SI HAJI

MARET 2017

                Awal bulan Maret yang redup, dengan ditemani segelas kopi hitam aku mencoba mengingat kembali perkenalan ku dengan si Haij. Aku mencoba menyelami lekuk tubuhnnya warna kulitnnya yang mencolok, kata-katannya yang santun tubuhnya yang mungil namun dipenuhi otot-otot yang terbentuk dari kesehariannya bekerja, bertandan-tandan kelapa sawit dengan berat yang beragam ia turunkan dari pohonnya setelah itu para mandor akan datang menghampirinnya mencatat perolehannya untuk ia tukar di awal bulan.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum Salam, mencari siapa”
“ah tidak datang bertamu saja, cegu, eh guru baru kah”

        Percakapan awal yang aku ingat kurang lebih seperti itu, lantas coba hidangkan kopi agar waktu tidak terasa pergi, aku melihat galebayanya yang putih bersih, kala itu pikiranku terlalu sempit, mungkin korban televisi semacam dogma dari buku-buku yang kubaca, ataupun keputusan yang ku ambil terlalu cepat aku cukup bebal jika diajak berdiskusi masalah ini sampai-sampai temanku tidak percaya aku beragama bahkan bertuhan bagiku sudah biasa, aku tidak mau menelan bulat-bulat apa yang mereka bicarkan karena itu aku dibekali pikiran dan akal oleh Tuhan. Terakadang masalah tidak pentingpun aku pertanyakan sampai temanku tidak mau berbicara berminggu-minggu gara-gara hal ini tapi akhirnnya kami akan jatuh pada penginsyafan satu sama lain dan sama-sama akan meintropeksi diri karena tidak ada yang bersalah atau dipersalahkan itu sama halnnya dengan bilangan ganjil dalam matematika, bersatu dan di bulatkan akan mempengaruhi nilai atau disatukan tanpa mempengaruhi nilai biasannya yang mempengaruhi nilai tersebut dinaggap benar oleh tatanan sosial.
bila datang ke Malaysia?” (Bila=kapan) aku masih mencoba meraba bahasa yang mereka pakai walaupun secara garis keturunan mereka sebangsa denganku namun tata bahasa mereka tidak sama
“bulan September sekitar tanggal 16,”
“di sini kah kita tugas nanti?”
“surat tugasku sebenarnnya di Ladang Ujung 1,”  
“Wah tempatku lah itu, bila kita pindah singgah-singgah pi Rumah ya Pa”
“Insya Allah.”
            Dari atas bukit terdengar suara lembut memanggil, galebaya yang panjang perlahan menghilang diujung titik pandangku terhalang bukit yang tidak seberapa tinggi. Aku anggap itu hanya perkenalan biasa perkenalan yang nantinnya biasa saja, dulu sewaktu di kampungku sempat datang orang-orang bergalebaya mereka mengetuki rumah dan mengajak para lelaki pergi ke Masjid untuk shalat berjamaah di masjid, setelah itu pergi ke kampung lainnya, begitu terus pekerjaan mereka, aku tidak pernah tahu sampai kapan mereka akan berhenti terkadang mereka menghilang atau digosipkan sebagai teroris itu sudah biasa, bagaimana dengan diriku akupun terbawa emosi, emosi dari televisi bagaimana terjadi bom-bom atas nama jihad, rudal pecah menghantam bumi menyaksikan mayat berserakan, tidak hanya itu seolah galebaya adalah bentuk perlawanan dari mereka entah siapa melawan siapa. Begitupun mungkin si haji, setelah besok menutup mata semuannya akan hilang entah nanti waktu akan mempertemukan kita kembali atau tidak.
***
Matahari mulai melambat turun, gelas kopi sudah terasa dingin dan hambar tetapi demi sebuah kenikmatan aku coba teguk agar kantuk tidak coba menyusul.
                Dua bulan setelah kejadian itu aku mulai menempati ladang sesuai surat tugas yang aku terima Ujung 1, aku di tempatkan bersama pekerja lainnya namun berbeda Negara yang ku tahu hanya aku yang berbeda Negara di blok ini. Suara mesin pengeruk tanah terus meraung sepanjang hari mengangkat kerikil dan meratakan bebatuan, begitupun dengan bangunan ini sepertinya belum lama berdiri, beberapa bangunan di sampingku terlihat belum berpenghuni.
Pada tempat ini aku tidak perlu lupa memadamkan listrik, menyalakan air karena dengan sendirinya akan padam, mereka menempatkanku di blok c 1, tepat pinggir jalan, kala matahari sedang asik menari di puncak ubun-ubunku di sanalah debu menggulung membentuk awan bersama truck-truck pengangkut kelapa sawit, setiap pagi aku dapat mendengar suara riuh kendaraan lebih ramai dari jam-jam biasanya mereka pergi meng-antri untuk mengambil absen dengan di barengi suara ringkihan bel yang begitu keras aku tidak perlu memasang alarm pada ponselku, di mana si haji akupun belum lagi melihatnya tempat ini luas bahkan lebih luas dari kampungku, kehidupan di sini seperti kembali membuka buku usang tentang sejarah buruh negeri ku, atau Max Hevelaar tentang Banten, rumah dipetak-petakan seperti camp-camp sesuai jabatan serta jenis pekerjaannya, aku cukup kagum dengan sistem yang mereka buat tidak ada warga Negara asing selain warga negaraku, dan tidak ada warga Negara asing yang menjabat di kantor-kantor dengan jabatan tinggi termasuk orang-orang negaraku berapapun lamannya. Kurang lebih itulah yang kutulis pada surat elektronik yang kutuju untuk kawanku di pulau jawa.
