Nostalgia Masa SMA Black ROck
![]() |
| ceritannya ini rok. |
BlackRock
Mendadak
Ngeband
2015 awal masuk
SMA, pengalaman baru anak kampung yang pergi ke kota karena tuntutan keluarga
yang harus pindah, itu saya. Sebelum pindah keluarga memimpikan sekolah di SMA
Negeri karena biaya lebih murah dan terjangkau juga meningkatkan prestise saya
karena pada waktu itu Sekolah Negeri cukup Populer di wilayah tersebut,
ternyata dapatnnya swasta ya dari pada gak sekolah. Masih ingat ketika bapak
membawa saya pergi untuk daftar ke sekolah terbebut, sekolah yang berada
dibalik bayang-bayang SMA Negeri 1 Kota Banjar sekolah dengan nuansa hijau dan
lorong-lorong mengingatkan saya pada lorong rumah sakit, bernama SMA PGRI.
Kisah ini berawal dari lorong itu dan gerbang yang bisa
diangkat kalo siswannya pengen pulang tapi! Sekarang sekolah tersebut sudah
berubah, statusnnya pun berubah seingat saya 2007 awal mula perubahan itu
terjadi. Kini Sekolah dengan lorong rumah sakit dan nuansa go green itu, telah menjadi rival yang sepadan dengan sekolah di
sampingnnya SMA 1 Banjar. Sebagai pendatang tentunnya saya harus segera beradaptasi,
baik pergaulan maupun bahasa. SMA Swasta yang hanya 3 kelas seangkatan banyak
meninggalkan kenangan. Gaya-gayannya anak pada jaman itu adalah ngeband
sepertinnya jadi anak band adalah cita-cita Nasional anak muda kala itu. Zaman memang begitu tergesa-gesa serasa baru
kemarin saya menjadi penulis surat cinta bagi teman-teman sekarang sudah
tergantikan oleh ponsel super canggih dan modern.
Jiwa remaja tentunnya harus juga punya jiwa ngeband. Mungkin
itu filosopi yang tepat pada jaman saya. Terkadang hidup memang begitu, untuk
mendapatkan teman saya harus mencuri-curi kabar bagaimana saya bisa masuk jadi
anggota band (bukan boy band). Akhirnnya saya menyelinap masuk dengan modal
mengeluarkan uang Rp 1000 untuk patungan rental alat-alat band. Uang seribu
perak yang sangat berharga tidak saya sia-siakan jika ada grup band yang kekurangan
uang saya mesti datang dan menawarkan uang, saya sekedar ingin tahu apa sih yang
ada di dalam studio band, dengan bekal main gitar yang kuncinnya hanya E C G D.
Namun itu semua tidak bertahan lama saya sering puasa
jajan demi ikut-ikutan ngeband kenapa ikut-ikutan dari banyak lagu yang
dimainkan dalam satu jam paling saya cuma dikasih megang gitar bas sekali udah
gitu doang jadi pasrah saja, kemapuan saya memegang alat music juga standard apa
lagi suara. Lama kelamaan mulai merasa dimanfaatkan padahal awalnnya saya yang
pengen. Perombakan personil band sudah berkali-kali saya mengikuti semua itu tapi
tidak pernah ditawari di tim inti, hanya sebatas penyumbang uang seribu kalau
mau latihan.
Saat ini saya sedang
tersenyum mengingat itu semua. Cita-cita jadi anak band apa kabarnnya. Mau jadi
apa saya ini jika tidak ngeband kurang lebih begitu.
Personil
Senasib
Otak saya masih
berusaha mengingat apa yang harus saya kenang dari sekolah yang jika siang bau
tai sapi menyerang hidung (hal ini disebabkan ada kandang sapi dibelakang
sekolah) Sekolah yang setiap pembatas kelasnnya menggunakan sistem geser
seperti ruko-ruko pasar yang seketika bisa dirubah menjadi aula, atau parit-parit
dengan banyak ikan. Dinding sekolah yang sacral dengan lubang menganga tempat
para lelaki mengintip rok kawan di kelas sebelah dan dijadikan tebak-tebakan
sungguh itu semua perbuatan keji dan tidak berprikemanusiaan, maaf kan kami
gadis kelas sebelah sebut saja bunga, suruh siapa duduk di situ (yang ini
jangan di tiru).
