LEUSER GAYO LUES
LEUSER 2013
Pendakian gunung yang sangat membekas sampai saat ini, di
awali dengan mengumpulkan TIM dari teman-teman sejawat, yang saat itu mengajar
di Aceh Timur. Ide ini tercetus dari beberapa orang saja awalnnya hal itu terasa
tidak mungkin, pasalnnya semua informasi yang kami dapat dari internet sangat
minim. Ketika ide mendaki ini di bicarakan pada teman-teman tim yang mendaftar
ada 8 orang, namun dua orang mundur karena dapat peringatan dari orang tua
mereka, ah tapi itu semua tidak mematahkan semangat sisannya.
Tapi sebelumnnya teman-teman jangan berpikir kalau kami
ke Aceh memang mau mendaki. Kami ke sini mau mengajar di tugaskan oleh
kementrian sebagai pendidik daerah 3T, ini tidak kami rencanakan sebelumnnya.
Libur sekolah datang sebagian dari teman-teman memilih untuk pulang kampung,
namun sebagian lagi memilih tetap ditempat tugas agar merasakan benar-benar
satu tahun di penempatan. Jadi kesimpulannya peralatan mendaki kami nol,
semuannya kami pinjam tapi tetap jalan.
Akhirnnya terkumpul anggota pendakian yang diketuai oleh
kang Jeje, oke saya sebutkan manusia-manusiannya,
3. Kang A.Purnama, ini juga sama seperti mereka berdua, namun pengalaman mengenai mendaki telah ia mulai semenjak SMA di organisasi Pecinta Alam. https://www.facebook.com/a.p.sutisna
4. Neng Neuis, duh yang ini mah neneng super heboh dalam segala hal, dia juga anggota Mapala di kampusnnya dulu.
5. Neng Ira ini adalah pendakian pertamannya, kebayang dong pendakian pertama pasti semuannya harus benar-benar safety, juga menjadi perempuan yang harus kami jaga selama perjalanan.
6. Ini saya,…………….begitu pokonnya. Maaf saya bukan anggota MAPALA seperti yang lainnya. Tapi ini juga bukan pendakian pertama saya. Jika teman-teman ingin berbagi pengalaman dan menambah teman boleh klik link facebook di atas, yang perempuan tidak saya sertakan mereka sudah punya suami jadi mesti ijin suaminnya J.
1. Kang Jeje, bertugas sebagai Koordinator
dan Leader, pengalamannya di kegiatan adventure tidak diragukan lagi,
sebelumnnya ia juga sering menjadi pemandu wisata jadi siasat mencairkan
suasana tentunnya telah ia kantungi bahkan bersertifikat. https://www.facebook.com/jeje.bae.52
2. Kang Tria, satu fakultas dengan kang
Jeje juga se-organisasi Pencinta Alam, membuat kang Tria sarat akan Pengalaman
terutama hal Survival. https://www.facebook.com/tria.yudhistira3. Kang A.Purnama, ini juga sama seperti mereka berdua, namun pengalaman mengenai mendaki telah ia mulai semenjak SMA di organisasi Pecinta Alam. https://www.facebook.com/a.p.sutisna
4. Neng Neuis, duh yang ini mah neneng super heboh dalam segala hal, dia juga anggota Mapala di kampusnnya dulu.
5. Neng Ira ini adalah pendakian pertamannya, kebayang dong pendakian pertama pasti semuannya harus benar-benar safety, juga menjadi perempuan yang harus kami jaga selama perjalanan.
6. Ini saya,…………….begitu pokonnya. Maaf saya bukan anggota MAPALA seperti yang lainnya. Tapi ini juga bukan pendakian pertama saya. Jika teman-teman ingin berbagi pengalaman dan menambah teman boleh klik link facebook di atas, yang perempuan tidak saya sertakan mereka sudah punya suami jadi mesti ijin suaminnya J.