Matahari akan segera turun sudah lama aku tidak pergi ke Masjid, siapa tahu si haji ada di masjid, segera ku engkol motor pembagian dari pemerintah yang ku pinjam dari guru lain karena di sini belum mendapatkan jatah setidaknya untuk beberapa hari saja sebelum benar-benar sendiri, tumpukan batu koral yang menggelepar di jalan debu-debu beterbangan ku tembus dengan jarak yang tidak begitu jauh, sampai jarak pandangku yang menciut hanya pucuk-pucuk kelapa sawit yang terlihat.
Lori-lori berbaris rapih sesuai papan aturan yang di buat perusahaan begitupun mobil-mobil besar di setiap pojok jalan selalu ada peringatan mengenai keselamatan kerja. Cat hijau dengan hiasan lampu kerlap-kerlip di sekelilingnya, juga hiasan bunga kertas warna-warni, tepat di sebelah kiri pintu masjid terdapat bunga mawar yang sedang mekar, bukan hanya sekuntum tetapi cukup banyak dan wangi, belum juga terlihat si haji, tidak banyak orang yang kukenal di sini hanya si haji dan mandor kebun, yang waktu itu datang ke rumah sekolang diladang Ujung 3 meminta ijajah paket A untuk anaknya karena akan melanjutkan sekolah di Makasar. Setelah usai berdzikir ada suara halus menyapaku dari ujung syaf sebelah kiri.
“cegu,,eh guru, bila pindah?”
Ternyata si haji dengan galebayanya yang berwarna terang “ia haji, baru seminggu lalu,”
“kenapa tidak main pigi rumah?” tangannya segera menadarat di bahuku, sepertinya kami telah kenal lama namun entah pada waktu yang sebelah mana
“mana ku tahu di mana rumahmu ji,” aku menjawabnya sambil melemparkan senyum
jom, main lah ke rumah sekarang.”bersama dengan itu si haji menuntunku menuju rumahnya dengan kendaraan masing-masing.
Malam itu aku menaiki bukit, posisinya sedikit lebih tinggi dari masjid, lampu remang-remang menghiasi setiap rumah, serta deretan anak muda berkumpul menggerumini lokasi signal berada seperti semut menggerumuti gula merah, beberapa dari mereka adalah muridku. Sekali kutannyakan pada mereka apa yang kalian lakukan di situ bermain game online dan selebihnnya tidak ada. 
Mereka begitu lugu untuk anak seusianya, seperti mengenal tekhnologi padahal hanya itu-itu saja yang mereka tahu, game online, dan hampir semua media sosial mereka punya terkadang aku terheran-heran apa yang mereka nikmati dari media sosial jika mereka upload foto, landscap di sisni hanya rimbun pohon sawit, atau mereka akan bertingkah seperti anak muda didalam tv ataupun media sosial yang mereka baca, kebut-kebutan pacaran hingga miras.
Malam terus mengguras waktu, bintang yang banyak menghiasi langit Borneo, tiba sudah aku di rumah si haji, rumah dengan taman yang indah banyak bunga dan terawat dengan baik, berpagar rantai dari kaleng-kaleng bekas yang ia gunting hingga menjadi satu kesatuan indah dengan warna terang menyala, design rumah yang sama, dengan satu ruang tamu dan dua kamar tidur, di dinding terdapat piagam penghargaan yang menggantung dengan rapih dan pigura berwarna keemasaan, sedangkan di bilik pintu terdapat pamflet hak-hak pegawai yang terurai dalam selembar kertas aku tidak sempat membacanya dan kurang pahan dengan bahasa mereka. Dari dapur aku mencium wangi masakan, tak lama ada seorang perempuan yang menghantarkan beberapa pisang goreng dan segelas besar teh manis dengan aroma melati, kehadapan kami aku yakin itu istri si haji,
“jadi kalian hanya berdua ji?” aku coba membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan, rumah ini begitu sepi hanya ada riuh kipas, dan daun-daun yang saling bersinggungan kemudian mengeluarkan suara yang harmoni
“ya pak guru ayo tray…tray pisang gorengnya”
“ia..ia ji”
“jadi kita di sini mengajar budak-budak, atau?”
“tidak ji saya mengajar anak-anak yang sudah cukup besar, setingkat SMP kalau di Negara kita, haji asal dari mana?”
