SI HAJI
Awal bulan
Maret yang redup, dengan ditemani segelas kopi hitam aku mencoba mengingat
kembali perkenalan ku dengan si Haij. Aku mencoba menyelami lekuk tubuhnnya
warna kulitnnya yang mencolok, kata-katannya yang santun tubuhnya yang mungil
namun dipenuhi otot-otot yang terbentuk dari kesehariannya bekerja,
bertandan-tandan kelapa sawit dengan berat yang beragam ia turunkan dari
pohonnya setelah itu para mandor akan datang menghampirinnya mencatat
perolehannya untuk ia tukar di awal bulan.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum Salam, mencari siapa”
“ah tidak datang bertamu saja, cegu, eh guru baru kah”
Percakapan awal yang aku ingat kurang lebih seperti itu, lantas coba
hidangkan kopi agar waktu tidak terasa pergi, aku melihat galebayanya yang
putih bersih, kala itu pikiranku terlalu sempit, mungkin korban televisi
semacam dogma dari buku-buku yang kubaca, ataupun keputusan yang ku ambil terlalu
cepat aku cukup bebal jika diajak berdiskusi masalah ini sampai-sampai temanku
tidak percaya aku beragama bahkan bertuhan bagiku sudah biasa, aku tidak mau menelan bulat-bulat apa yang mereka bicarkan karena itu
aku dibekali pikiran dan akal oleh Tuhan. Terakadang masalah tidak pentingpun aku
pertanyakan sampai temanku tidak mau berbicara
berminggu-minggu gara-gara hal ini tapi akhirnnya kami akan jatuh pada
penginsyafan satu sama lain dan sama-sama akan meintropeksi diri
karena tidak ada yang bersalah atau dipersalahkan itu sama halnnya dengan
bilangan ganjil dalam matematika, bersatu dan di bulatkan akan mempengaruhi
nilai atau disatukan tanpa mempengaruhi nilai biasannya yang mempengaruhi nilai
tersebut dinaggap benar oleh tatanan sosial.
“bila datang ke Malaysia?” (Bila=kapan) aku masih mencoba meraba bahasa
yang mereka pakai walaupun secara garis keturunan mereka sebangsa denganku
namun tata bahasa mereka tidak sama
“bulan September sekitar tanggal 16,”
“di sini kah kita tugas nanti?”
“surat tugasku sebenarnnya di Ladang Ujung 1,”
“Wah tempatku lah itu, bila kita pindah singgah-singgah pi Rumah ya
Pa”
“Insya Allah.”
Dari atas bukit terdengar suara lembut memanggil, galebaya yang
panjang perlahan menghilang diujung titik pandangku terhalang bukit yang tidak
seberapa tinggi. Aku anggap itu hanya perkenalan biasa perkenalan yang
nantinnya biasa saja, dulu sewaktu di kampungku sempat datang orang-orang
bergalebaya mereka mengetuki rumah dan mengajak para lelaki pergi ke Masjid
untuk shalat berjamaah di masjid, setelah itu pergi ke kampung lainnya, begitu
terus pekerjaan mereka, aku tidak pernah tahu sampai kapan mereka akan berhenti
terkadang mereka menghilang atau digosipkan sebagai teroris itu sudah biasa,
bagaimana dengan diriku akupun terbawa emosi, emosi dari televisi bagaimana
terjadi bom-bom atas nama jihad, rudal pecah menghantam bumi menyaksikan mayat
berserakan, tidak hanya itu seolah galebaya adalah bentuk perlawanan dari
mereka entah siapa melawan siapa. Begitupun mungkin si haji, setelah besok
menutup mata semuannya akan hilang entah nanti waktu akan mempertemukan kita
kembali atau tidak.
***
Matahari mulai melambat turun,
gelas kopi sudah terasa dingin dan hambar tetapi demi sebuah kenikmatan aku
coba teguk agar kantuk tidak coba menyusul.
Dua bulan setelah
kejadian itu aku mulai menempati ladang sesuai surat tugas yang aku terima Ujung
1, aku di tempatkan bersama pekerja lainnya namun berbeda Negara yang ku tahu
hanya aku yang berbeda Negara di blok ini. Suara mesin pengeruk tanah terus meraung
sepanjang hari mengangkat kerikil dan meratakan bebatuan, begitupun dengan
bangunan ini sepertinya belum lama berdiri, beberapa bangunan di sampingku
terlihat belum berpenghuni.
Pada tempat ini aku tidak perlu lupa memadamkan
listrik, menyalakan air karena dengan sendirinya akan padam, mereka
menempatkanku di blok c 1, tepat pinggir jalan, kala matahari sedang asik
menari di puncak ubun-ubunku di sanalah debu menggulung membentuk awan bersama
truck-truck pengangkut kelapa sawit, setiap pagi aku dapat mendengar suara riuh
kendaraan lebih ramai dari jam-jam biasanya mereka pergi meng-antri untuk
mengambil absen dengan di barengi suara ringkihan bel yang begitu keras aku
tidak perlu memasang alarm pada ponselku, di mana si haji akupun belum lagi
melihatnya tempat ini luas bahkan lebih luas dari kampungku, kehidupan di sini
seperti kembali membuka buku usang tentang sejarah buruh negeri ku, atau Max
Hevelaar tentang Banten, rumah dipetak-petakan seperti camp-camp sesuai jabatan
serta jenis pekerjaannya, aku cukup kagum dengan sistem yang mereka buat tidak
ada warga Negara asing selain warga negaraku, dan tidak ada warga Negara asing
yang menjabat di kantor-kantor dengan jabatan tinggi termasuk orang-orang
negaraku berapapun lamannya. Kurang lebih itulah yang kutulis pada surat
elektronik yang kutuju untuk kawanku di pulau jawa.