Akhirnnya lubang itu di tutup gara-gara Wa…..(teman
sekelas saya pasti tahu pristiwa ini) iseng masukin penggaris saat disebelah
ada guru, sialnnya penggaris itu tepat diselangkangan guru, saya masih heran
apa yang dia pikirkan saat itu, dengan gaya kursi jungkit tanpa disadari
tangannya masuk ke lubang, kami semua tidak sadar sampai pada akhirnnya guru
sebelah ruangan datang dan bertannya siapa yang iseng nyolok-nyolok selangkangan
saya dengan penggaris?. Saat itu mata kami semua menoleh ke belakang dengan
wajah polosnnya Wa…. angkat tangan, dengan bukti penggaris oh…betapa asiknnya.
Kisah di atas tidak ada kaitannya dengan sub judul tapi
terimakasih telah membacannya, hari demi hari saya lalui sebagai pelajar yang
budiman sesekali nakal karena lingkungan, maaf kan saya Ma. Tidak terasa sudah
kelas tiga kini kami di kotak-kotakan antara IPA dan IPS so…soan pake tes padahal Cuma tiga kelas hehehe. Tara dapet Kelas IPA namun saya memilih IPS saja, di Ipa
populasi perempuan tidak sebanding dengan pria, rasa-rasannya kurang macho, itu
yang terlintas dalam pikiran saya kala itu. Tema ngeband masih terus
diperbincangkan di tembok kelas di kursi-kursi coret-coretan nama band, tapi apa
daya saya Cuma tepuk tangan.
Kantin yang kecil telah mempertemukan kami,
manusia-manusia yang tidak sealiran dengan music cengeng (sadap), kata tidak
diterima mungkin lebih tepat. Air teh dingin dengan baso aci (tepung Kanji)
membuka perbincangan mengenai membentuk band. Wajah-wajah polos tak berdosa itu
masih saya ingat, juga mangkok baso yang sausnnya banyak biar siabangnnya rugi.
Bertemulah kami. Kini saatnnya perkenalan.
Saya
mulai dari gitaris, kemampuannya main gitar tidak diragukan saking asiknnya dia
masih jomblo sampe kelas tiga karena gitar lebih aduhay, namun kebiasaanya
nyetel gitar atau kata lain ngangngengong sebelum main dianggap pemborosan oleh
teman-teman lainnya namun ia tidak pernah kehilangan tawaran jadi personil band
hanya saja mungkin belum ada yang cocok namannya Hendrik. Badan kurus tinggi
cocok sekali dengan gitarnnya. Satu lagi pemain gitar pindahan dari CIAMIS anak
ini misterius kalo sedang ngomongin hal-hal pelajaran pasti ilang tapi kalo
masalah music dia pasti ada udah kaya jalangkung. Sampai-sampai kepindahannya
ke banjarpun kami tidak tahu kakinnya selalu terbuka kalau sedang main gitar
namannya Ari.
Lanjut
pada pemetot gitar bass ada Ricky, dia adalah lelaki yang bertubuh subur paling subur
diantara kami sayapun tidak paham kenapa dia ada bersama kami mungkin Hendrik yang
ajak karena ricky dan hendrik sering main band sama-sama tapi sebagai pemeran
pengganti. Bagian gebuk-gebuk ada Lukman, nama panggung Lucky Alay eh salah
Lucky Arai (so…soan pake nama panggung), laki-laki yang selalu merasa tinggi
dan ganteng padahal kenyataannya emh…gantengnnya okelah tingginnya! Tidak!
gantengnya karena ia laki-laki, orang yang lebih sering di bus sony (Pangandaran Banjar, ini adalah andalan pamungkasnnya
kalau terlambat tidak ada bus) ketimbang di sekolah dan berbicara soal motor. Sekarang
Vocalis nah ini bagian paling penting….tara
ada bung Galih atau Ginding saya
tidak tahu kenapa jadi Ginding. Perangainnya kurang lebih sama dengan Ari,
maklum satu Ras Lakbokois (yang ini
tanyakan pasa saya), ia juga pindahan dari Ciamis, manusia yang membawa ponsel
paling canggih diantara kami dan uang yang banyak. Yup giliran saya, saya
bagian nyambungin setrum hahaha…
mereka semua yang mau nerima suara saya yang gak jelas ini, saya dijadiin
vocalis woooy waras wooy, tapi tak apalah di coba.
