Nostalgia masa kuliah

Chairil Anwar: DO,A
Kepada pemaluk teguh
Tuhanku
Dalam termanggu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
Mengingatkau penuh seluruh
Cahayamu penuh suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku mengembara dinegri asing
Tuhanku
di pintumu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Sajak merupakan keseluruhan yang bulat yang berdiri sendiri, otonom dan boleh kita pahami juga tafsirkan pada sendirinya. Di atas tadi adalah sajak charil anwar Doa yang di ciptakan pada tahun 1943 sebagai kita ketahui chairil anwar salah satu pelopor angkatan 45, berbekal dengan bahasa-bahasa asing yang ia kuasai secara otodidak ia mampu memahami karya-karya punjangga besar dunia, sosoknya yang patriotik, reliji serta sikap masa bodohnya dapat kita temui dari syair-syair yang ia ciptakan. Pada kesempatan ini saya akan sedikit mengupas jiwa religi seorang Chairil Anwar dalam puisi yang berjudul DOA.
Dalam proses pembedahan puisi kita dapat mengawalainya dalam berbagai hal sebab kalau benarlah sebuah puisi merupakan kebulatan dan kepaduan di mana segala unsur berkaitan satu dengan yang lainya dengan setiap aspek yang menyumbangkan keseluruhan makna maka tak seberapa penting apakah pembedahan itu di mulai dari aspek struktur kata, tata bahasa atau aspek apapun.
Dalam kesempatan ini saya akan memulai dari segi kesejarhan pada tahun chairil anwar membuat puisi tersebut, sehingga kita dapat merasakan mengapa ia dapat membuat puisi sereliji itu, tahun 1943 merupakan tahun yang begitu kelam bagi bangsa Indonesia karena Jepang yang dulunya mengaku sebagai sahabat dari Asia pada tahun-tahun itu mulai melihatkan penindasan pada rakyat indonesia sepeti romusa, jugun ianfu dan hal lain yang begitu memilukan. Mungkin dari banyaknya kejadian pahit yang di alami oleh bangsa indonesia sehingga Chairil ingin memanjatkan doa agar terlepas dari penindasan yang dilakukan oleh orang-orang penjajah. Kata kunci pertama yang akan saya bahas kita mulai dari judul yaitu Do’a, Doa pada dasarnya merupakan permohonan seseorang untuk memohon dan mengaharapkan sebuah perubahan baik itu pada dirinya juga pada linggkungan sekitarnya.
Kemudidan kata Tuhanku yang di ulang sampai tiga kali dengan konotasi nada yang berbeda dalam pembacaannya, itu menandakan sifat dan kedudukan manusia yang berbeda tuhan ku terdiri dari dua kata Tuhan-aku dan kata tersebut menunjukan kesinambungan satu dengan yang lainnya tidak dapat difisahkan antara tuhan dan manusia yang di simbolan aku. Aku merupakan kata tunggal begitu juga tuhan yang menggambarkan ketunggalanya dan hubungan antara tuhan dan manusia itu berbeda-beda setiap manusia walau tuhan mereka sama. Kata tersebut merupakan satu bentuk kerseriusan seorang chairil anwar dalam menyebut tuhan dan berdoa untuk tuhan.
Kamudian kata biar susah sungguh, biar susah juga menunjukan keberadaan tuhan yang lebih tinggi dari kedudukan manusia itu sendiri atau menunjukan keaddan pada waktu itu yang begtiu sulitnya orang-orang yang terjajah untuk melakukan peribadahan juga memanjatkan doa untuk tuhanya. Kata-kata tersebut merupakan kata-kata persimbolan terhadap tuhan dan manusia untuk lebih mudah pula kita membahas melalui sinonim satu per satu kata tersebut susah-tidak mudah, sungguh-benar-benar biar-mempersilahkan tidak mudah seorang manusia benar-benar mempersilahkan jiwa dan raganya untuk pencipta.  
mengingat mu penuh seluruh itu berarti betapa tidak mudahnya manusia berjalan diljalan tuhanya dengan berbagai cobaan dan keihlasan yang selalu hilang seolah-olah mereka tidak punya tuhan juga melupakan nikmat yang dikaruniai oleh Tuhanya. Aku Mengembara Di Negri Asing mengapa seorang Chairil dapat mengatakan hal seperti itu padahal ketika menciptakan puisi ini ia ada di indonesia? Mungkin negri asing yang di sebut oleh chairil adalah muka bumi karena manusia merupakan mahluk tuhan yang di turunkan kemuka bumi dan tempat manusia sesungguhnya adalah surga seperti yang kita ketahui ketika nenek moyang manusia yaitu Nabi Adam yang pertama kali di turunkan kemuka bumi dari tempat asalnya yaitu surga.
 Di akhir bait puisi ini ada kata Di Pintumu Aku Mengetuk Aku Tidak Bisa Berpaling metofora yang di buat oleh Chairil menjelaskan kematian manusia, atau hari akhrir dari seorang manusia dengan segala perbuatannya yang sudah tidak bisa diperbaiki setelah menghadap pada tuhannya serta berpasrah diri dengan apa yang akan tuhan lakukan. Dalam hal ini seorang penyair berhak menggaunakan kata-kata baru ataupun metafor-metafor untuk memperhalus makna dari syair yang ia buat dalam sebuah puisi dengan tidak meninggalkan segi keindahan dan penghayatan seorang pembaca ketika membaca puisi tersebut.
Melihat dari beberapa kata yang kita bedah dapat kita simpulkan sisi reliji yang sedang Chairil hadapai sebagai manusia biyasa di hadapan tuhannya juga gambaran orang banyak terhadap kehidupan yang mereka alami sebagai manusia yang tidak akan bisa terlapas dari kedudukan manusia dengan tuhanya yang digambarkan dalam bait-bait puisi oleh seorang chairil anwar
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "Nostalgia masa kuliah"