Matahari akan segera turun sudah lama aku tidak
pergi ke Masjid, siapa tahu si haji ada di masjid, segera ku engkol motor
pembagian dari pemerintah yang ku pinjam dari guru lain karena di sini belum
mendapatkan jatah setidaknya untuk beberapa hari saja sebelum benar-benar
sendiri, tumpukan batu koral yang menggelepar di jalan debu-debu beterbangan ku
tembus dengan jarak yang tidak begitu jauh, sampai jarak pandangku yang menciut
hanya pucuk-pucuk kelapa sawit yang terlihat.
Lori-lori berbaris rapih sesuai papan aturan yang
di buat perusahaan begitupun mobil-mobil besar di setiap pojok jalan selalu ada
peringatan mengenai keselamatan kerja. Cat hijau dengan hiasan lampu kerlap-kerlip
di sekelilingnya, juga hiasan bunga kertas warna-warni, tepat di sebelah kiri
pintu masjid terdapat bunga mawar yang sedang mekar, bukan hanya sekuntum
tetapi cukup banyak dan wangi, belum juga terlihat si haji, tidak banyak orang
yang kukenal di sini hanya si haji dan mandor kebun, yang waktu itu datang ke
rumah sekolang diladang Ujung 3 meminta ijajah paket A untuk anaknya karena
akan melanjutkan sekolah di Makasar. Setelah usai berdzikir ada suara halus
menyapaku dari ujung syaf sebelah kiri.
“cegu,,eh guru, bila pindah?”
Ternyata si haji dengan galebayanya yang berwarna terang “ia haji,
baru seminggu lalu,”
“kenapa tidak main pigi rumah?” tangannya
segera menadarat di bahuku, sepertinya kami telah kenal lama namun entah pada
waktu yang sebelah mana
“mana ku tahu di mana rumahmu ji,” aku menjawabnya sambil melemparkan senyum
“jom, main lah ke rumah sekarang.”bersama dengan itu si haji menuntunku
menuju rumahnya dengan kendaraan masing-masing.
Malam itu aku menaiki bukit, posisinya sedikit
lebih tinggi dari masjid, lampu remang-remang menghiasi setiap rumah, serta
deretan anak muda berkumpul menggerumini lokasi signal berada seperti semut
menggerumuti gula merah, beberapa dari mereka adalah muridku. Sekali kutannyakan
pada mereka apa yang kalian lakukan di situ bermain game online dan selebihnnya
tidak ada.
Mereka begitu lugu untuk anak seusianya, seperti mengenal tekhnologi
padahal hanya itu-itu saja yang mereka tahu, game online, dan hampir semua media sosial mereka punya terkadang aku terheran-heran apa yang mereka nikmati
dari media sosial jika mereka upload foto, landscap di
sisni hanya rimbun pohon sawit, atau mereka akan bertingkah seperti anak muda
didalam tv ataupun media sosial yang mereka baca, kebut-kebutan pacaran hingga
miras.
Malam terus mengguras waktu, bintang yang banyak
menghiasi langit Borneo, tiba sudah aku di rumah si haji, rumah dengan taman
yang indah banyak bunga dan terawat dengan baik, berpagar rantai dari
kaleng-kaleng bekas yang ia gunting hingga menjadi satu kesatuan indah dengan
warna terang menyala, design rumah yang sama, dengan satu ruang tamu dan dua
kamar tidur, di dinding terdapat piagam penghargaan yang menggantung dengan
rapih dan pigura berwarna keemasaan, sedangkan di bilik pintu terdapat pamflet hak-hak pegawai yang terurai dalam selembar kertas aku tidak
sempat membacanya dan kurang pahan dengan bahasa mereka. Dari dapur aku
mencium wangi masakan, tak lama ada seorang perempuan yang menghantarkan
beberapa pisang goreng dan segelas besar teh manis dengan aroma melati, kehadapan
kami aku yakin itu istri si haji,
“jadi kalian hanya berdua ji?” aku coba membuka
pembicaraan dengan sebuah pertanyaan, rumah ini begitu sepi hanya ada
riuh kipas, dan daun-daun yang saling bersinggungan kemudian mengeluarkan suara
yang harmoni
“ya pak guru ayo tray…tray pisang gorengnya”
“ia..ia ji”
“jadi kita di sini mengajar budak-budak, atau?”
“tidak ji saya mengajar anak-anak yang sudah
cukup besar, setingkat SMP kalau di Negara kita, haji asal dari mana?”
