Cerpen-MALAM
MALAM
Dalam
setiap kepala terdapat banyak sekali jaringan yang tekoneksikan atau bahkan
mangkrek karena tidak digunakan. Manusia memiliki akal yang terbentuk dari dasarnnya
berpikir juga lingkungan serta sudut pandang, kemudian memiliki wilayah dan
penganutnnya.
Malam
itu dua gelas kopi terhidang wanginnya memecah angkasa, sungguh itu adalah hal
termanis bagi setiap orang biasa seperti
mereka. Kolong jembatan dengan nuansa remang-remang setelah sebelumnya
mereka memutuskan berjumpa, entah kenapa kolong jembatan menjadi tempat asik
bagi mereka berdua. Dihadapan mereka terdapat tembok yang menopang teguhnnya
ribuan mobil tanpa dipinta upah sedikitpun, ada mural menarik gambar Ormas
Kalengan, sepertinnya organisasi seperti ini sedang digandrungi oleh siapa saja
yang mau dan sesuai kehandak hati aturannya bisa srek, bisa juga sekte bentuk
baru.
“ah….kopi
yang nikmat,” semua beban dilepas bersama wangi kopi.
Jembatan
di tengah kota telah menjadi symbol pemisah kaya dan miskin mobil-mobil mewah
setiap harinnya melintas di atas mereka, sedangkan bedeng-bedeng kardus ada di
bawahnnya, dengan nuansa yang lebih sering kelaparan ketimbang music disko atau
koplo kegemaran pajabat berperut offset.
Setiap
manusia bebas menggembalakan otaknnya terserah mereka begitupun kedua sahabat
ini, matanya menerobos setiap cahaya yang remang. Rokok yang terhidang tak
lebih dari empat batang segera mereka sambar kemudian pematik api melanjutkan
tugasnnya, kepulan asap yang mereka lepas bercampur dengan kotornya udara kota.
Bukan hanya bau knalpot dari truk rombeng yang mengangkut mobil mewah, tetapi
bau mulut yang lebih berbahaya dari itu semua, bau mulut yang dibarengi bualan
gombalan dan mesti memakan korban.
Kedua
sahabat tadi menangkap sosok manusia tak jelas lelaki atau perempuan, yang
terus gelisah seperti menunggu jemputan,
“Lihat
itu menurutmu siapa yang ia tunggu?, apa ia ada yang mau?” nada sinis muncul
membarengi pertanyaan yang tak butuh jawaban.
Kita
tidak pernah tau pilihan setiap orang karena tidak ada data statistic mengenai
itu semua, terkadang kebenaran bisa digondol oleh masing-masing orang. Kedua sahabat
tadi saling menatap seperti ada yang salah, mereka tidak di ijinkan menerawang
lebih jauh lagi. Manusia tadi menghilang bersama penjemputnnya juga malam yang
terasa lambat dibagian sini.
“coba
lihat itu!!apa yang mereka pikirkan mabuk-mabukan saban hari mau jadi apa negara
ini” mata mereka tertuju pada beberapa pemuda, tubuhnya limbung bak pohon
diterpa beliung. Sesekali mereka bernyanyi dan mengucap mantra pengusir rasa
lapar.
Kini
pembicaraan kedua sahabat tadi semakin serius memang selalu begitu, mereka
sedikitnnya pernah membaca buku dan coba menerjemahkannya dalam kehidupan
dengan bergaul dan memeriksa apa saja yang mereka lihat. Kopi dan malam memang
selalu membawa mereka mabuk, mabuk pada kebenaran yang mereka rindukan mungkin
setiap orang akan merasakannya kemabukan tadi akan berbuah hasil atau terbang
bersama asap gentayangan.
Malam
telah menjelma menjadi kenikmatan bagi kedua sahabat tadi, tidak hanya pikiran
tapi mata juga hidung ikut terasah. Mencium wangi gairah atau suara resah
menunggu esok makan apa. Tidak ada bintang di sini, semua tertutup oleh asap
pabrik yang terus bekerja demi memberikan harapan pada ribuan manusia.
“bukankah
setiap orang berhak memilih? Bukan begitu kawan seperti malam ini kita
memutuskan minum kopi.”
“Coba
lihat di seberang sana?”
“mana…maksudmu
itu!!”
“ia
itu banyak betul anaknnya, apa dia lupa kalau dunia ini sudah penuh sesak, mau
makan apa mereka nanti kalau sudah besar?”
Mulut mereka sudah tak terkendali
seperti kerasukan roh suci. Mengomentari apa saja yang mereka anggap salah. Tajuk
kehidupan memang selalu mereka bawa setiap berjumpa. Kemegahan kota telah
menjelama menjadi ketakutan tentang esok hari ada apa dihadapan. Nuansa cinta
selalu ada bersama rakya-rakyat kecil lantas apa selain itu? Modal mereka
bertahan selain membual, berdoa, kalau soal usaha tak perlu lagi ditanyakan.
Semakin malam rasannya mereka berdua
sudah tak terbendung lagi. Yang membatasi mereka untuk berhenti hanya rokok. Mereka
berdua memilih merebahkan badan sesaat beban hidup bukan hanya mereka pikul
tapi juga pikir. Kemudian hilang bersama malam yang telah berganti.
Cikampek 2012
W.Hermawan

Posting Komentar untuk "Cerpen-MALAM"