CERPEN:CERITA SEORANG KAWAN
CERITA SEORANG KAWAN
Aku
mencoba melambaikan tanganku pada nelayan yang baru saja akan pergi mencari
ikan dan menukarkannya dengan berlembar-lembar uang, hidup memang keras tetapi
akan melunak jika kita memiliki teman bercerita. Daun telingaku mulai kupasang
rapih mendengarkan Topan yang bersungut-sungut menceritakan kisahnnya, ia
semakin meluap-luap jika itu bercerita tentang Ningsih perempuan Jawa yang baru
saja pindah menerobos batas tatar Pasundan. Topan mahluk yang senantiasa
mengagumi ningsih dari awal ia jumpa Ningsing gadis manis diantara
gadis-gadis lain di jurusan tetapi sedikitpun aku tidak tertarik padannya
mungkin karena keyakinanku bahwa aku tidak pantas atau tidak sepadan, terkadang
perasaan memiliki logikannya sendiri, biarlah Topan yang terus mengaguminnya,
walaupun orang tuannya begitu keras menentang pernikahan beda suku tetapi Kekaguman Topan pada Ningsih akan
terus begitu sampai sekirannya waktu mengijinkan mereka bersatu ataupun
berpisah.
Matahari
lembut mulai turun dari peraduan garis pantai yang mendesirkan ombak membentuk
gelombang-gelombang lucu yang berlarian, semua orang yang melihatnnya pasti
akan rindu pada apa saja yang ia rindukan langit mulai berwarna merah bercampur dengan warna kuning menyala mataku coba menembus tiap depa laut yang
tidak terukur jauh. Telingaku sudah siap mendengarkan bagaimana Topan
menceritakan kisahnnya karena selalu begitu jika kami berada di bibir pantai
sepertinnya hidup itu terlalu luas hingga baid-baid kata tidak sampai
menerjemahkannya masalalu memang selalu begitu timpal Topan.
“win apa yang kau rindukan hari
ini?” Topan memalingkanku dari titik pandang tak berujung
“ ah tidak ada sepertinnya aku
ingin menikmati bagaimana matahari terbenam saja pan,” kami memang pemuda
tanggung yang biasannya selalu memiliki topik pembicaraan, tema perempuan bagi kami selalu sangat menarik,
bukan sekedar liuk tubuh namun juga terjalnya pikiran mereka.
![]() |
| Foto Pribadi |
“ayo win giliranmu bercerita aku
sudah selesai!”
“heeem sepertinnya hari ini tidak
ada pan,” ketika topan mengatakan selesai dan aku mengatakan tidak ada cerita
Bab kedua mulai dibuka Topan akan memulainnya dengan cerita lain sekarang
siapa lagi biarlah yang penting aku menikmati lamunanku yang terus menerobos
jauh.
Topan
dan Ningsih memang manusia modern tetapi tidak dengan orang tua mereka yang
masih menjung-jung tinggi akar budaya, walaupun agama sudah memisahkan mana
klenik mana mitos mana haram mana halal tetap saja ketidak mampuan manusia
menolak leluhur tetap ada. Kisah ini dimulai lama sekali penghormatan pada
seorang putri yang terus di junjung tinggi oleh para wargannya namun semakin
waktu berputar unsur mitos menjadi kekuatan yang melebihi kesetiaan.
Tiba-tiba
berkelebat nama seorang di pikiranku nama dengan makna yang begitu indah cukup tiga
huruf namun mampu ku gambarkan dalam berlembar-lembar kertas Sri namannya
perempuan yang menjadi pacarku beberapa tahun lalu lekuk tubuhnnya yang begitu
indah, rambutnnya sedikit ikal kedua bola matannya sempurna, di
tambah bibir manis merah gelap ah sedang apa kau di sana Sayang rasannya sudah
lama tidak berjumpa. Tiga tahun sudah tidak berjumpa perempuan yang senantiasa
menungguku berpanas-panas saat aku sibuk mengurus perut orang-orang, dengan
berteriak-teriak diatas mobil pembangunan,pengangguran, penggusuran tetapi Sri
tidak pernah bergeming memandangku aku hafal betul saat dia katakan sudah
istirahat dulu kulitmu hampir terbakar matahari, kotak hijau berisi nasi dengan
ceker ayam selalu bersamannya menemaniku.