“Kalau asal dari Bulukumba pa, sama-sama dengan
Istri, sudah hampir 30 tahun aku di sini bersama istri, di sini sudah serasa
kampong sendiri,”
“Tidak rindukah haji dengan tanah kelahiran? haha”
tawaku menyelangi pembicaraan agar terlihat tidak sedang mewawancari sambil
setegap mungkin ku angkat pisang goreng suguhan istri si haji
“jika ditanya begitu susah aku menjawab pa, rindu
sekali tapi ya mau bagaimana lagi rencana memang tahun ini kami pulang karena
anak ku mau mendaftar sekolah ke SMA, aku pun bingung yang perempuan ingin jadi
dokter, maka dari itu aku harus pulang memilihkan sekolah untuk mereka sekarang
dia di pesantren modern, yang laki-laki juga sama tapi sedikit berbeda dalam
pergaulannya, beda memang anak lelaki dan perempuan, itulah pak kenapa ajak kita
ke sini sekali minta saran juga”
“kalau memang mau menjadi dokter selain pintar
haji juga harus menyiapkan uang dari sekarang haji tahukan bagaimana Negara
kita?”
“itulah yang kupikirkan rencana biar dia sekolah
di SMA ku dulu pernah sekolah, sambil aku menyiapkan bekal untuk masuk
kedokteran, ia ya pak kenapa di Negara kita apa-apa berbayar padahal di sini
tidak.”
Pandanganku dengan sengaja menangkap ke pojok
sebelah kanan, nampak siaran televisi yang sedang di gandrungi oleh para ibu juga
anak muda jaman sekarang ceritannya tentang para pemuda dengan motor besarnnya
yang melihatkan pertarungan-pertarungan di jalan-jalan, sesekali istri sihaji
merangsek ke depan tv untuk memindahkan siaran televisi menggantinya dengan
film dari Negara lain kisah-kisah lama yang dibalut dengan nuansa modern hampir
tidak ada yang menarik menurutku, oleh para guru seperti aku tontonan yang
sia-sia. Sengaja aku alihkan mataku pada tv untuk menghindari perkara politik
yang panjang jika harus kujelaskan. Dalam benakku mampukah si haji menyekolahkan
anaknya dengan profesi pengait buah kelapa sawit, akh itu
hanya kekhawatiran tidak beralasan. Sepertinnya aku Nampak bodoh telah
mengganggap mereka tidak berpendidikan buktinnya si haji bilang ia pernah
sekolah SMA, tapi tidak heran memang kalau mereka memilih untuk merantau dan
mendulang uang di negeri tetangga, menyabit dan memungut biji sawit di sini
sama dengan upah buruh pabrik pulau
jawa dengan gelar sarjana, itupun harus sesering mungkin Demo.
Suara adzan sudah mulai terdengar, lambat-laun
merambat dari bawah hingga ke Atas, suara adzan yang terdengar jelas dari rumah
si haji, tetapi tidak dengan rumahku entah kenapa mungkin terhalang pohon sawit
yang tinggi.
Setelah beberapa hari ini aku mengenal sosok si
haji aku mulai tahu betapa hidup semakin rumit meninggalkan anak jauh dari
orang tua itu bukan pilihan yang bagus tapi bagaimana lagi demi pendidikan yang
layak demi cita-cita mereka, sepi menjadi teman dikamar-kamar rumah, tidak ada
keluguan seorang anak yang menannyakan PR selepas pulang sekolah. Ketika aku
Tanya mengenai gelar hajinnya rupannya dia tidak berangkat haji melalui jalur
Negara yang resmi, karena terlalu lama jika jalur Negara bisa menunggu 5 sampai
6 tahun, jemaah haji di negaraku setiap tahun memang membeludak jadi
mengaturnnya dengan sedemikian rupa, dia menggunakan jalur illegal bahkan ia
menunjukan paspor dengan bendera Negara lain tentunnya dengan harga 3 kali
lebih mahal dan 3 kali lebih cepat.
“Lantas bagaimana kau menjawab pertannyaan
pegawai imigrasi ji”
“Aku hanya diam saja karena memang begitu menurut
perintah heheh”
Begitu ku tahu bagaimana si haji mendapatkan gelarnnya, aku rasa tidak
hanya di negaraku mafia-mafia pembuat dokumen asli tapi untuk orang
palsu seandainya si haji tahu ini bukan perkala sepele, pantas saja penjahat
seperti Edi Tansil dapat mudah kabur setelah habis menguras banyak uang
negaraku.
Selanjutnnya aku manghabiskan waktu pada bilik
yang kokoh siang dan malam hingga tiba pada penghujung hari malam minggu, malam
yang biasannya dihabiskan oleh para muda-mudi untuk bercengkrama dengan
kekasihnnya atau sekedar mengajak pasanggannya melihat bulan dihalaman rumah.
Tapi sekedar bercerita ini adalah malam yang paling malas kulalui setelah aku
berada di sini, nyala lampu biasannya lebih lama dua jam dari biasannya mungkin
itu untuk mempersilahkan para buruh menikmati televisi ataupun memutar lagu
sesuka mereka dari speker-speker kepunnyaannya, tetapi selalu ada saja yang
menjadi korban jaman seperti pada malam itu para pemuda sudah siap berkumpul
dengan gitar dan suara yang sudah mereka stel dari awal hari berkumpul tepat di
sebelah rumahku ada juga beberapa siswaku, mereka mewakili jiwa-jiwa muda
anak-anak buruh.
