Gunung Ciremai 3078 Mdpl

Ciremai
26-11-2017


Rencana Mendaki
            W.Hermawan - Kalo mengatakan Ciremai, Ciremai telah memincut mata ku sekitar lima tahun lalu namun dengan segala kesibukan akhirnya tertunda dan baru tahun ini bisa naik gunung. Salah satu gunung tinggi di Pulau Jawa, dan tertinggi di Jawa Barat ini sangat mempesona jika di lihat dari mulai kuningan Cirebon ataupun Majalengka. Puncak yang indah serta hijaunnya gunung ah indah sekali. Dari pandangan pertama aku telah merasakan jatuh cinta karena memang memandangnya sembari berjalan menuju rumah si cinta yang kini jadi istriku.
Di antar si Cinta
            Tahun 2013 adalah awal perencanaan mencari teman yang sudah biasa mendaki gunung Ciremai namun itu tadi berasa di PHP sama orang yang satu ini sampai pada akhirnnya saya tidak naik dengan dia. Gunung yang menghidupi banyak orang ini menjadi salah satu puncak impian yang ingin didaki bukan hanya pendakian jujur dalam hati ingin setiap kali bangun pagi melihat puncak Ciremai yang begitu indah dan alhamdulilah kini sudah terlaksana. Kaki gunung yang tidak hanya memberikan kesejukan namun juga kedamaian bagi lingkungan sekitarnnya.
            Bulan oktober 2017 setelah masa tugas menjadi guru Malaysia berakhir dan di sela kesibukan lainnya rencana mendaki Ciremai kembali muncul. Bertemu dengan adik kelas semasa kuliah di jurusan Sejarah Unsil, yang juga anak mapala KHANIWATA, bermulai dari percakapan rindu antara teman lama yang kini bertetangga Zainal menyambut baik rencana pendakian gunung Ciremai. Mengapa Zainal selain sarat pengalaman ia juga sudah terbukti sebagai anggota Mapala setidaknya dalam perencanaan Zainal dapat di andalkan. (terima kasih Zainal bukan karena Nomor Pokok Mahasiswa di bawah saya hehe).
            Mulai perencanaan dari mengumpulkan alat dan logistic Zainal yang urus, sesekali aku ikut membantu semua di catat rapih, ada prinsip mendaki yang selalu aku pegang “mendaki gunung adalah ketidak tahuan dan aku harus selalu menjadi pemula karena alam dapat berubah sepersekian detik ketika ia mau” ini yang selalu aku pegang teguh agar tidak ada kesombongan dalam setiap kali mendakai berapa kalipun kamu mendaki gunung yang sama pastinnya setiap turun akan membawa cerita yang berbeda.
            Hal yang sangat penting ketika mendaki adalah perencanaan, kata Zainal mengingatkan berhasil tidaknnya kita dimulai dari bawah.  “tujuan akhir adalah kembali dengan selamat dan bukan puncak”
Mulai Berangkat
            Setelah semua peralatan terkumpul kami berdua menentukan rute naik dan turun, naik dari Pos Palutungan dan turun Linggar jati agar lebih dekat dari rumah. Kami memilih jadwal berangkat hari minggu dan turun hari senin biasannya hari minggu gunung sudah sepi karena pendaki lainnya sudah memilih untuk turun.  Sampai pos awal pukul 06.00 WIB menunggu pos buka kurang lebih 30 menit perjalanan kami mulai dari sini oh ia sepagi apapun kamu naik wajib lapor ya, uang masuk dari pintu Palutungan Rp 55.000.- bagi wisatawan domestic entah mancanegara belumpernah bertanya, biaya menggunakan porter di sini Rp 550.000 untuk satu kali naik, tenang kami hanya bertanya saja, siapa tahu kala tubuh ini sudah tak sanggup memikul beban tas, dan dompet semakin tebal hehe.
Gerbang Palutungan
            Jika kalian memulai pendakian dari jalur ini maka kalian akan melalui Sembilan pos hingga puncak sebelum mendaki nantinnya akan di jelaskan dan diberikan peta jarak tempuhnya kemudian plastic sampah serta sertifikat. Pendakian gunung Ciremai dari jalur ini menurut ku sudah baik dari mulai pengelolaan hingga perawatan.
Ini daftar pos yang akan kalian lalui jika melalui  pintu Palutungan Pos PPGC – Cogowong jarak 4,2 KM (jika kamu mulai berjalan dari sini waktu tempuh sekitar 3 jam tergantung beban dan kondisi fisik tapi kalo kebetulan ada motor lewat nebeng juga boleh hehe)       
    Pos 1 – pos 2 Kuta 500 M perkiraan 30 menit

