur jauh kedekatanku dengan Sri semakin tidak terduga akhirnnya titik focus ku alihkan, seperti memancing dengan dua kail ternyata Sri menerimaku, aku pun heran mengapa seperti itu itulah perempuan sulit ditebak tidak pernah ku ambil pusing.
            Setelah hari itu jalan-jalan yang basah semakin menambah romantis hari-hari ku bersama Sri semakin indah Sri terus mengikuti  kegiatanku, matahari yang terik menjadi teduh ketika Sri sengaja melampar senyum padaku. Matahari tengah begitu teriknnya jalanan semakin memanas terbakar matahari Sri masih tetap berada di tepi jalan dibawah pohon yang rindang sesekali aku sengaja melongoknnya memastikan dia masih berada di sampingku, aksi semakin hebat kota Jakarta sudah penuh dengan mahasiswa dari berbagai penjuru dengan warna Jas yang beragam bersatu dan berteriak, suara peluru sesekali memekik ke angkasa, suara ratusan anak manusia berlarian. Toko-toko terbakar habis ada kabar itu sabotase dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab mereka berseragam loreng. Ini bukan lagi sebuah aksi namun perang melawan senjata, kami hanya dibekali karton dan sesekali jika jengkel kami mencoba mencari kerikil untuk dilemparkan pada mereka yang berseragam lengkap.
“Ayo Pulang!!” Sri meraih tanganku dari kerumunan
“Kenapa Kau ini Sri? tidak lihat kami sedang berjuang memperjuangkan nasib bangsa kita yang hampir mati kelaparan nasib mu nasib ayahmu supaya bisa makan.” dengan mata menggeliat dan nada yang begitu keras aku mencoba meyakinkan Sri bahwa ini tidak akan sia-sia, mungkin waktu itu Sri khawatir tetapi pikiranku tidak sempat sampai situ aku terbawa emosi yang tumpah ruah di jalanan beberapa kawanku pergi mendahului kami, karena peluru dan gedoran pistol atau tendangan kaki pantopel yang deras menghantam kepala. Kurasa saat itulah semuannya bermula aku mulai merasa Sri terlalu rewel dan lemah tidak mengerti apa yang sedang aku perjuangkan,
“Sri jika kau tidak mendukungku lebih baik kau pergi!!” entah apa yang kupikirkan saat itu perempuan yang setia menungguiku sekejap saja ku teriaki dengan membabi buta, sedetikpun itu waktu jika terlewati berarti sulit untuk kembali
“bukan begitu Win kau salah sangka padaku,” air matannya meleleh turun menuju pelipis hanya itu yang kuingat setelah itu Sri pergi bersama linangan Air mata yang ia bawa aku, aku tidak peduli tujuanku harus tercapai ini adalah bentuk perjuangan, semenjak itu aku tidak lagi melihatnnya dan perjuanganpun tidak mengerti berhasil atau hambar aku kembali pulang namun dihatiku ada sesuatu yang kosong setelah semuannya sepi, kesepian itu bertambah dua kalilipat, tubuhku mencari sesuatu tempat dimana ia labuhkan lelahnnya, mulutku mencari telinga yang mendengarkan keluh kesahku setelah lelah, hatiku tertusuk ranting-ranting rindu yang menganga bukan hanya rindu kemenangan tetapi rindu pada Sri.
            Tololnya diriku telah meninggalkan Sri begitu saja, tetapi perjuangan perlu pengorbanan, namun apakah Sri juga harus menjadi korban. Setelah semua ini berlalu aku coba mencari Sri dan ingin menjelaskannya namun Sri tidak kunjung kujumpai, ia memilih menghilang bersama suara teriakan aksi yang habis terkikis waktu, terdengar kabar ia kembali kekampungnnya Tasikmalaya dan melanjutkan studi di sana setelah itu menikah dengan saudagar kaya yang ia kenal semasa kuliahnnya. Semua seperti berlalu meninggalkan bekas yang perih perjuangan yang belum tuntas cinta yang kandas biarlah aku kembali dengan sejuta harapan, Pangandaran aku kembali menepi di pantai yang kini mulai kusam. Biarlah kenangan ini menjadi mutiara yang tersimpan rapih dalam hati aku yakin perpisahanku akan terus terulang bersama kisah aksi yang kuterikan karena ini bukan sekedar perayaan atau peringatan tetapi kembali berpikir dan tenang.
***
            Matahari mulai meninggalkan kami berdua, Topan pun sudah tidak bersuara lagi sepertinnya ia memikirkan sesuatu dan terdiam panjang sampai matahari benar-benar tenggelam langit berganti warna, menjadi abu-abu terang rembulan menyusul menghiasi warna langit. Ah Sri bahagiakah engkau di sana Benar apa yang kau katakana lebih baik aku pulang bersamamu pada akhirnnya hanya menyisakan kenangan, serta tumpukan batu nisan yang membisu, kursi kursi yang dulu busuk sekarang semakin busuk. Maafkan aku Sri telah menolak ikut pulang bersamamu aku ingin bahagia tanpa pernah memikirkan kesalahan bodoh yang pernah kuperbuat kepadamu Sri.  
Jakarta 2013
W.Hermawan 
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

3 komentar untuk "SRI?"