Bingkai Foto
Aku
mengenalnya disetiap pagi ku sebelum beraktivitas pergi bekerja, bahkan sejak aku kecil dan mengenal manusia ia telah menempati rumah itu, suara daun
mangga kering tersapu oleh lidi menambah nuansa pagi di kampung begitu sejuk
dan hening. Tak satupun semut luput dari pantauan. Setelah semuannya selesai
Temi akan terus berputar mengelilingi setiap bagian rumahnya yang cukup luas
dengan model Belanda dengan tihang penyangga rumah besar, rumah dengan gaya tua
itu hasil jerih payah mereka berdua semasa muda. Temi bukan tak punya anak dua
anaknya jauh merantau setelah berbekal ilmu karena harta tak banyak yang Karmin
tinggalkan.
Sepeninggal
suaminya Temi menjadi sosok perempuan linglung kadang emosinnya meledak pada
siapa saja yang ia lihat. Ia bisa menuduh tetangga sebelah membicarakan dirinya
atau menguntit dirinya yang janda. Dari balik pintu rumahku aku sering
memperhatikanya berbicara mengerutu tanpa sebab, semua orang tahu dan
memakluminya suami tercintanya pergi secara tiba-tiba tak ada catatan medis
mengenai penyakitnya kata orang suaminya kena teluh (guna-guna) gossip itu
menyebar begitu saja padahal suami Temi orang baik walaupun aku tak mengenal
banyak mengenai suami Temi karena lebih sering berada diluar kota.
Semenjak
suami Temi meninggal aku sering di mintai tolong oleh Iwan anak mereka yang
berada di Bandung, sekedar menayakan kabar ibunya atau menyampaikan pesan. Aku
sering melihat tatapan kosong kesepian Temi umurnya belum teramat tua mungkin
baru kepala tiga tapi beban hidupnya begitu berat. Aku sesekali pernah dipaksa
untuk mendengarkan cerita mengenai anak-anaknya hingga suaminya ia selalu
membanggakan anak pertamanya Bayu yang sudah pergi melanglangbuana ke penjuru
bumi dengan alat peraga bingkai foto keluarga mereka, apa peduli ku namun
sepertinya Temi butuh teman.
Pernah
suatu hari Iwan mengirimkan paket berisi pakaian ayahnya serta foto besrta
bingkai foto suami tercintanya, kemudian menyuruhku mengantarkan paket itu
kerumahnya. Awalnya aku tak berpikir begitu jauh mengenai isi paket tersebut
namun tiba-tiba temi menyuruhku duduk bersila mendengarkan ocehannya yang
semakin ngaco bagi telingkaku.
“hey
kamu tahu kenapa anaku mengirimkan ini?” gerak tubuhnya mengisyaratkan aku
harus menjaga rahasia namun itu semua tak penting aku hanya terjebak dalam
situasi ini dan tentunnya Temi butuh jawaban dariku “Tidak?” jawabku seadanya
“begini kuceritakan padamu, tapi ingat jangan sekalipun kau bocorkan pada
orang-orang di sini mereka semua pendusta, semalam aku bermimpi dengan
seseorang kemudian ia berbisik kalau suamiku dijadikan tumbal pesugihan ah…kau
percaya itu?” dalam posisi ini aku semakin bingung bulukuduku ikut merinding
tapi bukan itu permasalahan sebenarnya ia sudah terjebak dalam halusinasih yang
ia miliki, “ia..ia bu,”jawabku terbata-bata. Apa yang membuat Temi seperti ini
kesepian? Atau tekanan batin, ah mungkkin besok ia akan baik-baik saja.
***
Kemacetan
lampu merah menjadi santapan biasa apalagi umpatan kekesalan sepertinya ini
menjadi tontonan biasa kota besar. Sialnya aku terjebak di sini dengan semua
kebutuhan dan mimpi yang harus ku bangun.
