Sepatu, Rambut, dan Seragam tidak Mempengaruhi Kecerdasan

 Pernah terjaring razia di sekolah? Razia di sekolah umumnya bertujuan untuk pembiasaan tindakan disiplin peserta didik dengan aturan yang telah di sepakati sebelumnya antara pihak sekolah dengan orangtua yang terorganisir dalam komite sekolah. Aturan ini tidak sekonyong-konyong dibuat tentunya memiliki dasar hukum yang kemudian di jabarkan dalam bentuk peraturan tertulis. Lalu kenapa sepatu, rambut, dan seragam masuk dalam aturan tersebut jika tidak mempengaruhi kecerdasan?.

Apakah anda setuju dengan ungkapan judul di atas tadi? jika "ya" tidak mengapa semoga setelah membaca ini sudut pandang anda terbaharui. Jika ada sekolah di negeri ini hanya menjadikan IQ sebagai tolak ukur keberhasilannya saya rasa lebih baik sekolah itu di tutup saja, mengapa demikian karena akan bertolak belakang  dengan tujuan pendidikan nasional yang harus menjadi dasar hukum paling awal dalam penyelenggaraan proses belajar dan mengajar.

Lalu kenapa jadi sepatu, Rambut, dan seragam? Jika pengukuran kecerdasan IQ dilakukan secara sistematis dan terukur atau sering juga berkaitan dengan Logika, bagaimana dengan EQ (Emosional Quotient Intelligence) atau SQ ((Spiritual Quotient Intelligence), dua kecerdasan ini jugalah yang nantinya membedakan antara manusia dan komputer atau manusia dan hewan, Menurut Victor Frankl dalam Man’s search for meaning, pencarian manusia akan makna merupakan motivasi utamanya dalam hidup. Sehingga ketiga kecerdasan ini juga mempengaruhi kesuksesan manusia dalam melanjutkan hidup kedepannya. Untuk memunculkan kecerdasan SQ dan EQ tadi tentunya harus melakukan pembisaan-pembiasaan yang menjadikan pribadi peserta didik terbiasa dengan tindakan-tindakan emosional yang baik, untuk membangun kebiasaan ini disiplin merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk membiasakan peserta didik agar kelak ketika mereka kembali ke lingkunganya mereka mampu hidup dan bertahan.

Sepatu, Rambut dan Seragam dijadikan salah satu tolak ukur keberhasilan SQ dan EQ karena dalam aturan ini terdapat filosofi yang baik, Sepatu sendiri mengapa harus sama dan seragam, tindakan ini untuk melatih empati peserta didik, walaupun sebagian mereka mampu membeli sepatu mahal dan bagus tetapi mereka dibiasakan menghargai orang lain serta menumbuhkan mental kebutuhan bukan keinginan. Kerapihan rambut, kerapihan rambut biasanya identik dengan pendek serta terukur bagian ini biasanya khusus bagi pria, hal ini sebenarnya untuk membangun rasa percaya diri peserta didik, kelak jika dilingkungan masyarakat mereka diharuskan berambut pendek mereka sudah biasa saja dan mereka yakin itu tidak akan mengurangi penampilan mereka, nah sekarang permasalahannya filosofi ini sampai atau tidak pada peserta didik?. setiap sekolah memiliki cara untuk membangun kecerdasan SQ dan EQ biasanya terbalut dibalik aturan yang mereka miliki.

Tidak hanya pembaca saja yang mengira jika IQ merupakan satu-satunya tolak ukur kecerdasan di sekolah, bahkan prasangka ini berlangsung hingga 1990 an, sampai pada akhirnya Daniel Goleman menemukan bahwa IQ bukan satu-satunya hal yang mempengaruhi keberhasilan manusia dalam belajar, orang-orang dengan IQ tinggi tidak selalu memperoleh keberhasilan yang ia inginkan. Berangkat dari penelitian inilah banyak sekolah yang Menerapkan konsep seimbang antara IQ, SQ, Dan EQ, demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No 20. tahun 2003 Pasal 1 ayat 1 yang isinya “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara." 



Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "Sepatu, Rambut, dan Seragam tidak Mempengaruhi Kecerdasan"