Petaka datang ketika tuan tiba membawa mobil hiluxnnya
dengan berkerat-kerat kaleng minuman malam semakin panjang aku terkurung di
dalam biliku dalam kondisi yang tidak nyaman suara mereka semakin keras
menghantam udara, sesekali terdengar suara pukulan pada dinding aku mencoba
mencari tahu dalam gelap aku melihat pada jendela yang bisu, mereka memulai
perkelahiannya dengan begitu gagah entah apa yang memicu mereka tidak ada yang
mau meredam mungkin pikiranku sama dengan warga lainnya itu ulah mereka, si
tuan dengan lantangnya berteriak sambil badannya yang sempuyungan karena berkerat-kerat
miras masuk memenuhi lambungnnya, mengalir deras dalam darahnnya memicu otak
yang tidak stabil, semuannya ketakutan begitupun para siswaku dengan ancaman
seorang tuan tangannya mengacung tepat ke arah langit sepertinnya ia ingin
berkata seperti raja ramses II, kepada rakyatnnya di sini aku penguasa bahkan
Tuhanpun tidak berkutik.
Walaupun aku tahu jabatannya tidak setinggi yang
ku kira ia hanya asisten menager entah no berapa tetapi itu cukup membuat takut
para siswaku ataupun pekerja lainnya, di sini jika seseorang telah di
pertuankan maka buruh di bawahnnya siap menghambakan diri, si tuan akan
berjalan dengan kepala menengadah ke langit. Hal ini pernah kuceritakan pada si
haji dan si haji hanya tersenyum seperti tidak bisa apa-apa. Aku pernah melihat
sihaji begitu tertunduk melihat si tuan yang pemabuk, aku hanya berkesimpulan
mereka menghormati betul Tuan, bagiku Tuan siapapun mereka setinggi apapun
mereka sekolah, jika tidak mengenal toleransi sama saja seperti sampah bahkan
lebih rendah dari itu, itulah yang membuatku mengangkat dagu jika bertemu
dengannya aku ingin menunjukan pada mereka hormat dibalas dengan hormat.
***
Sudah beberapa minggu aku di sini kini sudah
tidak ada lagi motor untuk pergi ke masjid, ah biar aku menikmati ibadahku yang
sunyi di rumah ini. Tapi sore itu ada dercit rem sepeda motor terpakir di
halaman rumah, ku kira siapa ternyata si haji. Dia sengaja menjemputku
jauh-jauh karena paham sudah tidak ada lagi motor dan berjalan kaki cukup gelap
jika malam tiba aku harus menembus rimbunan pohon sawit hingga terkadang
bulanpun tidak terlihat.
“guru mari pergi ke masjid”
“wah merepotkan jadinnya saya ji” cukup berat menirima
tawaran ini pada awalnnya karena aku takut membebani si haji dengan menjemputku
setiap hari tapi akupun tidak mungkin berjalan pada malam hari menembus gelap,
tapi ku nikmati saja.
“nda…(tidak) lah kita saudara-saudara se Agama
jadi sudah sewajarnya aku menyempatkan untuk menjemput guru di sini lumayan
jauh dan gelap jika guru harus berjalan kaki ke masjid”
Semenjak itu setiap sore aku selalu menunggu si
haji menjemput, walaupun terkadang ia sibuk membuatku menunggu terlalu lama di
depan pintu setiap sore pula aku mencium galebayannya wangi dan rapih pertanda seorang
istri yang berbakti. Aku menatap kearah bunga-bunga yang tersiram air hujan,
tepat di halaman masjid aku tidak bisa segera pulang karena hujan cukup lebat
begitupun dengan yang lainnya walaupun ada beberapa orang yang menembus butiran
air yang turun sebesar lubang jarum, aku dan si haji memutuskan untuk berteduh
karena jarak yang cukup jauh, malam yang cukup dingin
“ji kemana mereka malam-malam begini, hujan pula”
tatapanku menagkap dua orang yang tidak begitu jelas melintas di depanku dengan
menggunakan jas hujan dan sepatu boot
“Oh..mereka pergi menjaga blok-blok sawit,
terkadang kerbau”
“semalam ini ji”
“ia… mereka yang bekerja seperti itu sebenarnnya
orang tua yang sudah tidak lagi dalam usia kerja, namun mereka bingung
pulangpun ke mana? semua keluarga mereka di sini anak, cucu bahkan cicit, tidak
sedikit yang seperti itu, akhirnnya demi bertahan hidup mereka harus mencari
pekerjaan lain dan biasannya Tuan memberikan tugas sebagai sekuriti dengan
bayaran harian jika mereka ingin mendapatkan uang berarti harus berangkat mau
hujan badai sekalipun."