Pos 2- pos 3 Paguyangan Badak 600 M Perkiraan 30 Menit


Pos 3 – pos 4 Arban 900 M Perkiraan Waktu 1 jam


Pos 4- Pos 5 Tanjakan Asoy 700 M perkiraan Waktu 30 Menit


Pos 5-Pos 6 Pasanggrahan 1,3 KM 1,5 Jam dari mulai Pos ini kita mulai mendaki


Pos 6 – pos 7 Sanghiyang ropoh 500 M perkiraan waktu 30 menit


Pos 7- Pos 8 Goa Walet 800 M perkiraan waktu 2 jam


Pos 8- pos 9 Puncak 300 M perkiraan waktu 30 menit

 
Kurang lebih itu gambaran pos selama pendakian, selama pendakian jika beruntung mata kalian akan disuguhi pemandangan indah dan bonus bertemu dengan segerombolan Lutung atau hewan yang bernama latin  Tracypithecus biasanya jika mendaki rombongan lebih dari lima orang atau masa pendakian sedang ramai hewan ini akan bersembunyi, namun karena sepanjang perjalanan kami hanya berdua, kami cukup beruntung bertemu segerombolan lutung tadi disepanjang perjalanan menuju pos Cigowong. Kemudian bertemu kembali saat menuju Pos Paguyangan Badak ketika melakukan pendakian hanya berdua saja jadi langkah kami tidak membuat takut para lutung.
Waktu perkiraan tadi dapat berubah sesuai kondisi fisik dan tubuh saat kalian mendaki, juga barang bawaan. Jalur ini hanya menyediakan satu titik air yaitu Pos pertama Cigowong jadi hemat terus air kalian selama perjalnan dan perhitungkan dengan cermat sebelum berangkat berapa air yang akan kalian bawa sesuai jumlah orang, waktu itu kami membawa tiga botol air ukuran 1 liter dan 2 botol minum berukuran 500ml. mengapa demikian karena jika persedian air kurang makan kalian akan dehidrasi terutama saat perjalanan pulang sekali lagi jangan menyepelekan perjalanan pulang, karena biasanya pendaki hilang ataupun cedera saat melakukan perjalanan pulang, hal tersebut selain diakibatkan salah perhitungan juga kondisi psikis yang terkadang tak mengenal tujuan. Bagaimana dengan air kami cukup pas sekali.
Peta
Oh ia kalau kamu datang dari arah Cirebon kamu bisa naik mobil elf (minibus) menuju ke arah Kuningan, nanti turun di Cigugur dari situ bisa naik kendaraan apa saja ya nebeng nebeng lah atau naik angkot kalau lewat. Tetapi kalau mau silaturahmi boleh juga mampir ke rumah hubungi saja no yang tertera di blog, nanti di anter pake motor hehe.
Drama Hujan
Mendaki bukan dihari libur sangat menyenangkan selain menikmati gunung yang sepi, saking sepinya suara hati temen seperjalananpun terdengar hehe. Selama perjalanan naik kami hanya bertemu beberapa orang itupun sudah mau turun. Jika kalian melalui jalur ini kemudian menemukan pos tanjakan asoy berartri kalian tidak tersesat dan eng ing eng…kalian harus menyiapkan lutut karena pendakian dimulai dari sini hingga nanti kalian menentukan titik tenda.
Dari awal mendaki kami dilarang untuk membuat tenda di GOA walet Ingat Goa Waletnya ya bukan pos Goa wallet, mengenai hal ini jadi di gunung Ciremai itu ada batu cekungan yang menyerupai goa dengan permukaan datar biasannya pendaki memilih membuat tenda di wilayah tersebut karena sedikit lagi mendekati puncak namun pengelola kawasan gunung Ciremai mulai membatasi pengunjung untuk mendirikan tenda di wilayah tersebut selain banyak meninggalkan sampah untuk menuju pos ini cukup sulit jadi alasan itu cukup masuk akal kasian para ranger yang nanti membawa turun sampahnya maklum masih banyak pendaki yang menyepelekan sampah walaupun hanya sepuntung rokok itu tetap sampah jika dibiarkan akan menggunung dan merusak lingkungan. Lalu bagaimana dengan kami berdua? Sebelum naik kami telah berkonsultasi dengan pengelola karena kami hanya berdua dan tidak berniat mendirikan tenda dikawasan Goa maka kami diperbolehkan untuk camp di Pos Goa Walet dengan jaminan yang kami buat tidak ada sampah sedikitpun.