Perjalanan kami mulai, dari Aceh Timur saya
dan kang Tria berangkat lebih awal, kami ditugaskanpencari logistic, mencari
logistic ya…!!bukan membeli logistic jadi harus sedikit dibedakan. Mengandalkan
pertemanan Tria dengan Kemapalaan-nya kami tiba di rumah ANI…ANI..(jangan dibaca dengan gaya bung ROMA), Medan. Dari sana
kami diantar bertemu dengan MAPALA kampus UNIMED semuannya kami mulai di sini peralatan
yang sebelumnnya telah dicatat coba kami tanyakan satu persatu. Proses ini
cukup panjang dan berbelit maklum peralatan mendaki bukan alat murah waktu yang
kami butuhkan kurang lebih dua hari itupun mesti mutar-mutar kampus lain untuk
memenuhi kekurangannya.
| Dari Kiri : Bang Topan,Saya, Jeje, Tria, Ira, Neuis, Mr Jali |
Saya masih ingat waktu itu Medan sedang bergejolak,
mahasiswa sedang turun ke jalan menuntut pemerintah karena menaikan BBM, sampai-sampai kami sempat di ajak juga demo mungkin itu terakhir kali saya melihat
demo di depan mata dan ikut barisan.
Beberapa peralatan sudah terkumpul, seperti tenda,
matras, kompor dan tas, ada yang cukup mengejutkan ketika kami di sini
kawan-kawan MAPALA UNIMED sempat bertannya dalam rangka apa mendaki gunung Leuser?
Kami jawab sekenanya saja rekreasi jawab kami, sontak mereka kaget, mereka saja
belum pernah mendaki gunung tersebut karena memang pendakian Leuser pendakian
yang cukup panjang dibutuhkan persiapan matang terlebih mahalnnya guide, dan
masuk Ke Kawasan TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser), jadi kantongpun harus
siap. Pada waktu itu MAPALA UNIMED sedang mempersiapkan pendakian ke Gunung Leuser,
persiapan yang mereka lakukan sudah 3 bulan berjalan, tapi dirasa belum cukup
seingat saya mereka akan melakukan pendakian di bulan oktober 2013.
Perjalanan menuju Kedah Gayo Lues menggunakan mobil sewa,
kurang lebih kami tempuh dengan waktu 5-7 jam. Setalah sampai di Kedah kami
langsung menuju ke rumah Mr Jali, ini rumah singgah kami Mr Jali ini adalah
guide senior sudah banyak turis yang
ia antar sampai ke puncak dengan bayaran menggiurkan.
| Mr Jali dan Kang Jeje Sedang berdiskusi |
![]() |
| Mana Hutannya |
Kami
tidak langsung mendaki, selain harus mengurus surat-surat kami pun melengkapi
perbekalan makanan yang kurang. Semua makanan kami bagi dalam pack-pack kantung plastic, setiap
kantung bobotnnya sekitar 3kg ada 10 kantung jadi ada yang bawa 2 kantung
makanan, siapa lagi kalo bukan mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Setiap
kantung telah diperhitungkan takaran kekenyangannya, di dalam kantung plastik
biasannya sudah ada beras dan makanan kaleng, kata Mr Jali mendaki gunung Leuser tidak bisa mengandalkan MIE REBUS saja!! Kalau mau selamat sehat sampai turun,
untuk memenuhi kebutuhan maka beras adalah solusi dan beras pasti berat.
Aklimatisasi cuaca kami lakukan selama dua hari, dari Medan yang panas dua hari itu kami merasakan dinginnya Gayo luwes. Pendakian kami ditamani seorang guide bang Topan, sebenarnya ia sudah tidak mau lagi mengantar pendaki tapi karena desakan ekonomi waktu itu memang mau memasuki bulan puasa dan tentunnya bagaimana menghadapi lebaran nantinnya.