“Kalau asal dari Bulukumba pa, sama-sama dengan Istri, sudah hampir 30 tahun aku di sini bersama istri, di sini sudah serasa kampong sendiri,”
“Tidak rindukah haji dengan tanah kelahiran? haha” tawaku menyelangi pembicaraan agar terlihat tidak sedang mewawancari sambil setegap mungkin ku angkat pisang goreng suguhan istri si haji
“jika ditanya begitu susah aku menjawab pa, rindu sekali tapi ya mau bagaimana lagi rencana memang tahun ini kami pulang karena anak ku mau mendaftar sekolah ke SMA, aku pun bingung yang perempuan ingin jadi dokter, maka dari itu aku harus pulang memilihkan sekolah untuk mereka sekarang dia di pesantren modern, yang laki-laki juga sama tapi sedikit berbeda dalam pergaulannya, beda memang anak lelaki dan perempuan, itulah pak kenapa ajak kita ke sini sekali minta saran juga”
“kalau memang mau menjadi dokter selain pintar haji juga harus menyiapkan uang dari sekarang haji tahukan bagaimana Negara kita?”
“itulah yang kupikirkan rencana biar dia sekolah di SMA ku dulu pernah sekolah, sambil aku menyiapkan bekal untuk masuk kedokteran, ia ya pak kenapa di Negara kita apa-apa berbayar padahal di sini tidak.”
Pandanganku dengan sengaja menangkap ke pojok sebelah kanan, nampak siaran televisi yang sedang di gandrungi oleh para ibu juga anak muda jaman sekarang ceritannya tentang para pemuda dengan motor besarnnya yang melihatkan pertarungan-pertarungan di jalan-jalan, sesekali istri sihaji merangsek ke depan tv untuk memindahkan siaran televisi menggantinya dengan film dari Negara lain kisah-kisah lama yang dibalut dengan nuansa modern hampir tidak ada yang menarik menurutku, oleh para guru seperti aku tontonan yang sia-sia. Sengaja aku alihkan mataku pada tv untuk menghindari perkara politik yang panjang jika harus kujelaskan. Dalam benakku mampukah si haji menyekolahkan anaknya dengan profesi pengait buah kelapa sawit, akh itu hanya kekhawatiran tidak beralasan. Sepertinnya aku Nampak bodoh telah mengganggap mereka tidak berpendidikan buktinnya si haji bilang ia pernah sekolah SMA, tapi tidak heran memang kalau mereka memilih untuk merantau dan mendulang uang di negeri tetangga, menyabit dan memungut biji sawit di sini sama dengan upah buruh pabrik pulau jawa dengan gelar sarjana, itupun harus sesering mungkin Demo.
Suara adzan sudah mulai terdengar, lambat-laun merambat dari bawah hingga ke Atas, suara adzan yang terdengar jelas dari rumah si haji, tetapi tidak dengan rumahku entah kenapa mungkin terhalang pohon sawit yang tinggi.
Setelah beberapa hari ini aku mengenal sosok si haji aku mulai tahu betapa hidup semakin rumit meninggalkan anak jauh dari orang tua itu bukan pilihan yang bagus tapi bagaimana lagi demi pendidikan yang layak demi cita-cita mereka, sepi menjadi teman dikamar-kamar rumah, tidak ada keluguan seorang anak yang menannyakan PR selepas pulang sekolah. Ketika aku Tanya mengenai gelar hajinnya rupannya dia tidak berangkat haji melalui jalur Negara yang resmi, karena terlalu lama jika jalur Negara bisa menunggu 5 sampai 6 tahun, jemaah haji di negaraku setiap tahun memang membeludak jadi mengaturnnya dengan sedemikian rupa, dia menggunakan jalur illegal bahkan ia menunjukan paspor dengan bendera Negara lain tentunnya dengan harga 3 kali lebih mahal dan 3 kali lebih cepat.
“Lantas bagaimana kau menjawab pertannyaan pegawai imigrasi ji”
“Aku hanya diam saja karena memang begitu menurut perintah heheh”
Begitu ku tahu bagaimana si haji mendapatkan gelarnnya, aku rasa tidak hanya di negaraku mafia-mafia pembuat dokumen asli tapi untuk orang palsu seandainya si haji tahu ini bukan perkala sepele, pantas saja penjahat seperti Edi Tansil dapat mudah kabur setelah habis menguras banyak uang negaraku.
 Selanjutnnya aku manghabiskan waktu pada bilik yang kokoh siang dan malam hingga tiba pada penghujung hari malam minggu, malam yang biasannya dihabiskan oleh para muda-mudi untuk bercengkrama dengan kekasihnnya atau sekedar mengajak pasanggannya melihat bulan dihalaman rumah. Tapi sekedar bercerita ini adalah malam yang paling malas kulalui setelah aku berada di sini, nyala lampu biasannya lebih lama dua jam dari biasannya mungkin itu untuk mempersilahkan para buruh menikmati televisi ataupun memutar lagu sesuka mereka dari speker-speker kepunnyaannya, tetapi selalu ada saja yang menjadi korban jaman seperti pada malam itu para pemuda sudah siap berkumpul dengan gitar dan suara yang sudah mereka stel dari awal hari berkumpul tepat di sebelah rumahku ada juga beberapa siswaku, mereka mewakili jiwa-jiwa muda anak-anak buruh. 