Terkadang aku heran kenapa mereka tidak ingin
pulang, apakah mereka tidak ingin merasakan kemerdekaan bangsannya, menghirup
udara sesukannya, memakai listrik semaunnya, menggunakan air sepuasnnya selagi
masih tersedia dan Negara merdeka. Mungkin di sini 80% orang-orang negaraku
meraka merantau sudah bukan lagi dalam belasan tahun sudah berpuluh-puluh tahun
bahkan sekitar tahun 70an banyak dari mereka yang memilih menjadi warganegara
setempat, bahkan si haji pernah bilang dia hanya mengenal 1 presiden ya itu
presiden Soeharto, karena hanya dia yang pernah ku pilih saat pemilu di
negeriku selebihnnya pemilu di negeri orang yang ia anggap bukan pemilu karena
tidak pernah aku mengenal mereka seperti presiden yang ku pulih dulu. Aku
pernah bertemu dengan pekerja asal philipina, dan mencoba mencari tahu
asal-usul mereka ternyata istrinnya orang jawa tapi sekalipun belum pernah
menginjakan kaki di pulau jawa.
“lantas bagaimana denganmu ji, apakah akan sampai
tua di sini”
“aku tidak tahu pak haha lihat saja nanti,
sebenarnnya akupun sudah mulai lelah dan berpikir untuk pulang namun masih
bingung apa yang harus ku perbuat di sana, semua orang di sini ingin kembali
tapi apa jadinnya jika kembali kami kelaparan, sedangkan kemampuanku hanya
menyabit dan berkebun, lantas jika umurku sudah tua tenagaku berkurang apa yang
harus ku perbuat, aku pun sedang mencari tahu bagaimana aku bisa bertani di
negaraku banyak teman-temanku yang kembali dan mereka pergi ke Kalimantan
mengolah tanah Negara dan tidak sedikit juga yang memilih kembali ke sini
karena masalah dengan warga sekitar yang biasannya tidak mau terkalahkan
mungkin guru tahu atau mau memberi solusi”
“Pengalaman saya belum banyak ji, mungkin yang
haji maksud tadi program transmigrasi kalau masalah transmigrasi biasannya Bapennas membuka program tersebut”
Malam itu hujan cukup lambat berhenti, kami memaksa menembus barisan
air yang datang dari langit karena masjid sudah kosong, sihaji harus
mengantarku dengan jarak dua kali lipat lebih jauh karena arah rumahku yang
berlawanan dengan rumahnnya.
Pagi hanya kuhabiskan membias begitu saja tanpa
kesibukan penting sesekali menatap laptop kosong tanpa ada listrik atau menulis
agenda kerja sore nanti pukul tiga aku bergegas menemui siswaku yang terkadang
terlambat. Aku juga sempat menceritakan ini pada sahabatku di jawa dia tertawa
aku menceritakan siswaku yang tinggi besar lebih besar dariku melalui surat
elektronik dengan signal yang harus kucari dibeberapa titik yang kutandai,
sekolah dengan taman yang terawat dan cat penuh gambar-gambar lucu, selalu
menyambutku setiap sore menunggu siswa datang bukan tidak mau aku mengajar pagi
tetapi mereka harus bekerja, dan istirahat sejenak setelah bekerja. Bersyukur masih
ada yang datang ke sekolah selepas bekerja, terkadang jika hujan merayu untuk
turun satupun tidak datang, siswaku bukan lagi anak-anak bau kencur secara umur
mereka sudah dewasa tetapi secara pengetahuan mereka seadannya, biasannya
mereka mengikuti jejak orang tua atau sengaja dibawa orang tua karena khawatir
dengan pergaulan anak-anaknnya di kampung selebihnnya mereka lahir di sini
tidak ada surat-surat yang menjelaskan kapan mereka tapatnnya lahir hanya
ingatan orang tua dan pohon kelapa yang di tanam di halaman rumah bertepatan
dengan ia lahir.
***
Matahari sudah
melampaui batas langit sudah Nampak gelap sepertinnya si haji hari ini tidak
menjemputku pergi ke masjid biarlah aku solat di rumah saja sambil menikmati
lampu yang sudah menyala melihat beberpa video di laptop yang sudah lama
tertunda, atau sekedar membuka beberapa buku elektronik dilaptopku, jam tangan
sudah menunjukan puku 07’30pm aku coba merebahkan badan pada ranjang tanpa
kasur yang empuk dan nyaman namun dari seberang jalan aku mendengar suara motor
yang sepertinnya si haji, sampai hafal betul dengan bunyi rem dan suara deru
motornnya, beberapa detik kemudian wewangian pekat menonjok hidung, itu dari galebayannya
si haji aku segera beranjak mengambil sarung dan songkok lantas berdiri di
depan pintu.
“maaf pa, hari
ini aku tidak menjemput kita pi masjid untuk solat magrib, ada urusan diluar”
“urusan apa kalau saya boleh tahu” si haji memang sepertinnya manusia
yang diciptakan pengganti mesin-mesin tidak ada habisnnya bekerja
“biasa pa saya masuh member di MLM produk Klinik, jadi biasannya beberapa
minggu sekali kami ada pertemuan bapak tahu produk tersebut siapa tahu mau
masuk atau jadi member”
“ah tidak ji di Negara kita sudah terlalu banyak produk MLM masuk
akupun masih belum tahu bagaimana prosesnnya lebih baik menjadi guru dulu”
Suara adzan yang
terdengar mendekat, ke arah kami membuat si haji sedikit tergesa-gesa karena
belum melaksanakan salat sunah.
