Bingkai Foto

Angin musim gugur membawa kisahnya, matahari menjulang tinggi diangkasa biru, kokok ayam dipagi hari telah menjadi pertanda alam semesta bangun dari tidurnya, begitupun dengan sosok janda yang ditinggal mati suaminya Temi. Separuh hidupnya telah ia abdikan untuk suaminya hingga bertahun-tahun sudah sang suami meninggal ia tetap melihatnya, melihat dalam setiap kelebat pikirannya serta setiap jengkal tanah yang pernah ia lalui bersama Karmin suaminya.
Aku mengenalnya disetiap pagi ku sebelum beraktivitas pergi bekerja, bahkan sejak aku kecil dan mengenal manusia ia telah menempati rumah itu, suara daun mangga kering tersapu oleh lidi menambah nuansa pagi di kampung begitu sejuk dan hening. Tak satupun semut luput dari pantauan. Setelah semuannya selesai Temi akan terus berputar mengelilingi setiap bagian rumahnya yang cukup luas dengan model Belanda dengan tihang penyangga rumah besar, rumah dengan gaya tua itu hasil jerih payah mereka berdua semasa muda. Temi bukan tak punya anak dua anaknya jauh merantau setelah berbekal ilmu karena harta tak banyak yang Karmin tinggalkan.
Sepeninggal suaminya Temi menjadi sosok perempuan linglung kadang emosinnya meledak pada siapa saja yang ia lihat. Ia bisa menuduh tetangga sebelah membicarakan dirinya atau menguntit dirinya yang janda. Dari balik pintu rumahku aku sering memperhatikanya berbicara mengerutu tanpa sebab, semua orang tahu dan memakluminya suami tercintanya pergi secara tiba-tiba tak ada catatan medis mengenai penyakitnya kata orang suaminya kena teluh (guna-guna) gossip itu menyebar begitu saja padahal suami Temi orang baik walaupun aku tak mengenal banyak mengenai suami Temi karena lebih sering berada diluar kota.
Semenjak suami Temi meninggal aku sering di mintai tolong oleh Iwan anak mereka yang berada di Bandung, sekedar menayakan kabar ibunya atau menyampaikan pesan. Aku sering melihat tatapan kosong kesepian Temi umurnya belum teramat tua mungkin baru kepala tiga tapi beban hidupnya begitu berat. Aku sesekali pernah dipaksa untuk mendengarkan cerita mengenai anak-anaknya hingga suaminya ia selalu membanggakan anak pertamanya Bayu yang sudah pergi melanglangbuana ke penjuru bumi dengan alat peraga bingkai foto keluarga mereka, apa peduli ku namun sepertinya Temi butuh teman.
Pernah suatu hari Iwan mengirimkan paket berisi pakaian ayahnya serta foto besrta bingkai foto suami tercintanya, kemudian menyuruhku mengantarkan paket itu kerumahnya. Awalnya aku tak berpikir begitu jauh mengenai isi paket tersebut namun tiba-tiba temi menyuruhku duduk bersila mendengarkan ocehannya yang semakin ngaco bagi telingkaku.
“hey kamu tahu kenapa anaku mengirimkan ini?” gerak tubuhnya mengisyaratkan aku harus menjaga rahasia namun itu semua tak penting aku hanya terjebak dalam situasi ini dan tentunnya Temi butuh jawaban dariku “Tidak?” jawabku seadanya “begini kuceritakan padamu, tapi ingat jangan sekalipun kau bocorkan pada orang-orang di sini mereka semua pendusta, semalam aku bermimpi dengan seseorang kemudian ia berbisik kalau suamiku dijadikan tumbal pesugihan ah…kau percaya itu?” dalam posisi ini aku semakin bingung bulukuduku ikut merinding tapi bukan itu permasalahan sebenarnya ia sudah terjebak dalam halusinasih yang ia miliki, “ia..ia bu,”jawabku terbata-bata. Apa yang membuat Temi seperti ini kesepian? Atau tekanan batin, ah mungkkin besok ia akan baik-baik saja.