Awan mulai kelabu kabut turun perlahan tipis, dibarengi tiupan angin menyelusup ke sela sela pakaian dingin sekali. Plang pos Sanghiang ropoh. Dari sini rintik hujan mulai turun kami membagi tugas Zainal berjalan lebih awal karena membawa tenda, dan aku mengikuti di belakang karena fisikku tak sebaik Zainal akhirnnya aku tertinggal jauh. Hujan semakin deras diperjalanan aku bertemu dengan muda mudi yang baru pulang dari puncak mungkin sudah dari pagi mereka di sana. Itu terakhir aku melihat manusia sepanjang perjalanan naik selain Zainal. Jalanan yang terjal serta berlubang membuat kewaspadaanku bertambah lubang-lubang baru tertutupi air yang turun dari atas aku seperti berjalan di air terjun.
Beberapa kali sudah aku terpeleset dan menginjak ponco ku sendiri, berapa kali sudah aku berhenti berharap Zainal balik menjemputku. Saat itu ingin rasannya putar arah namu semua perbekalan makanan ada dikantungku tak mungkin meninggalkan Zainal kelaparan di atas. Sesekali aku menghangatkan tubuh dengan cara bersembunyi diantara bebatuan sampai menghangatkan diri dengan cara mengencingi tanganku sendiri, cuaca saat itu benar-benar kurang bersahabat hujan semakin lebat pandanganku semakin tipis terhalangi air hujan.
Otaku terus mengeluh ini masih jauh ke mana, sampai mana di mana kamu Zainal tega tak menjemputku. Sampai simpang Apuy aku terus menggerutu itu mungkin yang membuat aku terus panas. Dalam kondisi ini aku harus tetap bergerak agar tidak keram atau hipotermia. Langkah sudah tak terhitung lagi bercapur gundukan emosi. Sepatu semakon berat, beban kini bertambah dua kali lipat. Ah. Tak lama aku temukan plang goa Walet dengan tenaga tersisa aku coba berteriak memanggil Zainal tapi tak juga ada jawaban, aku kembali mengeluh jangan jangan dia kepuncak ah. Makin kalut dari awal kami sepakat tidak mendirikan tenda dibawah goa akhirnya aku naik, ternyata sudah berdiri tenda kami tidak jau dari plang goa walet dan Zainal ada di dalamnya sambil mengerang kesakitan karena otot pahanya keram.
            Hujan semakin drama melihat Zainal kesakitan aku sudah tak lagi kesal padanya mungkin ini alasan dia tak menjemputku kembali hujan masih deras sambil ganti baju aku coba menenangkan diri dan membantu Zainal agar keramnya membaik. Kini giliran ia bercerita mengenai perjalananya yang tak memiliki bekal, juga jas hujan karena jas hujan ada di tasku. Akhirnnya kekesalanku terobati dengan gelak tawa, disambut perut lapar masak dan makan. Zainal terus mengerutu pengalmanya mendaki Gunung Ciremai bukan tergolong baru ia sudah hatam seluk beluk jalan ini, namun kali ini ia sadar bahwa alam tidak bisa ditebak dan ia menyatakan ini pendakian terberat yang pernah ia alami ketika mendaki Ciremai. Malam menyelimuti kami hujan tetap turun namun tak begitu deras berharap pagi akan cerah.