“kapan
aku bisa pulang dan menjenguk ibu,”
Setiap
pagi selalu begini sibuk dengan mengisi perut dan mencari pakaian kerja coba
punya istri mungkin ini semua bisa terpecahkan. Setelah itu menghadapi macet
manusia punya jam yang sama tapi tempat yang sempit.
“Kring…kring”
dering suara telepon gemgam berbunyi memecah suasana pagi yang biasa ku jalani,
“Apa kabar bu? Tumben sepagi ini sudah telp,” jawabku sambil tergesa-gesa
menggunakan kaos kaki, “pokonya besok kirimkan semua pakaian ayahmu dengan foto
yang kamu bawa tidak usah banyak tanya” suara ibu begitu ketakutan “ada
apa..tut..tut” tanpa diakhiri salam telepon terputus aku semakin heran dengan
ibu akhir-akhir ini semakin tidak jelas kemarin telp ada tetangga sebelah rumah
menggodanya ah masa ia setahuku lingkungan di sana aman-aman saja.
Sepagi
ini aku harus mengemasi pakaian ayah, ibu sudah semakin menghawatirkan tapi aku
belum bisa ada di sana dan tak mungkin ibu ku ajak di sini, kontrakan sekecil
ini di mana ia tidur. Bilik yang hanya menjadi tempat transit antara pekerjaan
dan keseharian. Aku tak bisa terus begini ibu tak mungkin terus terusan sendiri
tapi?.
Sepertinya
aku butuh teman bercerita agar ada solusi tapi apa kakaku sudah bangun biasanya
di sana masih malam hari, mungkin nanti akan ku telp sepulang kerja. Menjadi
buruh di kota orang begini memang untuk bertemu orang tua saja susah sudah
begitu potongan gaji menghantui semuanya. Hari ini pikiranku semakin kalut
nampaknya tak bisa berpikir jernih karena kejadian pagi tadi.
“a,
gimana ibu? semuanya menjadi semakin kacau?” tanya tanyaku pada kakak yang
sedang melanjutkan studi di Australia berkat beasiswa yang ia peroleh setahun
lalu, “kenapa lagi, sebentar lagi aku pulang biar nanti ku urus, kaukan lebih
dekat jangan egois pulang lah jenguk ibu” jawabnya yang seolah tak mau tahu,
“bukan begitu, ibu semakin aneh, aku baru pulang dua bulan yang lalu masa
sekarang pulang lagi, ia meminta semua pakaian ayah juga foto entah untuk apa.”
Percakapan
bodoh kenapa jadi aku yang salah jelas jelas dia anak paling besar tak tahu
tanggung jawab bisanya menyusahkan saja. Percuma sekolah tinggi tapi ibu
sendiri gak keurus. Bisa kena pecat kalau terus terusan minta cuti mana
perusahaan sedang amburadul keuanganya, hah kakak macam apa hanya sibuk
mengurusi diri sendiri.
***
Halaman
yang biasanya bersih kini ditumbuhi rumput kolam indah sudah tak lagi terurus,
rumah itu kini lebih seram dari biasanya sejak seminggu lalu kepergian Temi
kini rumah tersebut gelap gulita. Terakhir aku melihatnya masuk kedalam mobil
van berwarna putih tak ada yang tahu kemana ia akan pergi sepertinya ia sudah
begitu jijik melihat semua manusia yang ia anggap munafik menutup mata akan
penderitaannya,
Temi
memilih bebas, dan mengantungkan hidupnya pada orang lain sebelum ia pergi ia sempat
mengacungkan tanganya dan menyimpan di mulutnya sembari menoleh kehadapanku.
Seperti isyarat tak boleh ada yang tahu ini rahasia kita. Bingkai foto yang
terpajang di ruang tamu sudah tak terlihat lagi pada perjumpaan terakhir kami
entah kemana perginya sepertinya Temi memiliki rahasia lain yang tak ingin ku
ketahui.
Cirebon
2017
Posting Komentar untuk "Bingkai Foto"