Siapa
tahu ada yang penasaran saya cantumin facebooknnya klik aja.
untuk
Hendrix tidak ketemu Facebooknnya lain kali saya cantumkan.
Manggung
Personel lengkap
acakadut pokonnya, setelah rapat yang panjang akhirnnya kami puruskan nama band
kami dalah Rainbow kenapa nama itu? karena kami berbada-beda aliran music, untung gak gado-gado juga. Hari-hari saya
kini mulai sibuk latihan sambil biar kaya band beneran jadwal padat boss.
Telinga selalu kami pasang untuk masalah panggung, saya
lupa tepatnnya berapa kali manggung tapi untuk nama Rainbow yang menjadi bukti
adalah sertifikat keikut sertaan kami dalam ajang musih di Lakbok, sertifikat
itu masih di simpan Oleh om Lucky.
Apa yang saya pikirkan saat itu? Kesenangan. Tidak peduli
apa kata orang pokonnya manggung suara jelek juga bodo amat ah. Aliran yang
kami usung adalah aliran listrik, eh salah Hip
Rock. Jadi ada hip hopnnya sedikit biar saya bisa ikutan. Sebenarnnya bung Galih belum ada ketika band Rainbow ini karena Jadwalnnya mungkin padat. Jarang ketemu
tapi nanti ada bagiannya ko tenang aja.
Sepertinnya saya sudah menjelma jadi anak band, demi
manggung saya rela latihan ke Banjarsari dan pulang larut malam, ke siapa lagi
kalau bukan Lucky Arai tadi. Dalam perjalanan ngeband ini sponsor terasik kami
hanyalah Lucky dia punya peralatan band yang simbalnnya kecrekan dangdut, juga
rental PS jadi setali dua uang hehe.
Merekam
dan Berpisah
Semuannya berjalan begitu cepat, sebentar lagi tahun
akhir kami sekolah, Ujian nomer kesekian, band yang utama. Kami menemukan titik jenuh
saya masih ingat waktu itu kami melakukan pertemuan singkat mungkin dioramannya
seperti rapat pemuda kala kemerdekaan. Dalam rapat itu kami memutuskan mengganti
nama band yang sudah lebih mirip nama kue, juga memutuskan untuk berhenti merusak
lagu orang dengan menambahkan lirik rap sesuka kami.
Otak kami semua di putar rapat itu terjadi di kosan Predi,
apa kabar ya si bibi, sudah sibibi nanti lagi. Semua sok sibuk ngotret lirik
lagu. Tapi apa yang menjadi tema kami tink…tara
korupsi kenapa ya…korupsi saya juga gak tahu yang jelas garis takdir. Mulai masuk
kelirik dan lagu Hendrix masih asik dipojokan mencari insfirasi, karena anak
sekolahan kami tidak meroko (Shit itu bohong). Kopi yang hanya segelas terus
ditenggak masuk mulut.
Yang lain masih sibuk memikirkan lirik lagu dan nada yang
pas lalu apa kerjaan saya? Saya juga punya bagian menemukan nama baru bagi band
ini tiba-tiba terbersit lubang yang saya ceritakan di atas tadi dan warna hitam
yang sering dipakai engkau bunga (hahaha, mungkin mereka baru tahu maksud dari
semua itu) dari sini lah muncul BlackRock
nama yang cukup sangar dan mudah di ingat seperti ingatanku pada isi rok ah
Shit.
Lagu sudah jadi, nama pun sudah di setujui sebagai tanda
jadi akhirnnya kami mencatatkan nama kami di meja sekolah dengan tipe-x, juga
dinding-dinding. Karena mendekati ujian kami tidak lagi manggung namun
memantapkan lagu yang berjudul koruptor tadi dengan latihan setiap hari supaya
lagu kami makin berotot. Jaman memang telah berubah pemuda seusia kami waktu
itu sangat senang mendengarkan radio sampai sampai antri beli kertas atensi. Dari
radio juga kami mendengar bahwa ada lomba lagu, yang diadakan stasion radio local
dan salah satu bungkus roko. Nantinnya kalau kami menang akan di ajak rekaman,
wow lomba yang menggiurkan.