Aklimatisasi cuaca kami lakukan selama dua hari, dari Medan yang panas dua hari itu kami merasakan dinginnya Gayo luwes. Pendakian kami ditamani seorang guide bang Topan, sebenarnya ia sudah tidak mau lagi mengantar pendaki tapi karena desakan ekonomi waktu itu memang mau memasuki bulan puasa dan tentunnya bagaimana menghadapi lebaran nantinnya.
Pengalaman bang Topan membuat kami banyak belajar tentang kesederhanaan, sosoknnya yang kuat dan tidak pernah mengluh tergurat dari wajahnnya. Salah satu dari kami pernah bertannya kenapa ingin berhenti jadi guide?, ia menjawab pendakian Leuser ini cukup menguras tenaga bukan hanya fisik tapi juga mempertaruhkan nyawa, saya punya anak dan istri, tapi itu kami tanyakan saat pendakian bukan sebelum pendakian. Mr Jali pernah bercerita jika kami adalah salah satu pendaki yang membayar guide murah, waktu itu kami cukup beruntung selain lobi-lobi yang sangat padat dan berbobot waktu itu juga bertepatan dengan masuknnya bulan puasa, saya tidak akan menuliskan nominal karena sudah Janji.
![]() |
| Puncak Angkasan |
Lanjut pendakian pertama menuju puncak Angkasa, ini adalah pendakian terberat berat sekali, mana hutan mana hutannya otaku terus begitu. Sebelum memasuki hutan kami melintasi perkebunan warga bahkan tas perempuan sempat di bawkan oleh para pejalan kaki yang mau ke hutan beruntungnnya mereka. Pada pendakian ini saya bertugas menjadi tim kesehatan pastinnya harus berjalan terakhir jika ada yang sakit, dan ya…!! Tria meriang, sebelumnnya memang dia sedang sakit batuk dan minum obat batuk biar cepet sembuh katannya. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, dari pohon satu ke satunnya cukup dekat, hal ini mengakibatkan 1 menit saja kita berhenti, kawan di depan sudah tidak akan terkejar. Tria meminta istirahat ya….mau tidak mau !! saya harus menemaninnya. Cuaca waktu itu dingin sekali wajah Tria sudah pucat tapi jam belum menunjukan waktu Istirahat jadi logistic belum bisa di buka, saya harus tetap dalam prosedur, namun prosedur itu harus saya langgar tidak tega liat Tria yang sudah loyo mungkin efek obat batuk. Saya keluarkan biskuit dan membuat sereal supaya tria tidak kedinginan. Fleseet saya keluarkan dari tas kemudian saya selimutkan ke tubuh Tria dia minta setengah jam untuk istirahat, sambil menunggui Tria yang sedang tergolek lemas saya memunguti ranging-ranting kecil untuk membuat api, agar hangat karena kalau diam berarti kita memasrahkan diri untuk dirasuki angin. Dalam otak saya Tria harus tetap hangat.
![]() |
| Ayo Neng Cepet |
Di sini jarang ranting yang kering semuannya harus saya
kerik satu-satu, api mulai menyala lembut sekali. Saya masih melihati Tria dengan tenang tidur sambil kembali mengemasi barang-barang. Membuka tas dan
mengeluarkan barang itu berarti kita harus mulai dari nol untuk menyusunnya
karena salah susun bakal menjadikan beban di punggung terasa berat. Kabut mulai
merambat naik sudah makin gelap, saya membangunkan Tria, sampai saya bilang "Ya
apa kita harus meniup pluit?" Tapi Tria meyakinkan "jangan saya masih kuat." Saya
masih ingat langkah yang kami buat hanya bisa 10 langkah selanjutnnya berhenti
begitu seterusnnya sambil memanggil teman-teman dan mencari jejak di sini tidak
ada jalan yang pasti semuannya sama.