“sayang
sudah sore lebih baik kau pulang?”
“Tidak…
sampai ku pastikan kau pun pulang.” timpal Sri jika kusuruh pulang mukannya
nampak begitu lelah namun ia tidak pernah meninggalkanku, Sri tidak pernah ikut
dalam barisan ia perempuan yang bisa dikatakan sama dengan perempuan lain Mall,
pakaian, wangi, entah kenapa semenjak kenal denganku ia selalu ikut mengekor
dibelakang, ketika kutannyakan ia hanya menjawab seperluannya perempuan memang
rumit. Pernah ku tanyakan kau tidak berniat ikut dalam barisan dengan bengis ia
hanya mengatakan aku tidak tertarik, semakin membuatku bingung. Cantik, aku
hafal betul wangimu rambutmu kecupan saat kau melepas ku bersama barisan aksi.
Aku
coba mengingat bagaimana Sri mulai berada disampingku, ketika itu aku tertarik
pada perempuan lain yang sebenarnnya kawan dekatnnya Sri hanya aku bingung
harus berbicara pada siapa yang ku kenal disitu hanya Sri, karena Sri adik
temanku berapa kali sudah aku bertemu dengannya ia selalu menghidangkan teh
manis yang amat lembut jika aku berkunjung kerumahnnya untuk bermain, bukan Sri
tujuan utamaku saat itu, tidak pernah terbersit Sri mau menjadi kekasihku tidak
sopan jika aku harus mencintai adik dari seorang teman karib. Tetapi waktu
mengulur jauh kedekatanku dengan Sri semakin tidak terduga akhirnnya titik
focus ku alihkan, seperti memancing dengan dua kail ternyata Sri menerimaku,
aku pun heran mengapa seperti itu itulah perempuan sulit ditebak tidak pernah
ku ambil pusing.
Setelah
hari itu jalan-jalan yang basah semakin menambah romantis hari-hari ku bersama
Sri semakin indah Sri terus mengekor dengan kegiatanku, matahari yang terik
menjadi teduh ketika Sri sengaja melampar senyum padaku.
Matahari tengah begitu teriknnya jalanan semakin memanas terbakar matahari Sri masih tetap berada di tepi jalan di bawah pohon yang rindang sesekali aku sengaja melongoknnya memastikan dia masih berada di sampingku, aksi semakin hebat kota Jakarta sudah penuh dengan mahasiswa dari berbagai penjuru dengan warna Jas yang beragam bersatu dan berteriak, suara peluru sesekali memekik ke angkasa, suara ratusan anak manusia berlarian. Toko-toko terbakar habis ada kabar itu sabotase dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab mereka berseragam loreng. Ini bukan lagi sebuah aksi namun perang melawan senjata, kami hanya dibekali karton dan sesekali jika jengkel kami mencoba mencari kerikil untuk dilemparkan pada mereka yang berseragam lengkap.
Matahari tengah begitu teriknnya jalanan semakin memanas terbakar matahari Sri masih tetap berada di tepi jalan di bawah pohon yang rindang sesekali aku sengaja melongoknnya memastikan dia masih berada di sampingku, aksi semakin hebat kota Jakarta sudah penuh dengan mahasiswa dari berbagai penjuru dengan warna Jas yang beragam bersatu dan berteriak, suara peluru sesekali memekik ke angkasa, suara ratusan anak manusia berlarian. Toko-toko terbakar habis ada kabar itu sabotase dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab mereka berseragam loreng. Ini bukan lagi sebuah aksi namun perang melawan senjata, kami hanya dibekali karton dan sesekali jika jengkel kami mencoba mencari kerikil untuk dilemparkan pada mereka yang berseragam lengkap.