Petaka datang ketika tuan tiba membawa mobil hiluxnnya dengan berkerat-kerat kaleng minuman malam semakin panjang aku terkurung di dalam biliku dalam kondisi yang tidak nyaman suara mereka semakin keras menghantam udara, sesekali terdengar suara pukulan pada dinding aku mencoba mencari tahu dalam gelap aku melihat pada jendela yang bisu, mereka memulai perkelahiannya dengan begitu gagah entah apa yang memicu mereka tidak ada yang mau meredam mungkin pikiranku sama dengan warga lainnya itu ulah mereka, si tuan dengan lantangnya berteriak sambil badannya yang sempuyungan karena berkerat-kerat miras masuk memenuhi lambungnnya, mengalir deras dalam darahnnya memicu otak yang tidak stabil, semuannya ketakutan begitupun para siswaku dengan ancaman seorang tuan tangannya mengacung tepat ke arah langit sepertinnya ia ingin berkata seperti raja ramses II, kepada rakyatnnya di sini aku penguasa bahkan Tuhanpun tidak berkutik.
Walaupun aku tahu jabatannya tidak setinggi yang ku kira ia hanya asisten menager entah no berapa tetapi itu cukup membuat takut para siswaku ataupun pekerja lainnya, di sini jika seseorang telah di pertuankan maka buruh di bawahnnya siap menghambakan diri, si tuan akan berjalan dengan kepala menengadah ke langit. Hal ini pernah kuceritakan pada si haji dan si haji hanya tersenyum seperti tidak bisa apa-apa. Aku pernah melihat sihaji begitu tertunduk melihat si tuan yang pemabuk, aku hanya berkesimpulan mereka menghormati betul Tuan, bagiku Tuan siapapun mereka setinggi apapun mereka sekolah, jika tidak mengenal toleransi sama saja seperti sampah bahkan lebih rendah dari itu, itulah yang membuatku mengangkat dagu jika bertemu dengannya aku ingin menunjukan pada mereka hormat dibalas dengan hormat.
***
  Sudah beberapa minggu aku di sini kini sudah tidak ada lagi motor untuk pergi ke masjid, ah biar aku menikmati ibadahku yang sunyi di rumah ini. Tapi sore itu ada dercit rem sepeda motor terpakir di halaman rumah, ku kira siapa ternyata si haji. Dia sengaja menjemputku jauh-jauh karena paham sudah tidak ada lagi motor dan berjalan kaki cukup gelap jika malam tiba aku harus menembus rimbunan pohon sawit hingga terkadang bulanpun tidak terlihat.
“guru mari pergi ke masjid”
“wah merepotkan jadinnya saya ji” cukup berat menirima tawaran ini pada awalnnya karena aku takut membebani si haji dengan menjemputku setiap hari tapi akupun tidak mungkin berjalan pada malam hari menembus gelap, tapi ku nikmati saja.
“nda…(tidak) lah kita saudara-saudara se Agama jadi sudah sewajarnya aku menyempatkan untuk menjemput guru di sini lumayan jauh dan gelap jika guru harus berjalan kaki ke masjid”
Semenjak itu setiap sore aku selalu menunggu si haji menjemput, walaupun terkadang ia sibuk membuatku menunggu terlalu lama di depan pintu setiap sore pula aku mencium galebayannya wangi dan rapih pertanda seorang istri yang berbakti. Aku menatap kearah bunga-bunga yang tersiram air hujan, tepat di halaman masjid aku tidak bisa segera pulang karena hujan cukup lebat begitupun dengan yang lainnya walaupun ada beberapa orang yang menembus butiran air yang turun sebesar lubang jarum, aku dan si haji memutuskan untuk berteduh karena jarak yang cukup jauh, malam yang cukup dingin
“ji kemana mereka malam-malam begini, hujan pula” tatapanku menagkap dua orang yang tidak begitu jelas melintas di depanku dengan menggunakan jas hujan dan sepatu boot
“Oh..mereka pergi menjaga blok-blok sawit, terkadang kerbau”
“semalam ini ji”
“ia… mereka yang bekerja seperti itu sebenarnnya orang tua yang sudah tidak lagi dalam usia kerja, namun mereka bingung pulangpun ke mana? semua keluarga mereka di sini anak, cucu bahkan cicit, tidak sedikit yang seperti itu, akhirnnya demi bertahan hidup mereka harus mencari pekerjaan lain dan biasannya Tuan memberikan tugas sebagai sekuriti dengan bayaran harian jika mereka ingin mendapatkan uang berarti harus berangkat mau hujan badai sekalipun."