Hari pertama berjalan lancar namun kami belum sampai
puncak angkasan, bang Topan sempat pesimis kalau kita akan sampai puncak Leuser
tepat waktu karena sangat lambat, punggungan demi punggungan, kang Jeje hitung
dengan cara mengantungi daun kering, tapi akhirnnya ia bosan sendiri terlampau
banyak naik turunnya. Saya baru tahu ternyata di hari pertama 3 orang dari kami
dalam hatinnya minta pulang, itu saya ketahui setelah turun mereka cerita, sebenarnnya hari pertama saya ingin turun cape
takut begitu kurang lebih tapi yup
lihat nanti.
![]() |
| Sore Dipersimpangan |
Awal-awal perjalanan saya ditujuk sebagai tim tengah
bersama kang Apur dan Jeje dengan pesonanya harus terus meyakinkan bahwa
pendakian ini asik. Sempat sekali tugas itu diserahkan pada Tria dan yang
terjadi kacau perempuan itu minta balik hehe.
Tapi alhasil saya sering jalan sendiri karena ngejar yang depan gak kekejar
nunggu yang belakang kelamaan diam berarti dingin, dingin berarti rokok, rokok
berarti nafas, nafas berarti, kesehatan begitu selanjutnnya kalau berhenti
belum lagi incaran hewan-hewan.
Kami bertemu kawan-kawan lain hanya itu satu tim mereka
ber empat + guide jadi lima perawakan mereka yang tinggi besar membuat kami ciut
apa bakal sampai puncak. Hanya sempat bercanda gurau beberapa menit saja
kemudian mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk turun.
| Tiga orang berjaket dari kanan tim lain yang kami temui |
Andai saya bisa menularkan rasa dingin itu pada setiap
pembaca pasti ingin ke sana. Jalan menuju puncak tidak selalu tegak, terkadang
merayap tersangkut rotan terpeleset, bahkan kesasar. Kaki, tangan, dan pantat
saya gunakan bergantian untuk jalan pundak sudah tidak lagi merasa berat
lebih-lebih mati rasa mungkin. Hal yang menyenangkan di pendakian ini saat kita
berada di jalan-jalan dan hal menyebalkan adalah memasukan semua barang ke dalam
tas di pagi hari. Celana saya sampai robek tersangkut akar sepatu habis
gripnnya tidak tersisa, jari tangan sudah saya plesteri semua.
Ini hari ke 5 kami harus segera sampai puncak kalau tidak
berarti kami harus membagi makanan untuk besok. Jam sudah sore kami terus
merangsek mendekati puncak tapi apa daya tiba-tiba gerimis kami segera
memutuskan berhenti dan mebuka tenda. Ini adalah tugas saya dan Tria selama
pendakian. Tenda telah berdiri. Sambil menunggu yang lain saya segera mengganti
pakaian basah dan masuk ke dalam tenda. Ternyata gerimis berganti hujan lebat,
banjir..banjir kata Tria tenda kami kebasahan tapi tidak ada satupun mau keluar
dan memindahkan tenda karena ini dingin sekali. Lama kelamaan semakin basah
tria menempatkan tenda di jalan air. Dari pada kami mati tidak bisa tidur
terpaksa keluar memindahkan tenda, dan itu pengalaman terhebat yang pernah di
buat. Hah…akhirnnya berlalu juga. Puncak…..yup pagi sekali kami muncak, tapi tidak
pagi betul, dingin soalnnya, kurang lebih jam 07.00 waktu setempat lah. Tidak
banyak barang yang kami bawa hanya sebatas air buat ngopi dan kamera.
![]() |
| Yes Puncak |
PERJALANAN
PULANG
Puncak Leuser ada
signal loh!!, jadi kami bisa mengabarkan kami berhasil. Ternyata di bawah ada
gempa yang cukup hebat semua yang mendengar kabar kami menangis, karena tidak
mengetahui kabar kami berberapa hari, ya
ia lah….hutan mana ada signal sinyal itu bonus yang ada di puncak. Setalah
semua ritual kami lakukan seperti menyanyi dan berdoa untuk Almarhum Winda
Geuget, kami langsung menuju tenda. Masih ada puncak lainnya di TNGL tapi waktu
itu ada tawon tanah yang cukup berbahaya jadi kami langsung putar balik.