***
Kemacetan lampu merah menjadi santapan biasa apalagi umpatan kekesalan sepertinya ini menjadi tontonan biasa kota besar. Sialnya aku terjebak di sini dengan semua kebutuhan dan mimpi yang harus ku bangun.
“kapan aku bisa pulang dan menjenguk ibu,”
Setiap pagi selalu begini sibuk dengan mengisi perut dan mencari pakaian kerja coba punya istri mungkin ini semua bisa terpecahkan. Setelah itu menghadapi macet manusia punya jam yang sama tapi tempat yang sempit.
“Kring…kring” dering suara telepon gemgam berbunyi memecah suasana pagi yang biasa ku jalani, “Apa kabar bu? Tumben sepagi ini sudah telp,” jawabku sambil tergesa-gesa menggunakan kaos kaki, “pokonya besok kirimkan semua pakaian ayahmu dengan foto yang kamu bawa tidak usah banyak tanya” suara ibu begitu ketakutan “ada apa..tut..tut” tanpa diakhiri salam telepon terputus aku semakin heran dengan ibu akhir-akhir ini semakin tidak jelas kemarin telp ada tetangga sebelah rumah menggodanya ah masa ia setahuku lingkungan di sana aman-aman saja.
Sepagi ini aku harus mengemasi pakaian ayah, ibu sudah semakin menghawatirkan tapi aku belum bisa ada di sana dan tak mungkin ibu ku ajak di sini, kontrakan sekecil ini di mana ia tidur. Bilik yang hanya menjadi tempat transit antara pekerjaan dan keseharian. Aku tak bisa terus begini ibu tak mungkin terus terusan sendiri tapi?.
Sepertinya aku butuh teman bercerita agar ada solusi tapi apa kakaku sudah bangun biasanya di sana masih malam hari, mungkin nanti akan ku telp sepulang kerja. Menjadi buruh di kota orang begini memang untuk bertemu orang tua saja susah sudah begitu potongan gaji menghantui semuanya. Hari ini pikiranku semakin kalut nampaknya tak bisa berpikir jernih karena kejadian pagi tadi.
“a, gimana ibu? semuanya menjadi semakin kacau?” tanya tanyaku pada kakak yang sedang melanjutkan studi di Australia berkat beasiswa yang ia peroleh setahun lalu, “kenapa lagi, sebentar lagi aku pulang biar nanti ku urus, kaukan lebih dekat jangan egois pulang lah jenguk ibu” jawabnya yang seolah tak mau tahu, “bukan begitu, ibu semakin aneh, aku baru pulang dua bulan yang lalu masa sekarang pulang lagi, ia meminta semua pakaian ayah juga foto entah untuk apa.”
Percakapan bodoh kenapa jadi aku yang salah jelas jelas dia anak paling besar tak tahu tanggung jawab bisanya menyusahkan saja. Percuma sekolah tinggi tapi ibu sendiri gak keurus. Bisa kena pecat kalau terus terusan minta cuti mana perusahaan sedang amburadul keuanganya, hah kakak macam apa hanya sibuk mengurusi diri sendiri.
***
Halaman yang biasanya bersih kini ditumbuhi rumput kolam indah sudah tak lagi terurus, rumah itu kini lebih seram dari biasanya sejak seminggu lalu kepergian Temi kini rumah tersebut gelap gulita. Terakhir aku melihatnya masuk kedalam mobil van berwarna putih tak ada yang tahu kemana ia akan pergi sepertinya ia sudah begitu jijik melihat semua manusia yang ia anggap munafik menutup mata akan penderitaannya,
Temi memilih bebas, dan mengantungkan hidupnya pada orang lain sebelum ia pergi ia sempat mengacungkan tanganya dan menyimpan di mulutnya sembari menoleh kehadapanku. Seperti isyarat tak boleh ada yang tahu ini rahasia kita. Bingkai foto yang terpajang di ruang tamu sudah tak terlihat lagi pada perjumpaan terakhir kami entah kemana perginya sepertinya Temi memiliki rahasia lain yang tak ingin ku ketahui.
Cirebon 2017
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "Bingkai Foto"