CERPEN:WAKTU
WAKTU
Sebaiknya
kita menepi saja nampaknya hujan semakin deras, kita tidak boleh pulang dalam
keadaan basah kuyup, pegang baik-baik belanjaan kita. Sambil menunggu hujan
reda, buka saja makanan yang bisa kau makan, sepertinnya hujan akan cukup lama
reda, akupun harus pergi jaga mereka dengan baik.
------------
Mataku
kosong menatap gelap dengan landscape masa lalu yang hangat, diluar sana rintik
hujan mulai dapat ku hitung jatuhnya. aku mulai beranjak dari ranjang meraih
gelas minum untuk melepas haus, yang sebenarnya bukan perasaan haus namun harus
ku isi dengan air. Jantung yang lebih cepat memompa darah menuju otak, membuat
nafas berlipat tak beraturan, bagiku ini bukan hanya sekedar mimpi melainkan
diorama sejarah yang Tuhan titipkan dalam otak, malam memintaku untuk melamun
memandangi langit-langit gelap, mengingat masa-masa indah bersama Ayah. Malam
masih gagah memeluk dengan gelapnya, tiga tahun semenjak kepergianmu bersama
pesan, serta teka-teki Tuhan, semenjak itulah hidup menjadi lebih dekat dengan
maut, tidur menjadi kegiatan menunggu waktu, kutitipkan rindu serta lelah yang
amat dalam.
Dret….dret….dret….klik
ya bu,
sepertinya sang waktu, telah menuntunku pada
jurang keputusasaan ketika cita-cita, patriotisme, agama menagihku dengan
tanggung jawab, sedangkan setiap harinnya aku harus mengisi rintih perut yang
meminta segumpal nasi, ada apa ini? perasaan ini kembali muncul seperti kecamuk
kecil dalam dada meronta meminta dilepaskan, siap menunggu meledak memenuhi
paru-paru hingga turun menuju usus besar.
“Kapan
pulang A, adikmu sudah sering menanyakanmu ia dapat peringkat dua di sekolah,”
“ia
bu, secepatnya.”
Rindu yang terbuat dari tumpukan waktu kemudian
berhenti pada pundak menjalar hingga puncak ubun-ubun, namun ini beda, ya beda
tidak seperti itu rindu telah menjadi sarang ketakutan terbawa bersama tanggung
jawab yang belum terpenuhi, ketika sang pemilik waktu dengan lembut memanggil
ayahku, setelah berbulan-bulan menahan pahit bukan pada lidah tapi terasa menjadi
dalam jiwa. setelah percakapan singkat itu pagi begitu berat tubuh merspon
dengan cepat, lelah yang tak terduga datang bersama ujung percakapan, ada apa
dengan semua ini, teriak tidak cukup menggantikan semuannya jika semua perasaan
ini datang aku bingung untuk memulai, hentakan kaki tidak cukup baik untuk
berjalan, diskusi pada hati yang sama saja membisu.
Setiap
paginya aku berjalan melintasi gang kecil menuju tempat dimana semua harapan
sirna bagiku, bukan ini yang kumaksud dalam hidup persetan dengan semua orang
yang senang menjalaninnya aku terpaksa, jujur aku terpaksa, bagaimana tidak sebelum
semua ini terjadi, aku ingin menjadi orang bebas menikmati hidup berada di
tempat berbeda setiap waktunya, berkarya menikmati lagu memuji keindahan,
bertemu banyak orang baru, berpetualang, setelah bertahun-tahun semenjak aku
mengenal seragam terpenjara dalam ilmu yang disamakan tanpa melihat kemampuan
yang berbeda, kebebasan yang hingga kini entah di mana padahal waktu itu ayah
berjajanji aku bebas memilih hidup dengan bekal ilmu yang pernah kudapat. Mulut
teramat bisu untuk mengucap dan berontak, kini kebebasan hanya mimpi teramat
rapih, sepertinya waktu memaksaku bermetamorfosis seperti halnya manusia
normal, lahir, sekolah, bekerja, menikah, mati.