“guru main dulu ke rumah kita”
“boleh ji” tawaran yang selalu
ku tunggu, aku pastikan malam ini aku akan makan malam dengan nikmat walaupun
tidak selalu tetapi setidaknnya teh manis dengan pisang goreng selalu ada
terhidang
Seperti biasa aku langsung duduk bersila menghadap televisi melihat
istri si haji yang sedang asik menonton sinetron kesukaannya.
“pa guru suka film ini,” tiba-tiba istrinnya menoleh dan bertannya
karena sadar akan kedatanganku
“tidak begitu macik” film-film seperti inilah yang menghilangkan
norma-norma sosial menurunkan batas-batas kesopanan dan menginjak-injak nama
baik sekolah karena sekolah hanya menjadi tempat bertukar gaya juga memerkan
harta dan paha, sial.
“wah kenapa padahal film ini bagus sesekali ada peran remajannya, sesekali
ada dakwahnnya ada ustadnnya juga muncul”
Kujelaskanpun percuma karena kita berangkat dari pola pikir yang
berbeda, sinetron yang ditonton saat itu bagiku sangat tidak mendidik anak-anak
muda bangsaku mereka lebih mengenal percintaan ketimbang buku-buku, menunjukan gaya
borjuisme dari setiap lakon yang membuat patokann keberhasilan yang bergeser
pada materi, terkadang aku melihat senyum polos mereka saat menonton sinetron
yang menjadi primadona di sini tersenyum seolah tidak mengerti apa-apa wajar
saja mereka jarang membaca Koran ataupun media sosial bahkan berita sore.
Mungkin semua guru akan berpikiran sama tentang itu karena mereka paham
bagaimana kelakuan siswannya anak-anak dari ibu-ibu yang gembira menonton
sinetron dan anak-anak mempraktekan apa yang ia tonton dimana lagi jika bukan
di sekolah karena hari-hari mereka di sekolah. Sekolah manapun itu. Aku melihat
kesederhanaan berpikir yang mereka bawa cerita yang mudah tertebak saja masih
menjadi yang dinanti-nanti ah.
“guru kenapa kita tidak mengajar budak-budak padahal banyak disini
budak-budak yang besar dan belum bisa membaca, tu seperti jiran kami sudah
punya anak masih belum bisa membaca”
“bukan tidak mau guru ini kan tugasnnya di SMP, nanti kalau tidak
sesuai tugas terkena masalah juga ya..kan guru” si haji menimpali pertannyaan
istrinnya sepertinnya ia berusaha memahami ku
“iya lah”jawab istrinnya
“Nantilah haji aku pikir ulang itu akupun jenuh setiap pagi hanya diam
di kamar, tapi sudah berkoar-koar untuk mengajak anaknnya ke sekolah tidak ada
juga yang datang” bukan mudah untuk mengajar mereka belajar seperti. alm ayahku
pernah berpesan jangan pernah sekolah sambil mencari uang jika kamu tidak ingin
terjebak.
“anak-anak disini belum pandai membaca kerja mereka hanya main seja
setiap hari, bukan belajar itu di sekolah” entah mengapa ia mengatakan itu
kepadaku sepertinnya mewakili perasaan semua ibu di sini atau sekedar rasa
jengkel melihat keidupan yang terlampau sempit
Aku hanya melempar senyum pada mereka, terlebih menjelaskanpun tidak
banyak gunannya, manusia sudah semakin pandai berbicara namun lupa dimana
meltakan pikirannya, akhirnnya anak-anak menjadi imbasnnya. Aku heran dengan
pemuda di sini mereka seperti tidak mengenal bangsa sendiri sering memanggil
dengan panggilan Indon yang terdengar oleh telingaku sebagai penghinaan.
Murid-muridku memilih kawin muda dan rela menjadi janda, berhenti sekolah
bahkan tahun kemarin ada yang mendapat beasiswa melanjutkan sekolah alasannya
tidak betah terus menikah, terkadang aku heran sebenarnnya manusia-manusia
jaman sekarang maunnya apa? Sudah ku bilang hidup itu bukan hanya A,B,C,D dan E
tetap saja ada yang bertannya bisakah saya mendapatkan ijajah dengan hanya ikut
ujian seandainnya tuhan begitu baik nanti akan kupilih neraka atau surga dengan
hanya menunjukan hasil ujianku, bukan prosesku.
Terlampau sulit memahami mereka terkadang aku harus memulai dari
sangat dasar, jika semua ini dikategorikan kesuksesan mereka sukses mendulang
uang yang banyak tapi mereka lupa uang itu untuk apa.
