CLC TERUSAN 2 Akhirnnya Kita Naik Panggung

CLC TERUSAN 2




Akhirnnya Kita Naik Panggung
            APKRES (Apresiasi dan Kreasi Akademi, Olahraga, dan Seni), adalah lomba yang diadakan setiap tahun untuk anak-anak SMPT di wilayah SABAH-Malaysia oleh SIKK (Sekolah Indonesia Kota Kinabalu) sebagai sekolah induk. Lomba ini telah memiliki gengsinnya sendiri bagi anak-anak ladang yang sekolah di tingkat SMPT, bukan hanya para peserta didik, sebagian pendidik ingin menunjukan eksistensi mereka dengan menunjukan bahwa murid mereka mampu bersaing.
akhirnnya bertemu jua dengan jodohnya
            “Juara tigapun tidak apa,” itu kata-kata semangat yang saya buat unutk anak-anak. Nampaknnya terlalu muluk jika harus juara satu walaupun tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini namun itu semua butuh usaha yang panjang. Saat saya menyemangati dengan kata-kata tadi setidaknnya saya telah memperhitungkan musuh-musuh saya. Sudah hampir tiga tahun CLC Terusan 2 tidak membawa piala dalam ajang ini.
Dari bulan lima, saya terus curahkan untuk acara ini, memilih siswa yang berbakat sesuai bidang yang ia mampu, namun apa daya, saya hanya satu, tidak dapat menangani semua akhirnnya sebagian dari mereka berinisiatif untuk latihan sendiri. Sampai-sampai saya menghadirkan guru dari ladang orang lain untuk membantu saya melatih anak bernyanyi terima kasih untuk Pak Bintang, hem kalau saya yang melatih menyanyi sepertinnya akan kacau balau. Seperti tadi saya katakana target piala juara terlalu berlebihan, bagi saya mereka dapat menyelesaikan lomba, atau dalam kata lain tidak mangkrek di tengah-tengah itu sangat membuat saya senang.
Setiap tahun kami ikut kegiatan ini, semenjak saya menjadi guru di sini ini adalah tahun kedua, tahun pertama memberikan saya banyak tamparan dan catatan, kacau semuannya kacau!! hampir setiap  cabang lomba tidak selesai, sampai lomba pada cabang menyanyi tidak jadi tampil tentunnya saya harus siap menjadi olok-olokan kawan saya yang lain, sebenarnnya bukan olok-olokan tapi tepatnnya sindiran pedas level 10. Ya,,tahun lalu kurangnnya persiapan menjadikan hasil yang benar-benar amburadul. Tahun 2017 harus lebih baik walaupun saya hanya sendiri.
“anak-anak coba tatap baik-baik piala kita itu, resapi dan renungkan ada yang salah atau tidak?” saya lagi-lagi mencoba memecut semangat mereka.
“apa pak, tidak ada yang aneh?” saya melihat rona bingung pada wajah mereka mungkin dalam benak mereka ada pertanyaan, apa maksud semua ini ayo cepat jawab!!.
Setelah semua saling menatap dan bertannya bahkan ada yang sampai membulak-balikan piala mungkin dipikirnnya piala itu rusak,
“anak-anak setiap mahluk hidup pasti berpasang-pasangan anggap piala itu mahluk hidup, bayangkan oleh kalian betapa menderitannya ia, bertahun tahun Jomlo ia pasti ingin merasakan kehangatan dari piala lain untuk dapat menemaninya!!” sontak mereka semua tertawa, dari tawa mereka aku melihat semangat, semangat yang ku pupuk dalam diri sendiri.
Semuannya telah kami persiapkan siap-siap untuk berangkat, walaupun alakadarnya dengan keadaan uang sekolah yang kosong. 
Percobaan pertama batik ramah lingkungan
Tahun ini sekolah kami tidak mengikuti lomba memasak sebagai gantinnya dengan membatik, tapi kalau hanya batik sepertinnya biasa?, saya coba memutar otak apa yang bisa menjadikan batik sederhana ini spesial dimata juri?. Akhirnnya terpilihlah ide ramah lingkungan pewarna yang kami gunakan adalah kunyit dan teh, awalnnya sempat pesimis karena semua percobaan yang telah dilakukan hasilnnya kurang maksimal namun hanya ini satu-satunnya peluang agar sekolah kami dapat piala, saya terus menyemangati diri.
Hari yang kami tunggu dimulai setiap perlombaan kami ikuti hingga selesai,
“pak penyisihan cerdas cermat telah keluar hasilnnya,”