![]() |
| Hal Paling Malas Memulai Berangkat |
Perjalanan pulang tak ada bedannya dengan berangkat sama
seperti itu karena perbekalan masih tetap di bawa hanya beberapa yang kami tanam
supaya tidak terlampau berat. Berat dipunggung masih sama pokonnya badan udah
gak karuan hanya semangat yang tertinggal andai semangat itu hilang mungkin
hilang juga kami.
Gunung leuser telah membuat saya Begitu menikmati hidup,
berjalan di tengah-tengah Rimba tanpa orang lain selain Tim, semuannya
perjalanan. Waktu terus kami salami bersama dalamnnya diri sendiri. Naik turun
bukit yang sama konsentrasi beberapa dari kami mulai buyar karena telah hilang
tujuan, jika berangkat ada puncak pulang terlampau banyak tujuan. Akhirnnya
kita sepakat kalau kelaurga kita adalah tujuan kita harus kembalai dengan
selamat. Diperjalanan pulang kami sempat
kehilangan Ira untung keburu di ketahui oleh Neuis, Ira mengikuti jalur hewan.
Semenit saja kita tertunduk berarti teman kita sudah tidak terlihat.
Awalnnya pendakian berjalan biasa karena tubuh saya waktu
itu meminta istirahat saya memutuskan untuk jalan terakhir di temani Apur dan
Neuis Ira mengikuti Jeje di jalur tengah entah kenapa Jejepun tidak sadar kalau
Ira sudah tidak ada dibelakangnnya. Neuis mulai sadar ketika Jeje berada di
puncak punggungan dan meneriaki Jeje mananyakan Ira dari situ Jeje baru tahu
kalau Ira sudah tidak ada. Apur langsung melepas tasnnya dan berlari ketempat
awal tadi sambil terus di pandu oleh Tria yang ada di punggungan lain.
Alhamdulilah Ira ketemu, saat di tanyakan kepada Ira ko bisa? Ia hanya menjawab
saat itu ia berhenti membenarkan tali sepatu tanpa memberi tahu Jeje saat
berdiri Jeje Sudah Tidak ada. Dari situlah Ira mulai mengikuti Instingnnya.
Kerapatan vegetasi membuat setiap orang akan sulit mengingat jalan kembali.
![]() |
| Jalan Pulang Masih Panjang Kawan |
Sampai juga kami di tanah keras, perpindahan pijakan ini
membuat sakit sekali kaki kami berhari-hari dengan tanah gembur kini tanah
keras bercampur batu. Kami semua berjalan seperti robot, lutut kami benar-benar
sakit setelah sepuluh hari dipaksa berjalan terus semuannya terasa sakit.
Padahal berjalanan kurang dari 1 jam jika lutut kami sehat tapi ini bisa
berjam-jam menuju rumah Mr Jali. Sakit seruis kami semua menahan rasa sakit
lutut sudah begitu lelah menopang beban yang tidak pernah berkurang hingga
turun.
Sampai dirumah Mr Jali, besoknnya kami disambut bak
Raja dan ratu, bebek dan ikan menyambut kami. Ini perayaan kami selamat sampai
pulang tanpa kurang satu personilpun, semua itu gratis dari bang Jali. Semuannya
kesakitan, sampai untuk berdiri saja kami harus saling menopang. Saya
memulihkan tubuh kurang lebih satu bulan berhenti dari aktivitas berat,
untungnnya sepulang dari sana bulan puasa jadi bisa banyak istirahat.
Selamat jalan puncak Leuser, aku rindu hutan mu, maaf
jika kami melakukan banyak salah. Hutanmu harus tetap lestari hingga anak cucu
kami masih bisa menikmatinnya.
W.Hermawan
Gayo Lues 2013







Posting Komentar untuk "LEUSER GAYO LUES"