“ guru ini ada beberapa buku, mungkin guru mau membacannya aku tidak
paham”
“wah dari mana dapat buku ini ji” sial dari mana dia punya buku-buku
filsafat lagi lagi aku di bohonggi jangan-jangan selama ini si haji hanya
menguji aku sebatas mana kemampuanku
“adiku dulu dikampung sempat kuliah dan mengajar bahasa si SMA tidak
tahu kenapa kuliahnnya tidak dilanjutkan”
“terimakasih ji saya coba baca, bacaan yang cukup berat” jika begini
bacaannya aku kira wajar adikmu berhenti kuliah ji karena ia tidak menemukan
jawaban dan merasa ilmu terlalu sempit jika hanya duduk dan mendengarkan,
bahkan kabarnnya salah satu mentri negaraku tidak sampai tamat Pendidikan SMA
gara-gara membaca buku-buku seperti ini
“itulah saya tidak mengerti guru”
Malam semakin larut,
dengan nada malu aku meminta si haji mengantarkanku tapi ia memintaku menunggu
satu iklan hingga ada iklan di TV, lampu yang redup dari motor si haji
menerobos rimbunan kelapa sawit gelap tidak terlihat bulan ada dimana,
langit-langit hanya beratap pohon-pohon sawit, setelah itu padang luas
disebelah kiri jalan dan bunyi jenset yang menderu sepanjang hari, kurasa ini
yang membuat bunyi adzan tidak sampai di rumahku karena memecah gelombang suara.
Sebentar lagi lampu padam mataku lelah tapi otaku masih terus berpikir apa yang
harus ku perbuat besok.
***
Sore adalah jam
yang sangat kutunggu terkadang aku tidak ingin melewetkan itu,
tetapi mereka mungkin lelah karena harus bekerja sabanhari dan istirahat
selebihnnya kebablasan lupa ada sore dan belajar.
Melihat mereka dengan garis wajah yang keras tangan-tangan yang kasar
belum tentu aku bisa melakukan apa yang mereka perbuat ketika aku seumuran
mereka yang ku ingat hanya petak umpet, ataupun berenang di kali selebihnnya
seragam dan buku-buku yang harus ku pikul setiap hari mungkin itu yang
membuatku tidak tinggi hingga saat ini berkilo-kilo membebani pundaku, setelah
ini apakah yang mereka pikirkan aku pernah mewanti-wanti pada mereka agar tidak
berharap banyak pada sekolah, karena sekolah tidak akan memberikan banyak uang
tetapi jika ingin nyaman dan bertahan hidup sekolah bisa membatu, asalkan kita
bersungguh-sungguh.
Sempat ada pertanyaan yang membuatku merenung. Pa kirannya setelah ini
jika kita orang tidak balik kampung bagaimana melanjutkan sekolah di sini?.
Mereka adalah manusia-manusia yang lugu lupa dengan kampungnnya terlebih lagi
budaya mereka.
Sudah lama aku
tidak berbaring bersama rumput-rumput yang harum disiram embun, mungkin minggu-minggu besok aku akan mengajak beberapa siswaku pergi sekedar
menghabiskan malam bersama mereka, ketimbang harus teriak-teriak mabuk tidak
karuan semoga saja mereka mau mengantarku dan menemani semalaman.
Pada bilik berukuran tiga meter kali tiga meter tempat di mana aku
berbaring dan mengeluh banyak hal, berbicara sendiri pada foto istriku atau
sekedar menciumi dia melalui foto sambil menunggu si haji datang, serta
menghitung tumpukan kertas yang berserakan tidak pernah rapih, sambil mendengar
mitos mitos tua, mereka yang ketakutan sehabis kerja di ladang, atau sekedar
menakut-nakuti bocah-bocah yang sering pergi ke Blok-block sawit yang
seharusnnya tidak boleh, di jiran ini tidak sehebat yang terbayangkan di sini
merupakan lumbung emas para pendulang harta yang akan kembali menghabiskannya
di pulau sebelah, hutan-hutan telah berubah menjadi kebun-kebun
binatang-binatang sudah pindah ke kandang-kandang pohon-pohon besar tergelapar
kering setelah ditumbang.
Sepertinnya waktu
yang pas untuk memanjakan diri pergi mencari signal dan bermesraan dengan
keluarga di kampung, manaiki bukit yang tidak begitu tinggi namun cukup curam
karena banyaknnya batu-batu kerikir tajam sepanjang mata
memandang, aku segera mengawasi setiap lokasi mecari, batu yang kutandai
sebagai lokasi signal terkadang di tempat ini banyak orang tapi beruntung sore
ini tidak begitu, bukit yang terjal dengan banyak lubang menganga anak-anak
bilang lubang-lubang itu bekas pengeboman batu yang terus di tinggal begti
saja, dasar manusia-manusia licik.
Pesan yang ku tunggu dari istri tercinta ternyata tidak begitu banyak
namun ada email masuk itu dari temanku, kawan jangan terlalu mengkotak-kotakan
kehiduapan manusia di sana, nanti kita sendiri yang repot, email yang singkat
sepertinnya dia hanya memicuku untuk membalasnnya biasannya begitulah rindu
seorang teman yang kami habiskan pada gelas-gelas kopi warung remang-remang
ketika kita sedang bersama terlebih lagi cuaca Bandung yang dingin dan selalu
memaksa orang meminum kopi dari gelas yang masih panas seperti terakhir kali
kita bertemu di pinggir jalan biasannya orang-orang menyebutnnya dengan saritem
malam sebelum aku berangkat menuju jiran kami menatapi lelaki yang hilir mudik
keluar masuk gang sudah jarang paha ataupun bokong sexsy
melintas tetapi memang bukan itu maksud kami biasannya kehidupan lebih nyata di
sini orang-orang dengan sengaja datang sebagai manusia untuk menjadi
binatang-binatang dan mereka tidak malu mengakuinnya mungkin itu kejujuran
selalu ada pojok yang sepi di tempat-tempat seperti ini.