Terkadang aku heran kenapa mereka tidak ingin pulang, apakah mereka tidak ingin merasakan kemerdekaan bangsannya, menghirup udara sesukannya, memakai listrik semaunnya, menggunakan air sepuasnnya selagi masih tersedia dan Negara merdeka. Mungkin di sini 80% orang-orang negaraku meraka merantau sudah bukan lagi dalam belasan tahun sudah berpuluh-puluh tahun bahkan sekitar tahun 70an banyak dari mereka yang memilih menjadi warganegara setempat, bahkan si haji pernah bilang dia hanya mengenal 1 presiden ya itu presiden Soeharto, karena hanya dia yang pernah ku pilih saat pemilu di negeriku selebihnnya pemilu di negeri orang yang ia anggap bukan pemilu karena tidak pernah aku mengenal mereka seperti presiden yang ku pulih dulu. Aku pernah bertemu dengan pekerja asal philipina, dan mencoba mencari tahu asal-usul mereka ternyata istrinnya orang jawa tapi sekalipun belum pernah menginjakan kaki di pulau jawa.
“lantas bagaimana denganmu ji, apakah akan sampai tua di sini”
“aku tidak tahu pak haha lihat saja nanti, sebenarnnya akupun sudah mulai lelah dan berpikir untuk pulang namun masih bingung apa yang harus ku perbuat di sana, semua orang di sini ingin kembali tapi apa jadinnya jika kembali kami kelaparan, sedangkan kemampuanku hanya menyabit dan berkebun, lantas jika umurku sudah tua tenagaku berkurang apa yang harus ku perbuat, aku pun sedang mencari tahu bagaimana aku bisa bertani di negaraku banyak teman-temanku yang kembali dan mereka pergi ke Kalimantan mengolah tanah Negara dan tidak sedikit juga yang memilih kembali ke sini karena masalah dengan warga sekitar yang biasannya tidak mau terkalahkan mungkin guru tahu atau mau memberi solusi”
“Pengalaman saya belum banyak ji, mungkin yang haji maksud tadi program transmigrasi kalau masalah transmigrasi biasannya Bapennas membuka program tersebut”
Malam itu hujan cukup lambat berhenti, kami memaksa menembus barisan air yang datang dari langit karena masjid sudah kosong, sihaji harus mengantarku dengan jarak dua kali lipat lebih jauh karena arah rumahku yang berlawanan dengan rumahnnya.
Pagi hanya kuhabiskan membias begitu saja tanpa kesibukan penting sesekali menatap laptop kosong tanpa ada listrik atau menulis agenda kerja sore nanti pukul tiga aku bergegas menemui siswaku yang terkadang terlambat. Aku juga sempat menceritakan ini pada sahabatku di jawa dia tertawa aku menceritakan siswaku yang tinggi besar lebih besar dariku melalui surat elektronik dengan signal yang harus kucari dibeberapa titik yang kutandai, sekolah dengan taman yang terawat dan cat penuh gambar-gambar lucu, selalu menyambutku setiap sore menunggu siswa datang bukan tidak mau aku mengajar pagi tetapi mereka harus bekerja, dan istirahat sejenak setelah bekerja. Bersyukur masih ada yang datang ke sekolah selepas bekerja, terkadang jika hujan merayu untuk turun satupun tidak datang, siswaku bukan lagi anak-anak bau kencur secara umur mereka sudah dewasa tetapi secara pengetahuan mereka seadannya, biasannya mereka mengikuti jejak orang tua atau sengaja dibawa orang tua karena khawatir dengan pergaulan anak-anaknnya di kampung selebihnnya mereka lahir di sini tidak ada surat-surat yang menjelaskan kapan mereka tapatnnya lahir hanya ingatan orang tua dan pohon kelapa yang di tanam di halaman rumah bertepatan dengan ia lahir.
***
                Matahari sudah melampaui batas langit sudah Nampak gelap sepertinnya si haji hari ini tidak menjemputku pergi ke masjid biarlah aku solat di rumah saja sambil menikmati lampu yang sudah menyala melihat beberpa video di laptop yang sudah lama tertunda, atau sekedar membuka beberapa buku elektronik dilaptopku, jam tangan sudah menunjukan puku 07’30pm aku coba merebahkan badan pada ranjang tanpa kasur yang empuk dan nyaman namun dari seberang jalan aku mendengar suara motor yang sepertinnya si haji, sampai hafal betul dengan bunyi rem dan suara deru motornnya, beberapa detik kemudian wewangian pekat menonjok hidung, itu dari galebayannya si haji aku segera beranjak mengambil sarung dan songkok lantas berdiri di depan pintu.
                “maaf pa, hari ini aku tidak menjemput kita pi masjid untuk solat magrib, ada urusan diluar”
“urusan apa kalau saya boleh tahu” si haji memang sepertinnya manusia yang diciptakan pengganti mesin-mesin tidak ada habisnnya bekerja
“biasa pa saya masuh member di MLM produk Klinik, jadi biasannya beberapa minggu sekali kami ada pertemuan bapak tahu produk tersebut siapa tahu mau masuk atau jadi member”
“ah tidak ji di Negara kita sudah terlalu banyak produk MLM masuk akupun masih belum tahu bagaimana prosesnnya lebih baik menjadi guru dulu”
                Suara adzan yang terdengar mendekat, ke arah kami membuat si haji sedikit tergesa-gesa karena belum melaksanakan salat sunah.