Menuju Puncak
            Sebelum tidur kami berdiskusi mengenai puncak dan apabila begini keadaanya sepertinnya puncak bukan lagi tujuan utama setelah makan kami memutuskan untuk tidur puncak tergantung bangun jika bangun pagi ya..ke puncak jika kesiangan turun lagi saja.
            Tidur kami tidak begitu nyenyak, angin pegunungan menyelusup kedalam celah-celah sleeping bag, bagaimana dengan kawan satu ini, tengah malam ia terbangun kerena dingin dua kalilipat dari ku, sebelum naik aku tawarkan sleeping bag punya ku tapi katannya cukup celana panjang saja biasanya gitu. Tiba-tiba aku dibangunkanya ternyata ia membutuhkan kaos kaki miliku yang kering kebetulan dijadikan bantal, jaket juga, ternyata kaos kaki belum cukup menghangatkan kakinnya, kini kaki kanannya dibungkus oleh tutup nesting dan kaki kirinya oleh sarung bungkus sleeping bag kasian betul nasibmu, setelah itu tak terdengar lagi suara si kawan mungkin sudah cukup hangat.
Puncak Berkabut


Sesungguhnya ini puncak yang tak nampak
            Jam tangan menunjukan pukul empat bagian Ciremai, ada langkah kaki lain selain kami, Zainal membangunkanku dingin masih begitu menyelusip berharap dapat melihat matahari dari ketinggian 3078 Mdpl. Setelah mengumpulkan kekuatan dan membereskan semua perlengkapan akhirnnya kami naik juga semua peralatan kami bawa karena berencana turun dengan jalur Linggarjati.
            Saat perjalanan menuju puncak kabut senantiasa menyertai berharap di atas akan cerah dari tempat mendirikan tenda jarak tempuh ke puncak tak begitu jauh kurang lebih lima belas menit. Kaki kami akhirnnya menginjak puncak Ciremai rutinitas yang biasa kami lakukan saat mencapai puncak adalah adzan, karena aku paling tua maka aku yang mengumandangkan adzan dengan napas terengah engah dikarenakan dingin.
            Puncak begitu gelap yang ada hanya kabut tebal dan udara dingin, super dingin setelah memutuskan untuk foto-foto dan sarapan akhirnnya pukul enam pagi kami turun karena cuaca semakin memburuk, hari itu puncak belum ingin kami lihat dia masih malu-malu itu pertanda aku dimintannya kembali hehe.
Perjalanan Pulang
            Setelah melakukan segala aktivitas di puncak akhirnnya kami pulang melalui rute berbeda, ada yang aneh sepertinya Zainal ragu dengan keputusanya saat itu. Beberapa kali ia membuat statmen kambali melalui jalur yang sama. Jika memutuskan untuk turun dari jalur Linggarjati maka kami harus memutari puncak namun keragu-raguanya terus aku jawab dengan guyonan lain seolah tak peduli. Saat itu angin begitu kencang kami berjalan dibibir jurang, mungkin itu yang membuat Zainal sedikit takut.
            Setelah jauh sekali kami berjalan ada papan petunjuk arah saat itu jarak pandang begitu tipis, sambil duduk aku menunjuk bahwa itu jalur kita turunn, akhirnnya kami meluncur turun jalur yang cukup curam. Sepanjang jalan aku melihat bunga edelwises sepertinnya jika langit tidak mendung berjalanan pulang cukup bagus. Setelah beberapa lama perjalanan Zainal merasa ada kejanggalan ternyata ini bukan jalur Linggarjati ia tak sedikitpun mengenal medan, alamak berdebar hati ku Zainal yang ku andalkan juga tak mengenal medan apa lagi aku.
Perjalanan Pulang


            Sepertinnya ini jalur baru yang sengaja warga buat, sudah hampir satu jam kami baru menemukan papan nama pos ternyata ini jalur turun Linggasana, yang juga jalan baru.tak ada pilihan lain selain melangkah terus. Jalan yang begitu terjal dan teramat panjang sampai-sampai kaki Zainal cedera  dia yang ku kenal kaki baja saja cedera apalagi aku sudah lain cerita setiap kali ada turunan bukan lagi kaki pantat sudah kujadikan tumpuan, entah berapa kali terjerembab kedalam semak-semak karena tersangkut akar.
            Stok air menipis perjalanan masih tak kami tahu ujungnya, sempat ada peta perjalanan yang berada di pos, saat turun aku tak sempat mengingat nama-nama pos saking panjangnya perjalanan dipeta tersebut menunjukan ada mata air yang dapat kami minum. Namun setelah kami lalui ternyata mata air tersebut terdapat di bawah jurang lutut sudah gemetar harus turun ke bawah lebih baik melanjutkan perjalanan dengan sesekali minum genangan air di dedaunan. Sampai bosan kami berjalan dan membaca tulisan turun namun tak juga berujung, perjalanan turun kami tempuh kurang lebih dua belas jam, yang tadinnya diperkirakan hanya lima jam karena jalur Linggarjati ternyata ini double Jalur Linggasana memang Juara turun saja sudah begitu repotnnya apalagi naik sepanjang perjalanan hanya kami berdua manusianya.
            Untuk menyemangati perjalanan Zainal terus berulang kali bertanya di bawah nanti apa yang akan kami beli pertama kali tentunya baso atau mie rebus pedas. Setelah perjalanan panjang akhirnnya kami sampai juga ke Pos Linggasana di baligho banya tulisan-tulisan tangan yang juga ternyata mengeluh melalui jalur ini, ternyata bukan hanya kami yang terjebak jawab Zainal sambil membaca tulisan tersebut. Menunggu jemputan sambil makan mie rebus pake telor dan minumnya air teh. 
“Tunggu aku kembali, melihat keindahan dari tingginya engkau Ciremai”

Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "Gunung Ciremai 3078 Mdpl "