GUNUNG MURAHAN
Kekasih
semesta
Sayang,
Padamu
aku ingin berbaring
Mencium
tanah harum, saat terguyur hujan
Bercengkrama
dengan embun pagi
Sayang,
Biarkan
aku menyelami diri
Dari
setiap hitungan jengkal kaki
PadaMU
aku berdoa untuk engkau
Teruslah
gagah menopang semesta
Malaysia
2017
GUNUNG
MURAHAN
Gunung sejatinnya
merupakan tempat flora dan fauna hidup tenang, dimana setiap ekosistem terjaga
dengan baik. Judul yang saya buat mungkin terlalu menohok sebagian orang
terutama para pendaki atau pencinta alam, bagi orang awam seperti saya kegiatan
mendaki bukan hanya kegiatan fisik namun juga kegiatan emosional dan penyelaman
jati diri. Bayangkan kita jika disebutkan kata gunung adalah ketinggian dan hutan
yang lebat, serta habitat lain yang ingin kita ketahui di alam bebas, namun
beberapa hal tadi sudah sedikit di temukan. Sebagian gunung telah berubah
menjadi kerumunan manusia, jadi yang kita lihat bukan lagi pohon yang langka
atau suara burung-burung yang merdu melainkan pantat-pantat manusia yang ada
dihadapan muka.
Setiap gunung pastinnya memiliki keindahan tersendiri
memancarkan karismannya, seperti halnnya manusia yang memiliki nilai harga
diri. Begitupun gunung bagi saya gunung tidak hanya bernyawa tapi juga bersolek
oleh setiap keindahan yang ia miliki. Manusia akan memberikan nama kepada orang
yang ia kenali baik secara harfiah, maupun nilai secara bentuk, baik kata-kata
kasar maupun pujian. Bagi saya gunungpun seperti itu jika gunung bisa berbicara
betapa banggannya sebagian gunung yang tetap indah karena ia mampu merawat
dirinnya. Penamaan itu tidak hadir begitu saja faktor lingkunganpun sama akan
membentuk setiap karakter mahluk hidup.
Nama akan memiliki keindahan tetapi, lingkungan akan
menggiring nama itu baik ataupun buruk. Kembali lagi pada gunung, saya melihat
setiap gunung memiliki karismannya tersendiri tetapi ada juga yang luntur oleh
lingkungan sekitar yang didalamnnya ada manusia-manusia katannya berakal?. Gunung-gunung ini menjadi murahan, kata murahan tadi jika diulang terus menerus
mungkin semakin pedas ditelinga, sebenarnnya kata ini terlintas dalam pikiran
tiba-tiba saat mendengar beberapa pendaki mengobrol. Waktu itu disela
perbincangan ada yang mengeluh kerena karena biaya masuk pendakian di GUNUNG
CIREMAI cukup mahal, nominalnnya Rp 50.000 perkepala, dalam hati saya sedikit
marah mungkin sebagian orang akan mengaggap nominal uang tadi cukup mahal, tapi
apakah itu sebanding dengan rusaknnya alam kotornnya gunung-gunung untuk
mengembalikan kecantikan gunung yang kita daki mungkin butuh waktu dan nominal
uang yang banyak, jadi saya rasa pendakian mahal itu sudah semestinya agar
wibawa gunung tersebut kembali.
Keindahan gunung akan hilang oleh keegoisan manusia,
bayangkan saja beberapa gunung di pulau jawa untuk tiket masuknnya cukup murah,
sehingga apa yang terjadi kegiatan pendakian gunung sudah tidak lagi seperti
pendakian lebih seperti tempat wisata biasa. Kita harus ingat jika gunung bukan
hanya tempat wisata biasa di sana banyak mahluk hidup lainnya yang sama-sama
juga harus kita hargai.
Semenjak tahun 2010 antusias orang-orang untuk naik
gunung cukup banyak, banyak faktor hingga itu semua terjadi tetapi, salah satu
peran yang sangat besar membeludaknnya pendakian adalah tontonan. Semenjak beberapa
film mengenai pendakian diputar dilayar kaca, penonton akan merasa dirinnya
sebagai tokoh tersebut atau menjiwai tokoh tersebut sebut saja 2 film besar Gie
dan 5 cm, banyak yang ingin tiba-tiba menjadi tokoh dalam film tersebut atau
hanya sekedar ingin membuktikan bahwa mendaki itu menemukan kembali jati diri,
pada bagian ini mungkin benar tapi kita tidak boleh lupa gunung bukan hanya symbol
kelestarian tapi juga bukti peradaban yang cerdas. Jika gunung-gunung di
Indonesia bersih dan rapih saya rasa manusianya juga mengikuti karena seperti
saya katakana tadi gunung akan indah terkait lingkungannya.
Saya tidak menyalahkan siapa-siapa namun kesadaran
menganai betapa pentingnnya kelestarian alam belum banyak dimiliki pendaki
gunung dadakan. Satu lagi bukti kalau pendakian sedang di gandrungi oleh kaula
muda ialah alat-alat gunung yang berserakan dari mulai merk local hingga Internasional. Ini semua saya tulis atas dasar
pengalaman pribadi, coba saja kamu cerita pada orang yang belumpernah mendaki
tanyakan apa yang ia bayangkan ketika ingin mendaki, pasti dalam benaknnya akan
terlintas hutan yang segar, keindahan alam tapi apa yang ia dapatkan dari
beberpa gunung terutama di pulau jawa, tumpukan sampah dan antrian menuju
puncak.
Kembalikan keindahan gunung dengan cara membatasi pendaki,
kita tidak bisa memaksakan sebanyak itu orang mendaki karena hari libur yang
bersamaan, gunung tidak mengenal hari libur. Intinnya gunung harus tetap hijau,
hening dan bening. Banyak manusia yang mengandalkan gunung tidak hanya milik
pendaki tapi juga ada pak tani, pak mentri, santri dan jenis profesi lainnya.
Sekecil apapun itu sampah tetap sampah jangan dianggap
sepele, ucap seorang kawan. Benar ada berapa orang lupa dan menyepelkan itu
semua. Gagahlah selalu gunung Indonesia, masuklah kedalamnya dengan cerdas,
bukan demi paras di kamera tapi malas membawa pulang sampah.
W.Hermawan

Posting Komentar untuk "GUNUNG MURAHAN"