“guru main dulu ke rumah kita”
“boleh ji”  tawaran yang selalu ku tunggu, aku pastikan malam ini aku akan makan malam dengan nikmat walaupun tidak selalu tetapi setidaknnya teh manis dengan pisang goreng selalu ada terhidang
Seperti biasa aku langsung duduk bersila menghadap televisi melihat istri si haji yang sedang asik menonton sinetron kesukaannya.
“pa guru suka film ini,” tiba-tiba istrinnya menoleh dan bertannya karena sadar akan kedatanganku
“tidak begitu macik” film-film seperti inilah yang menghilangkan norma-norma sosial menurunkan batas-batas kesopanan dan menginjak-injak nama baik sekolah karena sekolah hanya menjadi tempat bertukar gaya juga memerkan harta dan paha, sial.
“wah kenapa padahal film ini bagus sesekali ada peran remajannya, sesekali ada dakwahnnya ada ustadnnya juga muncul”
Kujelaskanpun percuma karena kita berangkat dari pola pikir yang berbeda, sinetron yang ditonton saat itu bagiku sangat tidak mendidik anak-anak muda bangsaku mereka lebih mengenal percintaan ketimbang buku-buku, menunjukan gaya borjuisme dari setiap lakon yang membuat patokann keberhasilan yang bergeser pada materi, terkadang aku melihat senyum polos mereka saat menonton sinetron yang menjadi primadona di sini tersenyum seolah tidak mengerti apa-apa wajar saja mereka jarang membaca Koran ataupun media sosial bahkan berita sore. Mungkin semua guru akan berpikiran sama tentang itu karena mereka paham bagaimana kelakuan siswannya anak-anak dari ibu-ibu yang gembira menonton sinetron dan anak-anak mempraktekan apa yang ia tonton dimana lagi jika bukan di sekolah karena hari-hari mereka di sekolah. Sekolah manapun itu. Aku melihat kesederhanaan berpikir yang mereka bawa cerita yang mudah tertebak saja masih menjadi yang dinanti-nanti ah.
“guru kenapa kita tidak mengajar budak-budak padahal banyak disini budak-budak yang besar dan belum bisa membaca, tu seperti jiran kami sudah punya anak masih belum bisa membaca”
“bukan tidak mau guru ini kan tugasnnya di SMP, nanti kalau tidak sesuai tugas terkena masalah juga ya..kan guru” si haji menimpali pertannyaan istrinnya sepertinnya ia berusaha memahami ku
“iya lah”jawab istrinnya
“Nantilah haji aku pikir ulang itu akupun jenuh setiap pagi hanya diam di kamar, tapi sudah berkoar-koar untuk mengajak anaknnya ke sekolah tidak ada juga yang datang” bukan mudah untuk mengajar mereka belajar seperti. alm ayahku pernah berpesan jangan pernah sekolah sambil mencari uang jika kamu tidak ingin terjebak.
“anak-anak disini belum pandai membaca kerja mereka hanya main seja setiap hari, bukan belajar itu di sekolah” entah mengapa ia mengatakan itu kepadaku sepertinnya mewakili perasaan semua ibu di sini atau sekedar rasa jengkel melihat keidupan yang terlampau sempit
Aku hanya melempar senyum pada mereka, terlebih menjelaskanpun tidak banyak gunannya, manusia sudah semakin pandai berbicara namun lupa dimana meltakan pikirannya, akhirnnya anak-anak menjadi imbasnnya. Aku heran dengan pemuda di sini mereka seperti tidak mengenal bangsa sendiri sering memanggil dengan panggilan Indon yang terdengar oleh telingaku sebagai penghinaan. Murid-muridku memilih kawin muda dan rela menjadi janda, berhenti sekolah bahkan tahun kemarin ada yang mendapat beasiswa melanjutkan sekolah alasannya tidak betah terus menikah, terkadang aku heran sebenarnnya manusia-manusia jaman sekarang maunnya apa? Sudah ku bilang hidup itu bukan hanya A,B,C,D dan E tetap saja ada yang bertannya bisakah saya mendapatkan ijajah dengan hanya ikut ujian seandainnya tuhan begitu baik nanti akan kupilih neraka atau surga dengan hanya menunjukan hasil ujianku, bukan prosesku.
Terlampau sulit memahami mereka terkadang aku harus memulai dari sangat dasar, jika semua ini dikategorikan kesuksesan mereka sukses mendulang uang yang banyak tapi mereka lupa uang itu untuk apa.