“ada
apa Drun hari ini nampaknya semangatmu mengendur?”
pertanyaan berdasarkan standar operasional pertemanan,
ketika melihat mimik muka temannya berbeda, namun setelah itu hanya oh dan ah
yang muncul sebagai jawabannya sebenarnya malas kujawab tapi, setidaknya harus
kujawab agar manusiawi.
“Mungkin
hanya perasaanmu wan, setiap hari memang seperti ini berkas yang numpuk membuat
semua orang akan cemberut he,” seperti itulah kamuplase yang kubuat dalam
hidupku untuk bertahan, toh sejelas apapun ku jelas kan hidup tidak akan berubah
secepat itu, bagiku tidak ada solusi yang hadir dari orang lain karena setiap
permasalahan dibuat dan terbuat oleh sendiri secara individu sisannya hanya
statisik tingkat kemiripan pada beberapa waktu yang berbeda.
“drun dari pada loyo meloyo siang
nanti kita makan di kantin soto!”
“ada
apa rupannya wan kau menang togel, jarang-jarang mengajaku makan traktiran
kayaknya sore ini bakal ada hujan es hahaha,”
terkadang pemilik waktu kurasa tebang pilih
dalam memberi, Iwan yang senang berjudi masih saja diberi nyawa, menang lagi
sial. setiap harinya Iwan menghitung awan, kertas, nomor sepatu kemudian dicatatkan
dan dikali dibagi aku tidak pernah ingin tahu bagaimana cara menghitung angka
yang ku anggap perbuatan judi tadi, Iwanpun tak pernah berusaha menjelaskan
atau mengajaku memasang togel. Bagaimana
jika ini ku anggap tidak adil di lain sisi aku kocar-kacir memenuhi semuannya
tapi tetap saja kosong, pada sisilain mereka tersenyum menikmati sajian bintang
lima, dengan semua seperti mudah untuk didapatkan, hidup memang selalu menjadi
kecemburuan tak bertuan.
“haha...sudah nanti ku jelaskan drun lebih baik cepat selesaikan pekerjaan mu supaya
tidak menumpuk,”
aku mencoba kembali menemui berkas-berkas yang
tertumpuk rapi pada meja kerjaku, hingga matahari bergeser dan mulai mendidihkan
otah melalui ubun-ubun tepat jam istirahat, Iwan selalu pergi lebih awal tak
pernah ada yang tahu kemana dia pergi mungkin memasang togel yang baru saja ia
hitung nanti akan coba ku Tanya mengenai ini, sambil menikmati traktiran soto
darinnya.
“wan,, aku disini,” tanganku melambai padannya
“ah, setelah berlari karena keterlambatannya menemuiku, gimana
drun sudah pesan sotonnya,”
“belum
lah kan nunggu yang traktir ngambil uang togel haha,” Iwan tidak pernah marah
jika ku singgung mengenai Togel, mungkin untuk apa marah dengan apa yang ia
lakukan.
“haha
bisa aja lu drun tahu dari mana aku menang togel?”
“Cuma
prediksi aja, jarang-jarang soalnya traktiran kaya gini”
“drun…drun
saya gak menang togel dan gak pernah pasang nomor togel, sudah pesan dulu kita
duduk tapi gak pesen nanti dikira Cuma mejeng doang,”
baru kali ini ia mengelak, mungkin ini alasan
dia mengajakku makan agar aku percaya dia tidak pernah memasang judi togel. Padahal
jelas-jelas setiap hari ia menghitung dengan perhitungan yang tak pernah ku
tahu carannya.
“lalu
kenapa setiap hari kau menghitungi awan no sepatu dan lain-lain wan?”
“oh
itu begini ceritannya drun setiap hari kan aku berangkat kerja naik metro mini
nunggu di deket pangkalan ojek, waktu itu salah satu dari tukang ojek yang
kebetulan sudah akrab karena setiap hari bertemu juga mengetahui pekerjaanku
sebagai accounting, memintaku untuk menghitung padahal sama sekali aku gak bisa
dan gak ngerti itung-itungan itu, tapi dia menjelaskan dengan seksama, kata tukang
ojek tadi karena saya sering menghitung kemungkinan hitungan saya lebih tepat,
gitu drun,”
“oh, terus bagaimana hitunganmu pernah tembus?”