“Ayo Pulang!!” Sri meraih tanganku
dari kerumunan
“Kenapa Kau ini Sri!! tidak lihat
kami sedang berjuang memperjuangkan nasib bangsa kita yang hampir mati
kelaparan, nasib mu nasib ayahmu supaya bisa makan!!” dengan mata menggeliat dan
nada yang begitu keras aku mencoba meyakinkan Sri bahwa ini tidak akan sia-sia,
mungkin waktu itu Sri khawatir tetapi pikiranku tidak sempat sampai situ aku
terbawa emosi yang tumpah ruah di jalanan beberapa kawanku pergi mendahului
kami, karena peluru dan gedoran pistol atau tendangan kaki pantopel yang deras
menghantam kepala. Kurasa saat itulah semuannya bermula aku mulai merasa Sri
terlalu rewel dan lemah tidak mengerti apa yang sedang aku perjuangkan,
“Sri jika kau tidak mendukungku
lebih baik kau pergi!!!” entah apa yang kupikirkan saat itu perempuan yang setia
menungguiku sekejap saja ku teriaki dengan membabi buta, sedetikpun itu waktu
jika terlewati berarti sulit untuk kembali
“bukan begitu Win kau salah
sangka padaku,” air matannya meleleh turun menuju pelipis hanya itu yang
kuingat setelah itu Sri pergi bersama linangan Air mata yang ia bawa aku, aku
tidak peduli tujuanku harus tercapai ini adalah bentuk perjuangan, semenjak itu
aku tidak lagi melihatnnya dan perjuanganpun tidak mengerti berhasil atau
hambar aku kembali pulang namun dihatiku ada sesuatu yang kosong setelah
semuannya sepi, kesepian itu bertambah dua kalilipat, tubuhku mencari sesuatu
tempat dimana ia labuhkan lelahnnya, mulutku mencari telinga yang mendengarkan
keluh kesahku setelah lelah, hatiku tertusuk ranting-ranting rindu yang
menganga bukan hanya rindu kemenangan tetapi rindu pada Sri.
Tololnya
diriku telah meninggalkan Sri begitu saja, tetapi perjuangan perlu pengorbanan,
namun apakah Sri juga harus menjadi korban. Setelah semua ini berlalu aku coba
mencari Sri dan ingin menjelaskannya namun Sri tidak kunjung kujumpai, ia
memilih menghilang bersama suara teriakan aksi yang habis terkikis waktu, terdengar
kabar ia kembali kekampungnnya Tasikmalaya dan melanjutkan studi di sana
setelah itu menikah dengan saudagar kaya yang ia kenal semasa kuliahnnya. Semua
seperti berlalu meninggalkan bekas yang perih perjuangan yang belum tuntas
cinta yang kandas biarlah aku kembali dengan sejuta harapan, Pangandaran aku
kembali menepi di pantai yang kini mulai kusam. Biarlah kenangan ini menjadi
mutiara yang tersimpan rapih dalam hati aku yakin perpisahanku akan terus
terulang bersama kisah aksi yang kuterikan karena ini bukan sekedar perayaan
atau peringatan tetapi kembali berpikir dan tenang.
Matahari
mulai meninggalkan kami berdua, Topan pun sudah tidak bersuara lagi sepertinnya
ia memikirkan sesuatu dan terdiam panjang sampai matahari benar-benar tenggelam
langit berganti warna, menjadi abu-abu terang rembulan menyusul menghiasi warna
langit. Ah Sri bahagiakah engkau di sana Benar apa yang kau katakana lebih baik
aku pulang bersamamu pada akhirnnya hanya menyisakan kenangan, serta tumpukan
batu nisan yang membisu, kursi kursi yang dulu busuk sekarang semakin busuk.
Maafkan aku Sri telah menolak ikut pulang bersamamu aku ingin bahagia tanpa
pernah memikirkan kesalahan bodoh yang pernah kuperbuat kepadamu Sri.
Malaysia 2016
Malaysia 2016

good
BalasHapus