Kami akan terus membual sepanjang malam sampai-sampai sudah puluhan lelaki
cantik yang datang bernyanyi terkadang kami lupa ah nostalgia memang selalu
indah.
“sial hidup manusia memang
sudah terkotak-kotakan mana si kaya mana si miskin bahkan sejak kamu dilahirkan
dan dapat melihat, persetan persamaan itu semua hanya garis-garis ideology yang
manusia buat untuk menjadi daya tarik, kalau bukan lawan jenis masyarakat yang
berbeda jenis, toh Tuhanpun telah membuat kotak-kotak sendiri dengan membuat
neraka dan surga kita semua tahu itukan. Send,\\”
ah sudah cukup, lebih baik aku
segera turun bukit matahari sudah terbenan, kurasa sebentar lagi si haji datang
menjemput aku harus segera menyiapkan sarung dan songkok supaya si haji tidak
menunggu.
***
Si haji sedang
apa ya? Apa dia balik ke negeri Jiran atau sudah memutuskan untuk berdagang di
kampungnya, kepala ku menegadah melihat langit Bandung yang gelap kecuali
jalan-jalan yang kini selalu sibuk macet juga manusia-manusia dengan
aktivitasnya.
“kopi kang?” tiba-tiba suara lembut menggugah ku dari lamunan
“boleh boleh kopi hideungnya, bala-bala we kana wadah,”
“siap,” dengan cekatan si amang tukang kopi membuatkanku kopi dan
menyiapkan beberapa gorengan di wadah-wadah kecil sesekali aku terus mengunyah
sambil menunggu temanku datang kami membuat janji untuk bertemu di sini kelak
jika aku pulang dari jiran dan menceritakan semuannya.
Jarum jam terus
memacu lajunnya tanpa pernah meminta untuk dilirik, kota ini begitu dingin
terlebih terminal ini, setiap hari dingin walaupun semua orang berteriak dengan
darah yang menggolak karena berebut penumpang tetapi tetap saja sejuk
terdengar, malam memaksaku untuk menghangatkan tubuh segera kukenakan jaket
yang memang sudah kusediakan, jaket sudah kebutuhan primer, wajib dimiliki warga
Bandung karena jika malam tiba cuaca akan begitu dingin, apakah temanku lupa
kita pernah membuat janji dan akan bertemu di sini sudah berjam-jan aku
menunggu mungkin akan ku coba untuk menghubunginnya, ah aku lupa semua nomor
terhapus saat mengganti sim card di handphone, tapi coba ku kirim via email
siapa tahu langsung di jawab.
Kopi sudah terasa hambar terlebih lagi tatapan si mamang kopi yang
sudah lebih sering melirikku karena sudah tidak ada lagi yang dapat kubeli,
sial kemana ni orang tidak juga kunjung datang coba si haji pasti tidak akan
lupa dengan janjinnya apalagi ngaret begini bisa-bisa dimarahi Tuhan kalo dia
terlambat, ah haji-haji sedang apa rupannya kau di sana aku sudah lama tidak
mencium galebaya dengan wangi yang begitu menonjok di hadapanku, tidak lagi
melihat lugunnya pembicaraanmu dengan istrimu mengenai anak muda yang bercinta,
disini kesibukan telah merenggut sebagian keharmonisan dirinnya dengan sang
pencipta terkadang mereka lupa mana itu kewajiban mana itu kemunafikan, mungkin jika mereka melihat mu ji tatapannya akan begitu
mencolok dengan celanamu yang cingkrang saja biasnnya sudah terlampau membuat
orang mendeskreditkanmu tapi kau tetap saja berjalan dengan teguh seperti
katamu aku harus menjalaninnya tanpa banyak bertannya karena aku yakin itu
semua bermanfaat, seperti kau yang sangat memuliakan teman seagamamu.
Setidaknya menjadi berbeda itu sulit ya ji bagaimana dengan anakmu
yang mau menjadi dokter bagaimana dengan uangmu sudah kau siapkan untuk
menyokong anakmu yang ingin menjadi dokter, ah sayangnya aku tidak sempat
meminta no hp mu sebelum kau pulang kau terlampau tergesa-gesa saat itu yang
kau tinggalkan hanya wanginnya galebayamu, serta punggungmu yang ku pandangi
lebih lama.
“treeeet….treeetttt…..”sepertinnya dari temanku
“ hallo….Assalamualaikum,”
“Wah…. Maaf, maaf bro aku lupa besok saja kita bertemu sory…sory.”
“ok ia…ia.” hah sepertinya di sini semua orang terlampau sibuk,
biarlah aku pulang saja coba kau ada ji mungkin aku sedang bersamamu memakan
pisang gorang buatan istrimu.
Bandung 2017

Posting Komentar untuk "SI HAJI"