“haha
sekali Cuma sekali, sisannyamah nebak juga, yang awal juga nebak sih semenjak
itu setiap paginnya para tukang ojek bergerumul minta di itungin, ya aku sih
mau-mau aja soalnya yang pernah di hitungi samaku dan menang dia berhenti
berjudi kata dia sudah cukup sekarang dia dikampung entah ngapain pensiun
judinnya hehe harapanku juga gitu drun sama tukang ojek yang lainnya tapi belum
ada lagi yang tembus ha…ha….ha, sudahlah kita makan dulu sotonnya nanti keburu
dingin.”
Ternyata
selama ini aku salah menilai Iwan, lantas ada apa dia mengajaku makan sudah lah
sebaiknya aku nikmati juga soto ini sebelum dingin, dik sedang apa kau disana
pikiranku terus menerobos waktu melintasi sekat waktu yang jauh, adiku yang
mulai beranjak dewasa dengan bimbingan ibu hanya ibu sisannya alam dan
lingkungan, tahun depan sudah berganti seragam, aku sebaiknya bangga memiliki
adik yang teramat tabah dan sabar, tidak pernah menuntut apa-apa pada kakanya,
mungkin itulah mengapa akhir-akhir ini hidup terasa begitu sempit dan waktu
teramat cepat berlalu, bagaimana tidak setelah ayah pergi aku lah yang
bertanggung jawab atas semuannya perut ibu, perut adikku sekolahnya, pakainnya
sampai aku tidak pernah berpikir bagaimana dengan hidupku, memenjarakan
langkahku untuk mereka yang tidak pernah meminta, akupun harus bertanggung
jawab atas ini semua, terlebih pada sang pemilik waktu.
“dret……dret…..klik ya bu.”
lagi-lagi perasaan ini berkecamuk, entah kenapa
ibu akhir-akhir ini begitu rajin menelphon atau aku yang sudah lama tidak
telphone, ah ada alasan mengapa aku tak sering menelphon seperti alasan semua
anak laki-laki, malu atau mungkin sibuk.
“ A, masih ada uang kan?”
“ada kenapa memangnya bu, ibu perlu uang ya?”
sesekali Iwan mengintipku yang tepat dihadapannya
“bukan barangkali aa gak ada uang nanti ibu
transfer buat aa pulang, kasian adik mu sudah lama tidak bertemu, ibu masih ada
ko simpanan dari kirimanmu bulan kemarin kalau sekedar buat ongkos mu pulang, pergi dan makan kamu dirumah.”
bukan itu ibuku sayang, bukan itu, sebenarnya
malu adalah faktor terkuat kenapa aku tidak pulang, tidak membawakan oleh-oleh
yang berarti, itu lebih berat mengalahkan rindu, ah tapi kujelaskan serinci
apapun ibu tidak akan mengerti, bahkan aku pun bingung memulainnya dari mana.
“ia
bu secepatnya Badrun Pulang nanti dikabari lagi.”
begitu percakapan itu berakhir seperti ada
jalan buntu dihadapanku, jalan yang tidak bisa ku lihat kedalaman jurangnya,
curam dan dalam,
“hey... Drun, melamun lagi, siapa tadi yang telepon nampaknya seperti suara seorang
wanita”
“ia
tadi ibuku wan,”
“oh….”
“eh
ia wan, kamu selalu pergi lebih awal dari jam istirahat memanggnya pergi kemana,
ko bisa tidak dimarahi atasan?”
“ah
itu, urusan penting teramat penting jika ditinggalkan, untuk masalah atasan ketika
kewajibanku padannya tidak tertunda rasannya sah-sah saja istirahat lebih dulu
ha….ha ya kan?”