“ guru ini ada beberapa buku, mungkin guru mau membacannya aku tidak paham”
“wah dari mana dapat buku ini ji” sial dari mana dia punya buku-buku filsafat lagi lagi aku di bohonggi jangan-jangan selama ini si haji hanya menguji aku sebatas mana kemampuanku
“adiku dulu dikampung sempat kuliah dan mengajar bahasa si SMA tidak tahu kenapa kuliahnnya tidak dilanjutkan”
“terimakasih ji saya coba baca, bacaan yang cukup berat” jika begini bacaannya aku kira wajar adikmu berhenti kuliah ji karena ia tidak menemukan jawaban dan merasa ilmu terlalu sempit jika hanya duduk dan mendengarkan, bahkan kabarnnya salah satu mentri negaraku tidak sampai tamat Pendidikan SMA gara-gara membaca buku-buku seperti ini
“itulah saya tidak mengerti guru”
                Malam semakin larut, dengan nada malu aku meminta si haji mengantarkanku tapi ia memintaku menunggu satu iklan hingga ada iklan di TV, lampu yang redup dari motor si haji menerobos rimbunan kelapa sawit gelap tidak terlihat bulan ada dimana, langit-langit hanya beratap pohon-pohon sawit, setelah itu padang luas disebelah kiri jalan dan bunyi jenset yang menderu sepanjang hari, kurasa ini yang membuat bunyi adzan tidak sampai di rumahku karena memecah gelombang suara. Sebentar lagi lampu padam mataku lelah tapi otaku masih terus berpikir apa yang harus ku perbuat besok.
***
                Sore adalah jam yang sangat kutunggu terkadang aku tidak ingin melewetkan itu, tetapi mereka mungkin lelah karena harus bekerja sabanhari dan istirahat selebihnnya kebablasan lupa ada sore dan belajar.
Melihat mereka dengan garis wajah yang keras tangan-tangan yang kasar belum tentu aku bisa melakukan apa yang mereka perbuat ketika aku seumuran mereka yang ku ingat hanya petak umpet, ataupun berenang di kali selebihnnya seragam dan buku-buku yang harus ku pikul setiap hari mungkin itu yang membuatku tidak tinggi hingga saat ini berkilo-kilo membebani pundaku, setelah ini apakah yang mereka pikirkan aku pernah mewanti-wanti pada mereka agar tidak berharap banyak pada sekolah, karena sekolah tidak akan memberikan banyak uang tetapi jika ingin nyaman dan bertahan hidup sekolah bisa membatu, asalkan kita bersungguh-sungguh.
Sempat ada pertanyaan yang membuatku merenung. Pa kirannya setelah ini jika kita orang tidak balik kampung bagaimana melanjutkan sekolah di sini?. Mereka adalah manusia-manusia yang lugu lupa dengan kampungnnya terlebih lagi budaya mereka.
                Sudah lama aku tidak berbaring bersama rumput-rumput yang harum disiram embun, mungkin minggu-minggu besok aku akan mengajak beberapa siswaku pergi sekedar menghabiskan malam bersama mereka, ketimbang harus teriak-teriak mabuk tidak karuan semoga saja mereka mau mengantarku dan menemani semalaman.
Pada bilik berukuran tiga meter kali tiga meter tempat di mana aku berbaring dan mengeluh banyak hal, berbicara sendiri pada foto istriku atau sekedar menciumi dia melalui foto sambil menunggu si haji datang, serta menghitung tumpukan kertas yang berserakan tidak pernah rapih, sambil mendengar mitos mitos tua, mereka yang ketakutan sehabis kerja di ladang, atau sekedar menakut-nakuti bocah-bocah yang sering pergi ke Blok-block sawit yang seharusnnya tidak boleh, di jiran ini tidak sehebat yang terbayangkan di sini merupakan lumbung emas para pendulang harta yang akan kembali menghabiskannya di pulau sebelah, hutan-hutan telah berubah menjadi kebun-kebun binatang-binatang sudah pindah ke kandang-kandang pohon-pohon besar tergelapar kering setelah ditumbang.
                Sepertinnya waktu yang pas untuk memanjakan diri pergi mencari signal dan bermesraan dengan keluarga di kampung, manaiki bukit yang tidak begitu tinggi namun cukup curam karena banyaknnya batu-batu kerikir tajam sepanjang mata memandang, aku segera mengawasi setiap lokasi mecari, batu yang kutandai sebagai lokasi signal terkadang di tempat ini banyak orang tapi beruntung sore ini tidak begitu, bukit yang terjal dengan banyak lubang menganga anak-anak bilang lubang-lubang itu bekas pengeboman batu yang terus di tinggal begti saja, dasar manusia-manusia licik.
Pesan yang ku tunggu dari istri tercinta ternyata tidak begitu banyak namun ada email masuk itu dari temanku, kawan jangan terlalu mengkotak-kotakan kehiduapan manusia di sana, nanti kita sendiri yang repot, email yang singkat sepertinnya dia hanya memicuku untuk membalasnnya biasannya begitulah rindu seorang teman yang kami habiskan pada gelas-gelas kopi warung remang-remang ketika kita sedang bersama terlebih lagi cuaca Bandung yang dingin dan selalu memaksa orang meminum kopi dari gelas yang masih panas seperti terakhir kali kita bertemu di pinggir jalan biasannya orang-orang menyebutnnya dengan saritem malam sebelum aku berangkat menuju jiran kami menatapi lelaki yang hilir mudik keluar masuk gang sudah jarang paha ataupun bokong sexsy melintas tetapi memang bukan itu maksud kami biasannya kehidupan lebih nyata di sini orang-orang dengan sengaja datang sebagai manusia untuk menjadi binatang-binatang dan mereka tidak malu mengakuinnya mungkin itu kejujuran selalu ada pojok yang sepi di tempat-tempat seperti ini.