“sekolah kita urutan keberapa?” tanyaku penasaran, tara….yes lima terbawah dari total 43 sekolah yang mengikuti kami ada diurutan 5 terbawah, setidaknnya kami tidak jadi juru kunci setelah dua tahun berturut-turut pada urutan paling bawah. Tanpa disadari air mata saya meleleh mendengar riang suara anak-anak.
Saatnnya lomba keterampila satu-satunnya cabang lomba yang tersisa, anak-anak mempersiapkan semuannya sangat alakadarnnya, anak-anak terus bertannya pak apa kita akan menang, sepertinnya semangat mereka mulai kendur ketika melihat persiapan kiri, kanan dan depan besar-besar sampai-sampai stand di depan kami seperti butik professional, sebelah kiri tukang kain Jogjakarta yang kainnya benar-benar bagus, sebelah kanan ada tukang sablon baju yang bajunnya sudah mampu terjual lah kami? Jangankan anak-anak saya sendiri sudah keok sebelum tanding, sambil menenangkan diri tidak apa pulang tidak bawa piala.
Rumput tetangga selalu Menarik
“anak-anak jangan sedih kalau kita tidak bawa piala yang penting kalian berusaha semaksimal mungkin,”
“Baik pak, kami akan berusaha,”
“tenang saja, yang juri lihat hasilnnya walaupun stand mereka besar-besar itu tidak dinilai,” dengan wajah yang kubuat selucu mungkin agar mereka tertawa.
Jawaban dari saya tetap saja tidak dapat merubah kenyataan jika sebelah kami itu lebih bagus, stand yang kami buat seperti tidak ada, terhimpit oleh megahnnya milik mereka. Juara sudah saya kubur dalam-dalam, melihat anak -anak sudah teramat sedih, saya memutuskan untuk menikmati kopi di kantin sekolah, sambil melepaskan semuan harapan. Saya ditemani beberapa teman bahkan ada pesaing berat dari ketegori membatik yang juga tidak lagi berharap juara karena begitu megahnnya display para pesaing lain.
Tiba waktunnya pengumuman juara, satu persatu juara dari semua kategori naik, saya sengaja tidak duduk dikursi penonton, tepatnnya tidak tega melihat semangat anak-anak yang mulai kendur.
“mang itu terusan 2 dipanggil juara tiga!!” ujar temanku tapi saking ramainnya tempat tadi saya tidak mendengar sedikitpun suaran sekolah saya dipanggil, tangan saya ditarik olehnnya 
"ayo cepat kita foto!" karena kebetulan sekolahnnya jadi juara 2 dalam kategori batik.
“mana?ko gak ada anak saya di atas panggung?” tanyaku,
“tadi ada serius coba tanya pada panitia,” tidak lama anak murid saya hadir dari kerumunan kursi penonton,
“pak, katannya kita juara?” dengan wajah polosnnya ia sendiri tidak percaya kalau sekolah kita juara sama seperti saya.
Akhirnnya naik panggung
Saya coba tanyakan pada dewan juri dan ternyata tara….ya itu murid saya naik ke atas, dengan linangan air mata saya melepasnnya naik panggung serius tidak percaya, saya masih di bumikan?.
Sepucuk piagam penghargaan ia bawa turun, alhamdulilah tahun ini kita naik panggung nak, ia disambut teman yang lainnya semua memeluknnya, diantara yang lain mungkin kami cukup heboh, walaupun bukan juara umum kita tetap bagian dari juara.
“anak-anak ayo sini kumpul?” ucapku pada yang lain
Sempat tidak percaya Juara
“dengarkan ya, itu, kamu yang ikut lomba story telling dan pidato kalian katannya peringkat ke empat sedikit lagi, tahun depan berusaha lebih keras” entah apa yang saya pikirkan saya berbohong mengenai itu hanya untuk memecut semangat mereka dan membangkitkan yin..yang dalam tubuh mereka ya elah lebay amat.
“saya, pak,?”ujar peserta menyanyi
“kamu, tadi saya ihat posisi ke 6” padahal sama sekali saya tidak tahu posisi keberapa mereka dalam urutan sebenarnnya tapi angka-angka tadi pasti akan diingat oleh mereka untuk tahun depan lebih baik.
Perhelatan lomba tadi menyisakan kenangan yang begitu dahsat dalam hidup saya, tidak tahu pada anak-anak. Tahun besok sudah bukan lagi saya pembimbing mereka semoga lebih baik, dan piala kita dapat beranak pinak banyaknnya. CLC TERUSAN 2 JAYA…JAYA…JUARA.

W.Hermawan

Terusan 2 JAYA....JAYA....JUARA




Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

3 komentar untuk "CLC TERUSAN 2 Akhirnnya Kita Naik Panggung"