“ia
sih,” Iwan tidak mau memberi tahu perihal mengapa ia selalu pergi lebih awal
ketika jam istirahat belum dimulai,
memang jam istirahat di kantorku agak lebih lama ketimbang kantor lainnya
sepertinya diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi penumpukan dijalan-jalan
atau berebut di warteg, kantin kantor… tukang mie ayam seberang jalan.
“ibuku
akhir-akhir ini memintaku pulang Wan, hah urusan jadi semakin ribet!”
“haha
sepertinya pemikiran setiap anak seperti itu, padahal yang diminta orang tua
hanya pulang,”
“ia
pulang itu bukan masalah pulangnya saja Wan, banyak yang lainnya,”
“ia, Drun aku mengerti,” ah rasa-rasanya Iwan hanya mencoba menenangkanku dengan
semua ini. “akupun sama manusia dan seorang anak, tapi terkadang aku berpikir
seberapa cepat sang pemilik waktu memanggil orang tuaku, yang tidak akan
terbayar dengan semua aktivitasku,”
“aku
sudah bosan mengeluh drun tidak ada hasilnya yang ada hanya menambah jalan
semakin buntu, terus menjalani dengan segala rencana yang sudah ada,” Iwan
seperti manusia lainnya menceramahi seperti manusia yang turun dari surga
kemudian bercerita bagaimana itu surga, dan aku belum bisa menaikinnya karena
banyak hal.
“ia
memang seperti itu bukannya manusia tidak jauh dari mengeluh wan,”
“ha…ha…ha….ha
bisa jadi drun!”
“oh
ia drun, besok aku berhenti bekerja di sini makannya aku traktir kamu makan
soto,”
“wah, dapet pekerjaan lebih baik ya?” huh pamer agar terlihat bisa keluar dan
mengatasi masalahnya.
“bukan
drun sudah 2 tahun terakhir ini aku menabung untuk memulai membuka usaha
kecil-kecilan di kampung, supaya waktuku lebih banyak dengan keluarga, dua
bulan lagi aku menikah sebisa mungkin kau datang ya drun,”
“ko
bisa wan, aku kira kamu pindah kerja seperti yang lainnya!”
“sebenarnya
ini permasalahan waktu drun, aku tidak mau hanya terus mengeluh dan waktu terus
berjalan aku coba membuat solusiku sendiri aku berpikir, waktu tidak pernah mau
mengalah pada siapapun maka kita harus lebih kuat darinnya, aku sudah terlalu
banyak kehilangan waktu bersama keluarga dan itu tidak mau aku teruskan aku
harus mengakhirinnya dengan gaya dan caraku sendiri begitu drun” wah sepertinya
jam makan siang sudah selesai ayo kita masuk kembali kekantor drun,” tangannya
merangkulku itulah rangkulan terakhir dari Iwan sebelum besok aku tidak lagi
melihat sosoknnya mejannya bersih tidak ada lagi tumpukan kertas belum ada yang
menggantikan posisinnya mungkin sampai bulan depan.
Desember
telah membawaku kembali sepanjang perjalanan aku menatapi jendela dengan
ratusan manusia setiap detiknnya, atau pohon-pohon yang tertanam rapih di tepi
jalan, bus mulai memacu kecepatannya menghadapi tanjakan dan liukan yang curam
kemudian berhenti digerbang tol karena macet yang cukup panjang selalu begitu.
Suara kelakson sudah tidak terbendung lagi, mengalahkan makian dari kernet bus
belum lagi pedagang asongan yang sibuk berteriak bercampur bau pesing, lamunanku
semakin panjang menikmati wajah ibu yang teduh membayangkan adikku menyambutku
dengan pertanyaan-pertannyaan lugunnya, mungkin dia sudah terlalu besar untuk
melakukan itu semua, tetapi tetap saja ia adiku.manusiapun akan punah jika
menyerah pada waktu, kata-kata iwan harus kubuktikan tertikam di tikam atau
menikam, lebih baik aku kembali bekerja agar waktu segera bergulir pulang
kemudian tidur.
*A’A =panggilan untuk seorang kakak dalam
sebuah keluarga
Kuningan 2015
Posting Komentar untuk "CERPEN:WAKTU"