Namun semua itu tidak mudah karena kami harus merekam
lagu, dari mana duitnnya biaya merekam lagu yang sederhana waktu itu kurang
lebih seratus ribu rupiah. Jadi kami perlu mengumpulkan uang minimal dua puluh
ribu per orang, walhasil berminggu-minggu baru terkumpul, dengan perjuangan yang begitu pelik
akhirnnya jadi juga kepingan kaset yang di ikutkan dalam radio. Saya ingin
mengingat saingan kami di sekolah yang juga ikut lomba ini namannya SpaiderBlue
ah saya lupa lagi cara nulisnnya. Ini adalah band yang digadang-gadang band
andalan sekolah selain musiknnya jelas orang-orangnnya juga waras kecuali yang
metot bas Bule, sisannya normal dan wajar.
Waktu itu pemenang di tentukan oleh poling sms sekali sms bayarannya duaribu rupiah busyet itu pulsa dua rebu mahal banget. Sebagai grupband
tentunnya kami harus punya jiwa dagang atau istilah kerennya promotor,
yang berperan pada bidang ini lagi-lagi bang Lucky jika saingan sebelah pasang pamphlet
setiap kelas kami tidak. Pas jam-jamnya orang istirahat Lucky tadi bertugas
pergi kekantor dan menyalakan mic informasi kemudian teriak-teriak sampai
kuping saya pekak rasannya, dukung kami-dukung kami udah kaya kampanya pokonnya
bodo amat yang penting tenar, menang nomer sekian.
Pokonnya masa itu kan terus melekat dalam ingatan, malam
harinnya kami semua memasang telinga setiap handai tolan kolega dan semua orang
yang punya ponsel mesti kami datangi pilih kami ya,, bahkan saking bangganya
bapak sama mama, semua temannya di beri tahu saat itu saya seperti tentara yang
akan berjuang ke medan perang saya melihat binar-binar bangga orang tua pada
anaknnya. Sampai larut malam kami tunggu dan hasilnnya keluar kami peringkat ke
empat dari sembila band lainnya yang musiknnya di putar malam itu, apa kabar band
saingan kami yang sudah tenar duluan, saat itu saya tertawa puas saat itu loh,
sekarang mah inget aja udah cukup.
Setelah malam itu sekolah mulai tahu keberadaan kami dada
saya dipasang setiap kali jalan sedap pokoknya. Apalagi waktu tahu kalau kami
ditawari untuk menyertakan lagu kami di lomba berikutnnya tapi dengan lagu
berbeda, sialnnya waktu itu uang kami tidak cukup ya sudah yang penting tenar. Hari
ini saya menulis ini dengan rindu rindu diam-diam pada band yang pernah menjadi
kebanggaan bapak dan mama, anakmu ngeband mak.
Sekarang mereka dimana?, kini rindu akan mudah terobati
sesekali saya melongok mereka di facebook masing-masing atau sekedar melihat
status BBM dari masing-masing
sisannya saling memperhatikan saja. Setelah malam itu satu persatu kami hilang
seperti misteriusnnya Ginding yang sampai pada akhir tahun perpisahan saja dia tak
ada, sampai kami tak jadi membawakan lagu Koruptor ciptaan kami.
Dari akun media Sosial saya tahu kabar mereka, sedikitnnya
aktivitas mereka kang Lucy baru-baru punya istri dan sebentar lagi jadi bapak,
pemetot bas kini jadi petugas LLAJ kota Banjar, yang masih tetap setia dalam
jalur music tiga orang sisannya kecuali saya. Kang Galih malah punya distro
yang mengusung genre musiknnya sekarang. Ari sibuk ngurusin studio musik, kalo Hendrik
terakhir ketemu sedang lanjut kuliah dan punya grup band metal sendiri. Betapa asiknnya
masa lalu. Sebentar sekarang giliran saya, mama!! saya jadi guru aja ya, biar
bisa ngeliat anak-anak SMA ngeband.
W.Hermawan

Posting Komentar untuk "Nostalgia Masa SMA Black ROck"