Kami akan terus membual sepanjang malam sampai-sampai sudah puluhan lelaki cantik yang datang bernyanyi terkadang kami lupa ah nostalgia memang selalu indah.
 “sial hidup manusia memang sudah terkotak-kotakan mana si kaya mana si miskin bahkan sejak kamu dilahirkan dan dapat melihat, persetan persamaan itu semua hanya garis-garis ideology yang manusia buat untuk menjadi daya tarik, kalau bukan lawan jenis masyarakat yang berbeda jenis, toh Tuhanpun telah membuat kotak-kotak sendiri dengan membuat neraka dan surga kita semua tahu itukan. Send,\\”
 ah sudah cukup, lebih baik aku segera turun bukit matahari sudah terbenan, kurasa sebentar lagi si haji datang menjemput aku harus segera menyiapkan sarung dan songkok supaya si haji tidak menunggu.
***
                Si haji sedang apa ya? Apa dia balik ke negeri Jiran atau sudah memutuskan untuk berdagang di kampungnya, kepala ku menegadah melihat langit Bandung yang gelap kecuali jalan-jalan yang kini selalu sibuk macet juga manusia-manusia dengan aktivitasnya.
“kopi kang?” tiba-tiba suara lembut menggugah ku dari lamunan
“boleh boleh kopi hideungnya, bala-bala we kana wadah,”
“siap,” dengan cekatan si amang tukang kopi membuatkanku kopi dan menyiapkan beberapa gorengan di wadah-wadah kecil sesekali aku terus mengunyah sambil menunggu temanku datang kami membuat janji untuk bertemu di sini kelak jika aku pulang dari jiran dan menceritakan semuannya.
                Jarum jam terus memacu lajunnya tanpa pernah meminta untuk dilirik, kota ini begitu dingin terlebih terminal ini, setiap hari dingin walaupun semua orang berteriak dengan darah yang menggolak karena berebut penumpang tetapi tetap saja sejuk terdengar, malam memaksaku untuk menghangatkan tubuh segera kukenakan jaket yang memang sudah kusediakan, jaket sudah kebutuhan primer, wajib dimiliki warga Bandung karena jika malam tiba cuaca akan begitu dingin, apakah temanku lupa kita pernah membuat janji dan akan bertemu di sini sudah berjam-jan aku menunggu mungkin akan ku coba untuk menghubunginnya, ah aku lupa semua nomor terhapus saat mengganti sim card di handphone, tapi coba ku kirim via email siapa tahu langsung di jawab.
        Kopi sudah terasa hambar terlebih lagi tatapan si mamang kopi yang sudah lebih sering melirikku karena sudah tidak ada lagi yang dapat kubeli, sial kemana ni orang tidak juga kunjung datang coba si haji pasti tidak akan lupa dengan janjinnya apalagi ngaret begini bisa-bisa dimarahi Tuhan kalo dia terlambat, ah haji-haji sedang apa rupannya kau di sana aku sudah lama tidak mencium galebaya dengan wangi yang begitu menonjok di hadapanku, tidak lagi melihat lugunnya pembicaraanmu dengan istrimu mengenai anak muda yang bercinta, disini kesibukan telah merenggut sebagian keharmonisan dirinnya dengan sang pencipta terkadang mereka lupa mana itu kewajiban mana itu kemunafikan, mungkin jika mereka melihat mu ji tatapannya akan begitu mencolok dengan celanamu yang cingkrang saja biasnnya sudah terlampau membuat orang mendeskreditkanmu tapi kau tetap saja berjalan dengan teguh seperti katamu aku harus menjalaninnya tanpa banyak bertannya karena aku yakin itu semua bermanfaat, seperti kau yang sangat memuliakan teman seagamamu.  
        Setidaknya menjadi berbeda itu sulit ya ji bagaimana dengan anakmu yang mau menjadi dokter bagaimana dengan uangmu sudah kau siapkan untuk menyokong anakmu yang ingin menjadi dokter, ah sayangnya aku tidak sempat meminta no hp mu sebelum kau pulang kau terlampau tergesa-gesa saat itu yang kau tinggalkan hanya wanginnya galebayamu, serta punggungmu yang ku pandangi lebih lama.
“treeeet….treeetttt…..”sepertinnya dari temanku
“ hallo….Assalamualaikum,”
“Wah…. Maaf, maaf bro aku lupa besok saja kita bertemu sory…sory.”
“ok ia…ia.” hah sepertinya di sini semua orang terlampau sibuk, biarlah aku pulang saja coba kau ada ji mungkin aku sedang bersamamu memakan pisang gorang buatan istrimu.

Bandung 2017
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "SI HAJI"